- 8.8/10 (12 Reviews)

- 10 hari lalu
Oracle dilaporkan melakukan PHK ribuan karyawan saat masih mengajukan ribuan visa kerja H-1B. Langkah ini memicu kritik dan sorotan di industri teknologi.

Hedra.ID, Jakarta - Indonesia dan Inggris resmi menandatangani perjanjian pendanaan untuk empat proyek penurunan emisi karbon. Penandatanganan dilakukan di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (14/4/2024), menandai bahwa kerja sama iklim kedua negara kini memasuki fase aksi nyata.
Total dana yang dialirkan mencapai Rp20,33 miliar. Angka ini tergolong besar, namun perlu dicatat bahwa ini merupakan tahap awal dari proses panjang yang diharapkan bisa berkembang menjadi investasi jauh lebih besar.
Dari 283 proposal yang diajukan dengan total nilai mencapai Rp1,59 triliun, terpilih empat proyek untuk pendanaan tahap awal. Keempatnya mencakup bidang yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Pertama, proyek pengelolaan sampah yang bertujuan mengurangi limbah yang berakhir di TPA. Kedua, budidaya udang berbasis energi surya yang mengurangi jejak karbon dari sektor perikanan. Ketiga, pengolahan rempah berkelanjutan yang mendukung hilirisasi rempah nasional. Keempat, dekarbonisasi pertanian padi yang merupakan sumber emisi metana yang signifikan.
Masing-masing proyek memiliki karakteristik unik yang mencerminkan kebutuhan riil di lapangan. Bukan sekadar teori, melainkan menyentuh sektor-sektor yang benar-benar menghasilkan emisi.
Istilah "valley of death" dalam inovasi iklim mungkin terdengar seperti jargon. Namun, konsep di baliknya sangat nyata. Inovasi membutuhkan waktu dan dana untuk berkembang dari tahap riset menjadi komersial. Banyak inovasi menjanjikan yang mati di tengah jalan karena kekurangan pendanaan.
LCDI-ITF (Low Carbon Development Initiative-Investment Transition Fund) hadir untuk menjembatani gap tersebut. Program ini memberikan dukungan finansial di fase kritis ketika inovasi sudah melewati riset awal tetapi belum bisa berdiri sendiri secara komersial.
Kemitraan strategis Indonesia–Inggris yang sudah terjalin sejak 2017 ini mendorong pembangunan berbasis bukti, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui LCDI-ITF, kolaborasi tersebut diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui pembiayaan inovatif, penguatan kelembagaan, serta percepatan solusi iklim yang dapat direplikasi.
“Ini bukan sekadar seremonial, tetapi kulminasi dari upaya bersama. Innovation and Technology Fund menjadi bentuk bagaimana kebijakan dan perencanaan dapat diimplementasikan untuk menciptakan dampak nyata bagi pembangunan rendah karbon di Indonesia,” ujar Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto menekankan bahwa fokus utama terletak pada implementasi. “Yang terpenting adalah implementasinya. Melalui skema ini, kami ingin membantu inovasi melewati ‘valley of death’ agar dapat berkembang dan memberikan dampak nyata,” jelas Direktur Joko.
Sementara itu, Minister Counsellor (Development) Kedutaan Besar Inggris Peter Rajadiston menegaskan pentingnya dampak sosial dari solusi iklim. Pihaknya melihat bahwa solusi iklim yang efektif harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Oleh karena itu, LCDI-ITF mendorong pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penurunan emisi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja hijau, serta penguatan ketahanan komunitas,” ujar Peter.
Meskipun pendanaan sudah tersedia, tantangan sesungguhnya ada pada eksekusi. Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto, memberikan peringatan penting bahwa koordinasi dan kapasitas lokal adalah kunci.
Agar dana ini benar-benar efektif, setiap proyek harus memiliki dampak yang terukur dan mampu bertahan secara ekonomi setelah masa pendanaan berakhir. Fokus utama tahun 2026 ini adalah memastikan setiap rupiah yang dikucurkan mampu menghasilkan transformasi nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di garda terdepan.
Hingga 2024, Indonesia sudah mencatat potensi penurunan emisi sebesar 30,36% melalui lebih dari 29.000 aksi lintas sektor. Angka ini menunjukkan transformasi sedang berjalan, meskipun tantangannya masih kompleks.