- 8.8/10 (12 Reviews)

- 12 hari lalu
Google resmi menghadirkan Google Meet di Apple CarPlay. Pengguna kini bisa ikut meeting audio-only dari mobil dan melihat jadwal rapat langsung di dashboard.

Hedra.ID, Jakarta - Hikari (Shanghai) Precise Machinery Science & Technology Co., Ltd resmi menghadirkan mesin jahit berbasis artificial intelligence (AI) di Indonesia, sebuah langkah yang dinilai dapat mendorong kualitas dan efisiensi produksi tekstil nasional.
Peluncuran perdana dilakukan di Semarang, sekaligus diperkenalkan ke publik melalui ajang industri tekstil Indo Intertex 2026 yang berlangsung pada 15–18 April 2026 di Jakarta.
Mesin jahit terbaru dari Hikari tidak lagi sekadar alat produksi, melainkan bagian dari sistem manufaktur cerdas. Dibekali teknologi AI, mesin ini mampu mendeteksi kesalahan jahitan secara otomatis, menyesuaikan pengaturan berdasarkan jenis kain, hingga menjaga konsistensi hasil produksi dalam skala besar.
Dengan kemampuan tersebut, proses produksi menjadi lebih presisi dan minim kesalahan, dua faktor yang sangat krusial dalam industri garmen. Menurut Direktur Hikari, Wu Liang Jie, inovasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan industri yang semakin menuntut kualitas tinggi namun tetap efisien secara biaya.
"Dalam produk ini dikontrol oleh kecerdasan buatan, yang menghasilkan produk yang jauh lebih bagus. Solusi AI mampu menghasilkan berbagai produk ‘premium sekaligus terjangkau’, serta menghemat biaya teknis untuk mentransformasi mesin jahit konvensional,” ujarnya lewat keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Jumat (17/4/2026).
Salah satu keunggulan utama dari mesin jahit berbasis AI ini adalah kemampuannya menekan biaya operasional. Alih-alih mengganti seluruh lini produksi, teknologi ini memungkinkan transformasi dari mesin konvensional ke sistem yang lebih modern dengan investasi yang lebih terukur.
Hasilnya, produsen garmen dapat menghasilkan produk dengan kualitas premium tanpa harus meningkatkan biaya produksi secara signifikan.
Indonesia dipilih sebagai salah satu lokasi peluncuran awal bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, industri tekstil dan garmen nasional menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Data dari berbagai laporan industri menunjukkan sektor ini masih menjadi salah satu penyumbang ekspor non-migas yang penting bagi Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki tenaga kerja besar di sektor manufaktur, sehingga adopsi teknologi seperti AI berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas.
Secara global, penggunaan AI di industri manufaktur semakin meningkat. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk otomatisasi, tetapi juga untuk meningkatkan akurasi, efisiensi, dan kontrol kualitas. Masuknya teknologi ini ke Indonesia menandakan bahwa industri garmen lokal mulai bergerak menuju smart manufacturing, sebuah konsep produksi yang lebih terintegrasi dan berbasis data.