- 8.8/10 (12 Reviews)

- 15 hari lalu
Samsung meluncurkan Certified Re-Newed di India, program HP refurbished resmi dengan garansi satu tahun, suku cadang asli, dan pembaruan software.

Hedra.ID, London - Survei baru dari University College London dan Public First menunjukkan publik China cenderung positif melihat dampak AI terhadap pekerjaan.
Dalam laporan yang dikutip South China Morning Post, Selasa (26/5/2026), kurang dari 10% responden di China khawatir AI akan membuat pencarian kerja menjadi lebih sulit.
Temuan itu cukup menonjol karena kecemasan soal AI dan lapangan kerja sedang muncul di banyak negara. Di China, survei tersebut justru menemukan sekitar sepertiga responden percaya AI dapat menciptakan lebih banyak pekerjaan berketerampilan tinggi.
Survei itu juga menyebut 96% responden di China menggunakan AI di tempat kerja setiap minggu. Angka ini menunjukkan AI tidak lagi dilihat hanya sebagai teknologi baru yang jauh dari rutinitas harian.
Untuk sebagian responden, AI sudah masuk ke aktivitas kerja yang lebih biasa, meski sumber tidak merinci jenis pekerjaan atau alat AI apa saja yang paling banyak dipakai.
Bagi yang mengikuti perkembangan AI, temuan ini penting karena memperlihatkan perbedaan antara adopsi dan kecemasan. Pemakaian AI yang luas tidak selalu berujung pada sikap publik yang takut kehilangan pekerjaan.
Meski angkanya terlihat kuat, temuan ini tetap perlu dibaca sebagai hasil survei, bukan bukti bahwa AI tidak akan mengganggu pasar kerja China. Pasalnya, kekhawatiran soal dampak AI terhadap pekerjaan tetap muncul dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu contohnya adalah putusan pengadilan di China pada awal Mei yang menyatakan perusahaan tidak boleh memecat pekerja demi menggantinya dengan alat AI yang lebih murah.
Artinya, persepsi publik dan risiko di dunia kerja bisa berjalan bersamaan. Publik bisa saja optimistis terhadap AI, sementara aturan ketenagakerjaan tetap perlu mengantisipasi penggunaan AI yang merugikan pekerja.
Survei yang sama juga menemukan 79% responden menilai mahasiswa sebaiknya diajari cara memakai AI secara efektif. Bagian ini memberi konteks bahwa optimisme publik China tidak hanya berhenti pada pemakaian AI di kantor.
AI juga mulai dilihat sebagai keterampilan yang perlu masuk ke pendidikan, terutama ketika teknologi ini makin sering dipakai untuk belajar, bekerja, dan mencari informasi.
Bagi pekerja, mahasiswa, dan pengajar, pesan praktisnya bukan sekadar bahwa AI makin populer. Yang lebih penting adalah kemampuan memakai AI secara aman, kritis, dan sesuai kebutuhan.
Untuk saat ini, survei tersebut memberi satu gambaran: di China, AI lebih banyak dibaca sebagai alat yang bisa memperluas keterampilan kerja daripada ancaman langsung terhadap pekerjaan. Namun, dampak nyatanya tetap bergantung pada cara perusahaan, kampus, dan regulator mengatur pemakaiannya.