
- 10 hari lalu
Permintaan memori untuk pusat data AI menekan pasokan komponen smartphone, menaikkan harga, dan mempersempit pilihan perangkat murah.

Hedra.ID, Jakarta - Dua kandidat bisa memiliki pendidikan, pengalaman, dan kompetensi bidang yang hampir sama. Ketika perbedaannya tipis, kemampuan menggunakan kecerdasan buatan mulai muncul sebagai salah satu pembeda.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menggambarkan situasi itu melalui perekrutan tenaga akuntansi. Ketika dua orang memiliki kompetensi akuntansi yang sebanding, menurut dia, perusahaan dapat mempertimbangkan siapa yang lebih menguasai AI. Pernyataan tersebut disampaikan saat pembukaan AI Career Boost Day 2026 di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Contoh itu belum membuktikan bahwa semua perusahaan telah menjadikan AI sebagai syarat rekrutmen. Namun, ia memperlihatkan bertambahnya satu lapisan dalam penilaian kandidat. Kompetensi bidang tetap menjadi dasar, sedangkan keterampilan AI mulai diposisikan sebagai nilai tambah.
Keterampilan AI dalam konteks ini tidak selalu berarti kemampuan membuat model atau membangun sistem teknis. Yassierli mengatakan kemampuan tersebut dapat dipelajari oleh orang di luar bidang teknik komputer dan dibutuhkan di berbagai jenis pekerjaan.
"Saya sebelum jadi menteri banyak menjadi konsultan, lebih di 50 perusahaan. Bagi saya sekarang no choice. Ada dua orang sama-sama punya kompetensi sebagai akuntansi, pasti pertanyaan saya adalah siapa yang lebih menguasai AI," kata Yassierli.
Posisi AI karena itu lebih dekat dengan kecakapan pendamping. Seorang akuntan tetap harus memahami akuntansi. Penulis tetap perlu menilai informasi dan menyusun argumen. Staf layanan pelanggan tetap membutuhkan pemahaman produk dan kemampuan berkomunikasi.
Alat baru menjadi bernilai ketika digunakan bersama kompetensi tersebut. Tanpa pemahaman bidang, kemampuan menjalankan AI belum cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang mampu mengambil keputusan yang tepat dalam pekerjaannya.
Dari sini, keterampilan AI dapat dibaca sebagai salah satu sinyal kesiapan beradaptasi dengan perubahan alat dan alur kerja. Bahan yang tersedia, bagaimanapun, belum menjelaskan bagaimana perusahaan menguji kemampuan itu atau standar apa yang mereka gunakan dalam seleksi.
Sinyal serupa telah muncul dalam survei perekrutan pada 2024. Menurut lpaparan Microsoft dan LinkedIn, 69% pemimpin perusahaan di Indonesia mengatakan tidak akan merekrut kandidat tanpa keterampilan AI. Sebanyak 76% disebut lebih memilih kandidat yang kurang berpengalaman tetapi memiliki keterampilan AI dibandingkan kandidat lebih berpengalaman tanpa kemampuan tersebut.
Dalam hasil globalnya, Work Trend Index 2024 menemukan pola yang searah: 66% pemimpin mengatakan tidak akan merekrut orang tanpa keterampilan AI, sedangkan 71 persen lebih memilih kandidat kurang berpengalaman yang memiliki kemampuan AI. Survei global itu melibatkan 31.000 pekerja pengetahuan di 31 pasar, termasuk Indonesia.
Laporan Mercer | Mettl pada tahun yang sama juga menyebut 75% perusahaan responden di Indonesia menganggap AI penting dalam proses perekrutan. Survei tersebut dilakukan terhadap lebih dari 750 profesional SDM dari lebih dari 20 industri.
Angka-angka tersebut menunjukkan perhatian perekrut terhadap keterampilan AI, tetapi bukan gambaran menyeluruh mengenai seluruh lowongan kerja di Indonesia pada 2026. Survei merekam sikap dan prioritas responden. Data itu belum menunjukkan seberapa sering keterampilan AI benar-benar diuji atau seberapa besar pengaruhnya terhadap keputusan akhir perekrutan.
Masuknya AI ke dalam pembicaraan rekrutmen tidak mengurangi pentingnya kemampuan lain. Yassierli menekankan perlunya menyeimbangkan keterampilan AI dengan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, empati, dan pengambilan keputusan.
Penekanan tersebut membuat makna keterampilan AI menjadi lebih spesifik. Nilainya tidak berhenti pada kemampuan membuka alat atau mencantumkan nama aplikasi di dalam CV. Keterampilan itu menjadi lebih relevan ketika terhubung dengan kompetensi bidang dan tetap disertai penilaian profesional.
Perubahan yang terlihat bukan penggantian kompetensi lama oleh satu kemampuan baru. Rekrutmen mulai menambahkan pertanyaan lain: selain mampu mengerjakan tugas, apakah kandidat juga siap bekerja dengan alat yang mengubah cara tugas tersebut diselesaikan?
Sumber yang tersedia belum cukup untuk menyebut pertanyaan itu telah menjadi standar di seluruh perusahaan. Namun, ketika kompetensi dasar antarkandidat relatif sebanding, kemampuan menggunakan AI mulai mendapat tempat sebagai salah satu pembeda.