- 8.8/10 (12 Reviews)

- 10 hari lalu
Beijing mulai membatasi ekspor teknologi canggih ke Amerika Serikat. Kali ini sasarannya adalah industri panel surya

Hedra.ID, Beijing - China secara resmi memblokir akuisisi startup kecerdasan buatan Manus oleh Meta senilai US$2 miliar. Keputusan ini diambil oleh National Development and Reform Commission dengan merujuk kekhawatiran keamanan nasional.
Menurut laporan Forbes, Senin (27/4/2026), langkah ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara Washington dan Beijing terkait kepemilikan dan kontrol atas teknologi AI canggih. Manus awalnya dikembangkan oleh Beijing Butterfly Effect Technology sebelum kemudian berpindah tangan ke Singapore.
Dalam prosesnya, perusahaan tidak memberitahu otoritas China sebelum menyelesaikan transaksi dengan Meta pada Desember lalu. Ketidaktransparanan ini tampaknya jadi salah satu alasan Beijing mengambil tindakan preventif berupa pemblokiran.
Bagi pemerintah China, kasus Manus bukan sekadar tentang satu akuisisi yang gagal, melainkan tentang sinyal yang lebih luas terhadap ekosistem AI dalam negeri. Langkah ini menunjukkan bahwa China tidak akan tinggal diam melihat perusahaan-perusahaan AI yang berkembang di wilayah mereka lalu berpindah ke yurisdiksi lain tanpa pengawasan.
Pesannya jelas: pendiri dan perusahaan AI yang berasal dari China diharapkan tetap berada dalam pengawasan regulator domestik, atau menghadapi konsekuensi.
Ketegangan antara Washington dan Beijing di sektor AI sudah berlangsung cukup lama dan makin kompleks. Kedua negara tidak hanya bersaing dalam hal siapa yang bisa mengembangkan model AI paling canggih, tapi juga soal siapa yang berhak memiliki dan mengontrol infrastruktur AI kritis.
Pembatasan ekspor chip AI dari AS ke China sudah berjalan, dan kini China menunjukkan bahwa mereka juga punya alat untuk membalas - salah satunya lewat pemblokiran akuisisi seperti yang terjadi pada Manus.
Bagi Meta, kegagalan akuisisi ini berarti mereka kehilangan akses ke teknologi yang sudah direncanakan untuk digunakan dalam portofolio produk mereka. US$2 miliar yang sudah ditawarkan tidak akan berguna kalau deal tidak bisa ditutup dan keputusan China membuktikan bahwa harapan mendapatkan persetujuan regulator China dalam waktu dekat adalah hal yang tidak realistis.
Bagi ekosistem AI global secara lebih luas, kasus Manus menunjukkan bahwa geopolitik kini jadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam kalkulasi bisnis AI. Perusahaan yang berpikir melakukan akuisisi lintas batas di sektor AI perlu memperhitungkan bukan hanya aspek komersial dan teknis, tapi juga dinamika regulasi antara negara-negara besar yang bersaing di ranah teknologi.