
- 2 hari lalu
Kasus fitur AI Meta menunjukkan perbedaan penting antara membuat foto Instagram terlihat publik dan membiarkan konten itu dipakai sebagai referensi generatif.

Hedra.ID, Jakarta - Pengiriman smartphone global dikabarkan turun 11% pada kuartal kedua 2026, berdasarkan estimasi awal Counterpoint Research yang dikutip Reuters, Senin (13/7/2026). Volumenya menjadi yang terendah untuk periode kuartal kedua sejak 2013.
Penurunan ini bukan hanya soal permintaan yang melemah. Di belakangnya, ada tekanan dari rantai pasok memori, komponen yang menentukan kapasitas RAM dan penyimpanan sebuah ponsel.
Ketika harga memori naik, produsen smartphone harus menentukan bagian mana yang akan menanggung bebannya. Mereka bisa menaikkan harga, mengubah konfigurasi perangkat, mengurangi produksi, atau menerima margin yang lebih tipis. Pada ponsel kelas menengah, ruang untuk memilih biasanya lebih sempit.
Tekanan tersebut berawal dari tingginya kebutuhan infrastruktur AI. Pusat data memerlukan lebih banyak DRAM untuk menjalankan server dan NAND untuk menyimpan data. Di tengah permintaan itu, produsen memori semakin mengarahkan kapasitas dan pasokan ke produk server serta pusat data yang menawarkan nilai lebih tinggi.
Ini bukan berarti chip yang sebelumnya disiapkan untuk smartphone langsung dipindahkan ke server AI. Produk dan spesifikasinya bisa berbeda. Namun, keduanya tetap bergantung pada kapasitas pabrik, investasi, bahan baku, dan keputusan produksi dari kelompok pemasok yang sama.
Saat kapasitas lebih banyak diprioritaskan untuk HBM, server DRAM, atau enterprise SSD, pertumbuhan pasokan bagi perangkat konsumen ikut terbatas. Produsen smartphone akhirnya harus mendapatkan mobile DRAM dan penyimpanan NAND dari pasar yang semakin ketat.
TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional naik 58–63% secara kuartalan pada kuartal kedua 2026. Pada periode yang sama, harga kontrak NAND Flash diperkirakan meningkat 70–75%. Lembaga riset itu juga mencatat bahwa merek smartphone mulai menghadapi tekanan untuk menyesuaikan rencana produksi.
Kenaikan harga komponen tidak membebani semua perangkat dengan cara yang sama. Pada ponsel premium, biaya memori hanya menjadi salah satu bagian dari harga jual yang jauh lebih tinggi. Merek juga memiliki ruang lebih besar untuk menyerap sebagian kenaikan atau meneruskannya kepada konsumen.
Situasinya berbeda pada perangkat entry-level dan kelas menengah. TrendForce memperkirakan biaya konfigurasi RAM 8 GB dan penyimpanan 256 GB pada awal 2026 hampir tiga kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya. Porsi memori yang semula sekitar 10–15% dari total biaya komponen disebut meningkat menjadi 30–40%.
Dengan porsi sebesar itu, kenaikan biaya memori semakin sulit ditutup melalui penghematan kecil pada komponen lain. Memangkas RAM atau penyimpanan juga bukan keputusan ringan karena keduanya menjadi bagian penting dari konfigurasi yang ditawarkan kepada pembeli.
Produsen kemudian berhadapan dengan beberapa pilihan yang sama-sama membawa konsekuensi. Harga bisa dinaikkan, tetapi permintaan berisiko melemah. Kapasitas memori dapat dikurangi, tetapi produk menjadi kurang kompetitif. Produksi juga bisa dibatasi, sedangkan mempertahankan harga dan spesifikasi berarti menerima margin yang lebih kecil.
Data kuartal kedua menunjukkan bahwa tekanan itu tidak tersebar merata. Reuters melaporkan Xiaomi, OPPO, dan Vivo mencatat penurunan pengiriman paling tajam di antara lima produsen terbesar, sejalan dengan paparan mereka yang lebih besar terhadap perangkat entry-level dan kelas menengah.
Di sisi lain, pengiriman Apple naik 3% dan pangsa pasarnya mencapai 20%. Samsung kembali memimpin dengan pangsa 24%, antara lain ditopang penjualan lini flagship dan ketersediaan produk yang lebih baik.
Perbedaan tersebut belum membuktikan bahwa kelangkaan memori menjadi satu-satunya penyebab perubahan pangsa pasar. Namun, hasilnya memperlihatkan bahwa komposisi produk ikut menentukan kemampuan sebuah merek menghadapi kenaikan biaya.
Merek yang bertumpu pada perangkat premium mempunyai bantalan harga dan margin lebih besar. Sebaliknya, merek yang mengejar volume melalui perangkat terjangkau harus menjaga harga tetap dekat dengan kemampuan belanja konsumennya. Kenaikan biaya yang sama karena itu dapat menghasilkan tekanan bisnis yang berbeda.
Micron memperkirakan kebutuhan DRAM dan NAND untuk pusat data pada 2026 akan mencapai lebih dari dua kali volumenya dua tahun sebelumnya. Perusahaan itu juga menilai kondisi pasokan dan permintaan akan tetap ketat setelah 2027. Karena berasal dari produsen memori, perkiraan tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai outlook perusahaan.
Bagi pasar smartphone, persoalannya bukan hanya apakah harga rata-rata akan naik. Kelangkaan memori juga dapat mengubah kombinasi produk yang tersedia: jumlah model pada rentang harga tertentu bisa berkurang, konfigurasi pada harga lama dapat diturunkan, atau perangkat dengan spesifikasi serupa dijual lebih mahal.
Data yang tersedia belum menunjukkan pilihan mana yang akan diambil setiap merek atau seberapa besar dampaknya di Indonesia. Namun, mekanisme tekanannya sudah terlihat. Persaingan membangun pusat data AI kini ikut memengaruhi biaya komponen pada perangkat yang digunakan konsumen sehari-hari.
Ponsel kelas menengah berada di posisi paling terjepit karena harus menawarkan spesifikasi yang tetap kompetitif tanpa memiliki ruang harga seluas perangkat premium. Ketika memori menjadi semakin mahal, keseimbangan itu semakin sulit dipertahankan.