- 8.8/10 (12 Reviews)

- 6 bulan lalu
Qualcomm mengakuisisi Arduino, perusahaan hardware asal Italia, untuk memperkuat posisinya di sektor robotika dan IoT. Simak detail dan dampaknya.

California, Hedra.ID - Pada 2016 silam, Apple menghapus lubang konektor headphone dari iPhone. Kala itu, banyak yang memprediksi bahwa perangkat berkabel akan segera menghilang. Nyatanya, penjualan earphone dan headphone berkabel justru melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut data dari firma analitik Circana, penjualan perangkat berkabel melonjak signifikan pada paruh kedua 2025, dengan pendapatan tumbuh 20% di awal 2026. Lonjakan ini terjadi setelah lima tahun berturut-turut mengalami penurunan.
Alasan utama kembalinya perangkat berkabel adalah soal kualitas suara. Headphone berkabel dinilai lebih unggul dibanding earbud Bluetooth di kelas harga menengah yang sama. Transmisi data secara digital melalui Bluetooth masih mengalami kompresi, sementara kabel mentransmisikan sinyal analog yang lebih kaya detail.
Bagi pecinta musik yang serius, perbedaan ini cukup terasa. Mereka rela menggunakan perangkat berkabel demi pengalaman mendengarkan yang lebih memuaskan. Suara yang dihasilkan lebih jernih, bass lebih dalam, dan detail lebih tajam.
Selain kualitas suara, ketiadaan baterai menjadi daya tarik utama. Pengguna tidak perlu khawatir perangkat mendadak mati saat digunakan. Colok dan langsung menyala, sesederhana itu.
Meskipun kepraktisan adalah keunggulan utama Bluetooth, realitanya tidak selalu mulus. Earbud Bluetooth mudah hilang karena ukurannya yang kecil. Baterai juga aus setelah pemakaian dua hingga tiga tahun.
Masalah koneksi juga kerap terjadi. Kadang salah satu earbud tidak mau tersambung, atau proses pairing Bluetooth gagal total. Situasi seperti ini sangat mengganggu terutama saat sedang terburu-buru. Jarak perangkat juga menjadi batasan. Cukup berjalan beberapa meter dari ponsel, audio langsung terputus atau mengalami jeda.
Earphone berkabel tidak memiliki masalah seperti ini. Tidak ada baterai yang aus, tidak ada risiko kehilangan salah satu sisi, dan koneksi tetap stabil selama kabel masih berfungsi. Jarak bukan masalah bagi pengguna berkabel, selama perangkat masih terhubung dengan jack audio.
Yang menarik, earphone berkabel kini menjadi tren fashion. Aktris Zoe Kravitz, Ariana Grande, dan Charli XCX terlihat menggunakan earphone berkabel di berbagai kesempatan. Foto Robert Pattinson dan Lily-Rose Depp dengan earbud berkabel ramai dibicarakan di media sosial.
Akun Instagram bernama Wired It Girls mempertegas tren ini. Mereka memperkenalkan earphone berkabel sebagai aksesori yang stylish sekaligus praktis, bukan barang usang yang ditinggalkan.
Di media sosial, warganet membahas bahwa mengenakan perangkat nirkabel sepanjang waktu memberi kesan tidak menapak tanah. Earphone berkabel justru memberikan kesan yang lebih menarik dan modis.
Apple adalah perusahaan yang menghapus jack headphone pada 2016. Namun, Apple tetap menjual EarPods berkabel sampai sekarang. CEO Tim Cook pernah mengakui bahwa permintaan terhadap perangkat berkabel masih signifikan dan tidak bisa diabaikan.
Kebanyakan ponsel masa kini tidak lagi menyediakan lubang jack 3,5mm. Pengguna perlu menggunakan dongle atau langsung membeli earphone berkabel dengan colokan USB-C. Adaptor tambahan ini justru membuat penggunaan semakin ribet dan mahal.
Kembalinya earphone berkabel adalah bagian dari fenomena yang lebih luas. Teknologi analog lain seperti DVD, kaset, TV tabung, hingga mesin tik mulai dicari kembali oleh konsumen yang mulai kelelahan dengan kompleksitas teknologi digital.
Bagi konsumen Indonesia, tren ini sangat relevan. Penggunaan earphone dan headphone sudah menjadi bagian keseharian untuk commute, gym, kerja, hingga gaming. Pasar audio Indonesia sangat besar dan sensitif terhadap tren global. Banyak pengguna lokal yang selama ini frustrasi dengan earbud Bluetooth yang susah tersambung atau baterai cepat habis di tengah aktivitas padat.
Di komunitas audio Indonesia, perdebatan wired versus wireless sudah lama berakhir. Banyak audiophile yang menyatakan kualitas suara sebagai prioritas utama, dan perangkat berkabel selalu menang dalam perbandingan langsung. Bahkan di kalangan pengguna biasa, kesadaran akan kualitas audio mulai meningkat seiring dengan populernya platform streaming musik berkualitas tinggi.
Teknologi tidak selalu berjalan lurus ke depan. Kadang, kembali ke sesuatu yang sudah teruji adalah langkah paling bijak.