- 8.8/10 (12 Reviews)

- 4 hari lalu
Kementerian Komunikasi dan Digital membentuk tim khusus untuk menyelidiki pelaksanaan Indonesian Game Rating System secara objektif dan menyeluruh.

Hedra.ID, Jakarta - Lazada kembali menggandeng Nestlé dalam ajang Regional Super Brand Day 2026 yang digelar pada 23 April di lima pasar Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Kolaborasi ini bukan hal baru. Namun kali ini ada sisi yang lebih menarik dari sudut pandang teknologi, yaitu mulai masuknya pengalaman belanja berbasis AI ke dalam kampanye tersebut.
Di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, Lazada mulai memasukkan asisten belanja AI miliknya, LazzieChat, ke toko resmi Nestlé tertentu. Fitur ini ditujukan untuk membantu pengguna bertanya langsung soal produk saat sedang membuka halaman belanja di aplikasi.
Langkah ini menarik karena menunjukkan arah baru yang mulai diambil platform e-commerce. AI tidak lagi hanya bekerja di belakang layar untuk rekomendasi atau iklan, tetapi mulai hadir langsung di titik interaksi dengan pengguna.
“Melalui kolaborasi dengan Nestlé, kami menggabungkan produk-produk tepercaya dengan pengalaman brand yang imersif dan bermakna berkat kapabilitas berbasis AI untuk menghadirkan perjalanan belanja yang lebih interaktif dan intuitif bagi pelanggan di seluruh kawasan,” Amelia Tediarjo, Head of Business Growth & Operations Lazada Indonesia melalui keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Kamis (23/4/2026).
Dalam kolaborasi ini, LazzieChat tersedia pada sejumlah produk Nestlé pilihan. Pengguna bisa menekan ikon AI Lazzie lalu mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi produk lebih jauh.
Pendekatan seperti ini terasa relevan. Pada kategori seperti nutrisi anak, konsumen memang kerap dihadapkan pada banyak pilihan, istilah, dan klaim yang tidak selalu mudah dipahami dalam sekali lihat.
Karena itu, format percakapan bisa terasa lebih membantu dibanding hanya membaca deskripsi produk yang panjang. Pengguna tidak perlu bolak-balik mencari informasi tambahan di luar aplikasi.
Bagi Lazada, ini menjadi cara untuk membuat proses menemukan produk terasa lebih praktis. Sementara bagi brand seperti Nestlé, integrasi ini membuka ruang interaksi yang lebih dekat dengan calon pembeli tanpa sepenuhnya bergantung pada materi promosi biasa.
Meski begitu, nilai praktis fitur seperti ini tetap bergantung pada kualitas jawabannya. Dalam bahan yang dibagikan, Lazada menyebut LazzieChat dirancang agar pengalaman belanja terasa lebih intuitif, personal, dan interaktif.
Masalahnya, klaim itu masih terdengar umum. Belum banyak penjelasan soal seberapa jauh AI ini benar-benar bisa membantu, bagaimana jawaban disusun, atau batas informasi yang dapat diberikan kepada pengguna.
Hal ini penting karena kategori yang disentuh adalah nutrisi anak. Di area seperti ini, kejelasan dan akurasi informasi jauh lebih penting daripada sekadar pengalaman belanja yang terasa canggih.
Jadi, kehadiran AI memang membuat kampanye ini lebih menarik dari sisi teknologi. Namun manfaatnya bagi konsumen baru akan terasa jika fitur tersebut mampu memberi jawaban yang jelas, relevan, dan tidak membingungkan.
Selama ini, Super Brand Day identik dengan promo, potongan harga, dan dorongan penjualan jangka pendek. Tambahan AI membuat format itu mulai bergeser.
Kampanye belanja kini tidak hanya bicara soal harga, tetapi juga soal bagaimana platform membantu pengguna memahami produk sebelum membeli. Pergeseran ini patut dicermati karena bisa memberi gambaran ke mana e-commerce akan bergerak berikutnya.
Jika implementasinya berjalan baik, model seperti ini bisa meluas ke kategori lain yang juga butuh banyak pertimbangan sebelum dibeli, seperti kebutuhan bayi, produk kesehatan, atau keperluan rumah tangga.
Artinya, AI di e-commerce tidak berhenti sebagai fitur tempelan. Ia mulai dipakai untuk memengaruhi cara orang mencari informasi dan mengambil keputusan saat belanja.
Untuk saat ini, kolaborasi Lazada dan Nestlé masih terlihat sebagai tahap awal yang dibungkus dalam momentum kampanye regional. Meski begitu, langkah ini memberi sinyal bahwa persaingan platform belanja ke depan mungkin tidak hanya soal logistik, promo, dan katalog, tetapi juga soal siapa yang bisa membuat pengalaman belanja terasa lebih membantu.