- 8.8/10 (12 Reviews)

- sebulan lalu
Permintaan memori untuk pusat data AI menekan pasokan komponen smartphone, menaikkan harga, dan mempersempit pilihan perangkat murah.

Hedra.ID, Beijing - Bisnis smartphone Xiaomi menghadapi tekanan cukup berat pada kuartal II 2026. Pengiriman ponsel secara global turun 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun di tengah penurunan volume tersebut, harga jual rata-rata smartphone Xiaomi justru naik hampir 26% dan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan Xiaomi untuk periode April–Juni 2026, perusahaan mengirimkan 31,2 juta smartphone, turun dari 42,4 juta unit pada kuartal II 2025. Pendapatan bisnis smartphone juga ikut turun 7,5% secara tahunan, dari RMB45,5 miliar menjadi RMB42,1 miliar atau sekitar Rp111,1 triliun. Sebagai perbandingan, pendapatan RMB45,5 miliar pada tahun sebelumnya setara sekitar Rp120 triliun.
Adapun penurunan pendapatan yang jauh lebih kecil dibandingkan volume pengiriman terjadi karena Xiaomi berhasil menaikkan average selling price atau ASP menjadi RMB1.351 per unit, meningkat 25,9% dari RMB1.073,2 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dikonversi, harga jual rata-rata smartphone Xiaomi kini sekitar Rp3,56 juta per unit, naik dari sekitar Rp2,83 juta setahun sebelumnya.
Kenaikan harga jual rata-rata bukan sekadar akibat harga komponen yang semakin mahal. Xiaomi memang sedang mendorong strategi premiumisasi, dengan memperbesar kontribusi smartphone kelas menengah atas dan premium.
Di China, smartphone Xiaomi dengan harga ritel mulai RMB3.000 menyumbang 32,1% dari total unit yang terjual pada kuartal II 2026 atau sekitar Rp7,9 juta.. Kontribusi segmen tersebut meningkat 4,5 poin persentase dibandingkan tahun lalu sekaligus menjadi rekor baru bagi perusahaan.
Xiaomi menyebut kenaikan ASP juga didorong komposisi produk yang lebih baik dan peningkatan harga jual di pasar internasional. Strateginya cukup jelas. Ketika biaya membuat smartphone murah semakin tinggi, menjual lebih banyak perangkat bernilai tinggi dapat membantu perusahaan mempertahankan pendapatan meski jumlah unit yang dikirim berkurang.
Namun, strategi tersebut belum sepenuhnya melindungi profitabilitas. Margin kotor bisnis smartphone Xiaomi turun menjadi 8,5%, dibandingkan 11,5% setahun sebelumnya. Xiaomi menyebut kenaikan harga komponen utama sebagai salah satu penyebabnya.
Tekanan yang dialami Xiaomi juga terjadi di industri smartphone secara lebih luas. Kenaikan harga memori dan tekanan rantai pasok membuat banyak produsen harus menaikkan harga, mengurangi produksi smartphone murah, atau mengubah komposisi produknya.
Xiaomi termasuk yang cukup terdampak karena selama ini memiliki eksposur besar terhadap segmen entry-level dan mid-range. Dalam laporan keuangannya, perusahaan ini juga secara langsung menyebut industri smartphone menghadapi tekanan akibat kenaikan signifikan biaya memori. Pihaknya kemudian merespons dengan mengoptimalkan portofolio produk, strategi harga, dan jadwal pengiriman.
Meski mengalami penurunan besar, posisi Xiaomi di pasar global belum berubah drastis. Perusahaan masih berada di antara tiga vendor smartphone terbesar dunia. Di Asia Tenggara, posisi Xiaomi juga relatif kuat dengan pangsa pengiriman sekitar 19,3% pada kuartal tersebut.
Artinya, penurunan volume Xiaomi tidak hanya bisa dibaca sebagai melemahnya posisi merek. Kondisi tersebut juga mencerminkan tekanan pasar smartphone global sekaligus perubahan strategi Xiaomi menuju produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Tekanan pada smartphone juga memperlihatkan semakin pentingnya bisnis lain bagi Xiaomi. Secara keseluruhan, pendapatan Xiaomi pada kuartal II 2026 mencapai RMB108,9 miliar, atau sekitar Rp287,3 triliun. Adjusted net profit tercatat RMB6,2 miliar atau sekitar Rp16,4 triliun.
Sementara itu, bisnis kendaraan listrik, AI, dan inisiatif baru menghasilkan pendapatan RMB24,9 miliar, setara sekitar Rp65,7 triliun. Dari angka tersebut, pendapatan kendaraan listrik mencapai RMB23,9 miliar atau sekitar Rp63 triliun.
Perubahan ini menunjukkan Xiaomi semakin memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada smartphone. Untuk bisnis ponsel, ceritanya justru semakin menarik. Xiaomi kini menjual lebih sedikit smartphone, tetapi nilai rata-rata setiap perangkat yang terjual semakin tinggi.
Strategi tersebut dapat membantu perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap smartphone murah. Tantangannya adalah memastikan kenaikan harga tidak menghilangkan salah satu daya tarik utama Xiaomi selama ini: menawarkan spesifikasi kompetitif dengan harga yang masih terasa masuk akal bagi konsumen.