- 8.8/10 (12 Reviews)

- sebulan lalu
Apple kabarnya tengah menyusun strategi branding ultra-premium yang bakal menjadi ciri khas baru di seluruh lini produk mereka.

Hedra.ID, Washington - Trump Mobile T1 Phone kembali menjadi sorotan. Ponsel berwarna emas yang sejak awal dipasarkan dengan nuansa “American pride” itu ternyata tidak sepenuhnya membawa cerita baru dari sisi perangkat keras.
Ya, berdasarkan hasil teardown terbaru iFixit menunjukkan bahwa bagian internal Trump T1 nyaris identik dengan HTC U24 Pro, smartphone yang lebih dulu meluncur pada 2024. Temuan ini menarik karena perangkat ini sejak awal diposisikan bukan sekadar smartphone biasa.
Seperti diketahui, perangkat ini hadir sebagai bagian dari Trump Mobile, layanan seluler yang mengusung identitas patriotik Amerika. Dalam pengumuman resminya, Donald Trump Jr. sempat menyebut, “Trump Mobile is going to change the game,” sambil menekankan layanan berbasis di Amerika Serikat.
Namun, setelah ponsel tersebut dibongkar, narasi “beda dari yang lain” itu mulai dipertanyakan. Waduh!
iFixit melakukan pemeriksaan menggunakan CT scanner dan pembongkaran fisik. Hasilnya, susunan komponen Trump T1 disebut hampir sama dengan HTC U24 Pro. Mulai dari bentuk komponen, posisi sekrup, layout mainboard, hingga struktur internalnya terlihat sangat mirip. Bahkan, iFixit berhasil memasang mainboard HTC U24 Pro ke bodi Trump T1 dan perangkat tersebut tetap bisa menyala.
Perbedaannya memang ada, tetapi tidak terlalu besar. iFixit mencatat posisi flash kamera sedikit berbeda, pola lubang speaker di bodi dibuat tidak sama, dan paket memori memakai pemasok berbeda.
Trump T1 menggunakan paket dari Micron, sedangkan HTC U24 Pro yang diuji memakai SK Hynix. Dari sisi baterai, Trump T1 membawa kapasitas lebih besar, tetapi hanya mendukung pengisian cepat 30W. Sebagai pembanding, HTC U24 Pro mendukung fast charging 60W.
Ketika Hedra.ID mengunjungi situs resminya, Jumat (12/6/2026), Trump Mobile mencantumkan T1 Phone dengan layar AMOLED 6,78 inci 120Hz, kamera utama 50MP, kamera ultrawide 8MP, kamera telephoto 50MP 2x, kamera depan 50MP, baterai 5.000 mAh, Android 15, dan platform Snapdragon 7.
Harga promosinya dipasang US$499, dengan deposit preorder US$100. Jika mengacu kurs saat ini, harga itu setara sekitar Rp8,97 juta sebelum pajak dan biaya lain.
Kontroversi Trump T1 tidak hanya soal kemiripan desain. Sejak awal, perangkat ini juga memicu perdebatan karena sempat dipromosikan sebagai ponsel yang dirancang dan dibangun di Amerika Serikat. Belakangan, bahasa promosi di situs Trump Mobile berubah menjadi lebih hati-hati, seperti “Proudly American” dan “American-Proud Design”.
Perubahan bahasa ini penting karena di Amerika Serikat, klaim “Made in USA” diawasi ketat oleh Federal Trade Commission. FTC mensyaratkan produk yang memakai klaim tersebut harus “all or virtually all” dibuat di AS, termasuk proses signifikan dan hampir seluruh komponennya berasal dari Amerika Serikat.
Dalam konteks smartphone, syarat seperti itu memang sangat berat. Rantai pasok ponsel modern tersebar di banyak negara, dari panel layar, kamera, baterai, chipset, memori, hingga perakitan. The Verge sebelumnya juga menyoroti bahwa produksi smartphone sepenuhnya di AS sulit dilakukan dalam waktu singkat karena membutuhkan basis manufaktur, tenaga ahli, dan fasilitas produksi yang sangat kompleks.
Teardown seperti yang dilakukan iFixit memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu muncul dalam materi promosi. Dari luar, ponsel bisa terlihat baru, eksklusif, atau membawa identitas merek yang kuat. Namun, bagian dalam perangkat sering kali menunjukkan cerita yang berbeda: siapa pemasok komponennya, bagaimana desain internalnya, apakah mudah diperbaiki, dan seberapa orisinal rancangan tersebut.
Dalam kasus Trump T1, iFixit memberi skor repairability sementara 3 dari 10. Salah satu alasannya, perangkat yang berbasis desain white-label atau ODM kerap tidak memiliki dukungan suku cadang dan manual servis resmi yang memadai. Ini menjadi catatan penting, terutama untuk konsumen yang berharap perangkat bisa dipakai dalam jangka panjang.
Bagi pasar Indonesia, kasus ini bisa menjadi pelajaran sederhana: jangan hanya melihat nama besar dan klaim pemasaran. Untuk membeli smartphone, terutama di kelas harga jutaan rupiah, konsumen tetap perlu memeriksa asal perangkat, garansi resmi, dukungan software, jaringan servis, dan kepatuhan regulasi lokal.