
- 3 hari lalu
Samsung resmi memperluas fitur Galaxy AI ke perangkat generasi sebelumnya melalui pembaruan One UI 8.5.

Hedra.ID, Beijing - Untuk pertama kalinya, robot humanoid berhasil menyelesaikan race lari lebih cepat dari rekor dunia yang dipegang manusia. Kejadian ini berlangsung di Beijing, Minggu (19/4/2026), di mana sebuah robot buatan Honor, perusahaan smartphone asal China, menuntaskan jarak half-marathon dalam waktu 50 menit 26 detik. Angka ini melampaui rekor dunia manusia yang sebelumnya dipegang pelari asal Uganda Jacob Kiplimo.
Namun jangan bayangkan lomba ini hanya soal satu robot berprestasi. Puluhan robot humanoid ikut bersaing di kategori khusus mereka. Berdasarkan laporan yang dirangkum dari NPR dan Reuters, sekitar 40% di antaranya berhasil bernavigasi secara mandiri tanpa kontrol eksternal sepanjang lomba. Ini bukan sekadar demonstrasi laboratorium, melainkan kompetisi nyata dengan medan yang tidak selalu bisa diprediksi.
Yang membuat pencapaian ini lebih mengejutkan adalah perbandingan dengan event yang sama tahun sebelumnya. Pada lomba marathon humanoid di Beijing tahun lalu, robot-robot yang ikut memerlukan waktu 2 jam 40 menit 42 detik untuk menyelesaikan jarak yang sama. Itu berarti terjadi pengurangan waktu hampir setengahnya dalam tempo satu tahun - sebuah akselerasi kemajuan yang sangat signifikan untuk sistem navigasi otonom dan perangkat keras robotika.
Perbaikan kecepatan semacam ini menunjukkan bahwa kemampuan robotika humanoid dalam hal keseimbangan, efisiensi energi, dan pengambilan keputusan secara real-time berkembang dengan kecepatan yang jauh melampaui ekspektasi banyak pengamat. Dari 2 jam 40 menit menjadi 50 menit 26 detik dalam satu tahun, perbandingan ini menunjukkan bahwa kurva pembelajaran di sektor robotika humanoid tidak linear melainkan eksponensial.
Event marathon ini bukan berdiri sendiri. Lomba ini merupakan bagian dari rencana Lima Tahun Beijing untuk memimpin di bidang sains dan teknologi, termasuk pengembangan robot humanoid secara agresif. China secara terang-terangan memposisikan diri sebagai negara yang ingin mendominasi generasi berikutnya dari teknologi robotika, dan event seperti ini menjadi platform untuk menunjukkan kemajuan secara komparatif.
Prestasi ini memang mengesankan, tapi ada batas-batas yang perlu dicatat. Demonstrasi kemampuan dalam kondisi lomba tetap berbeda dengan operasional harian di lingkungan yang kurang terkontrol.
Pada trek lari robot humanoid tersebut, medannya sudah ditentukan, pencahayaannya terkontrol, dan tidak ada interaksi dengan manusia yang tidak kooperatif. Jarak dari menyelesaikan marathon di trek khusus menuju bekerja delapan jam di pabrik dengan tingkat kegagalan yang bisa ditoleransi masih merupakan lompatan yang tidak kecil.
Bagi pengamat industri, yang perlu dicermati adalah apakah kecepatan perbaikan akan berlanjut, atau apakah ada batas teknis yang akan membatasi performanya. Bagi konsumen biasa, pencapaian ini terpenting sebagai penanda bahwa robotika humanoid semakin dekat dengan aplikasi di dunia nyata, meskipun implementasi komersialnya masih perlu menunggu.