
- 23 hari lalu
Samsung memperkenalkan Galaxy Z Fold8 Ultra, Fold8, dan Flip8 serta membuka preorder di Indonesia. Simak harga dan perbedaan utama ketiganya.

Hedra.ID, Jakarta - XLSMART mencatat pertumbuhan kinerja yang kuat sepanjang semester pertama 2026. Perusahaan hasil merger XL Axiata dan Smartfren itu membukukan pendapatan Rp24,03 triliun, sementara laba bersih yang dinormalisasi melonjak 294% secara tahunan menjadi Rp2,73 triliun.
Kinerja tersebut diklaim menjadi salah satu indikasi bahwa manfaat penggabungan XL Axiata, Smartfren Telecom, dan Smart Telecom mulai terlihat. Merger secara efektif berlaku sejak 16 April 2025 dan melahirkan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk.
Sepanjang Januari-Juni 2026, pendapatan XLSMART tumbuh 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Normalized EBITDA mencapai Rp11,05 triliun, naik 19% dengan margin EBITDA 46%. Sementara Normalized PAT atau laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp2,73 triliun, meningkat 294% YoY.
Perlu dicatat, angka kenaikan 294% yang disampaikan XLSMART merujuk pada laba bersih yang dinormalisasi, sehingga perlu dibedakan dari laba bersih akuntansi tanpa penyesuaian. Mengenai pencapaian ini, Presiden Direktur dan CEO XLSMART Rajeev Sethi mengatakan pihaknya kini mulai bergerak dari tahap integrasi menuju optimalisasi.
“Semester pertama 2026 menjadi fase penting dalam perjalanan XLSMART. Setelah melalui proses integrasi yang intensif, kami kini memasuki fase optimalisasi dengan fondasi perusahaan yang semakin kuat,” kata Rajeev melalui keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Kamis (13/8/2026).
Kinerja XLSMART tidak hanya datang dari penghematan setelah merger. Konsumsi layanan data dan pendapatan rata-rata dari pelanggan juga meningkat.
Blended average revenue per user atau ARPU naik dari Rp38.200 pada semester I 2025 menjadi Rp47.100 pada periode yang sama tahun ini. Sementara trafik data tumbuh 19% menjadi 7.934 petabyte.
Kenaikan tersebut menjadi penting karena industri telekomunikasi Indonesia selama bertahun-tahun menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan pendapatan di tengah kebutuhan investasi jaringan yang besar.
Semakin besarnya penggunaan streaming, mobile gaming, layanan cloud, hingga aplikasi berbasis AI membuat konsumsi data terus meningkat. Tantangannya bagi operator adalah bagaimana pertumbuhan trafik tersebut juga dapat diterjemahkan menjadi pendapatan dan margin yang lebih sehat.
Salah satu faktor utama di balik peningkatan profitabilitas adalah realisasi sinergi dari merger. XLSMART mencatat gross synergy sebesar US$153 juta pada semester I 2026, sekitar tiga kali lipat dibanding US$48 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sinergi tersebut berasal dari sejumlah area, termasuk negosiasi dengan mitra, konsolidasi jaringan, efisiensi operasional site, utilitas dan fiber, penghematan biaya regulasi, serta optimalisasi organisasi dan pemasaran.
Hingga akhir Juni 2026, sekitar 92% site jaringan XLSMART telah terintegrasi. Perusahaan juga telah membongkar sekitar 15.000 site duplikasi yang sebelumnya berasal dari jaringan masing-masing operator sebelum merger.
Langkah ini penting karena keberadaan dua site dengan cakupan yang tumpang tindih tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Konsolidasi memungkinkan operator mengurangi biaya operasional sekaligus mengalokasikan investasi ke wilayah yang masih membutuhkan kapasitas jaringan.
Di saat melakukan konsolidasi, XLSMART tetap memperluas infrastrukturnya. Total BTS perusahaan mencapai 265.442 unit pada semester I 2026, meningkat 26% secara tahunan. Sekitar separuh dari penambahan BTS selama setahun terakhir berada di luar Jawa, termasuk Sulawesi dan Kalimantan.
Ekspansi ke luar Jawa menjadi salah satu bagian penting dari konteks merger XLSMART. Ketika pemerintah menyetujui penggabungan XL Axiata dan Smartfren pada April 2025, salah satu komitmen yang dibebankan kepada perusahaan adalah penambahan 8.000 BTS baru dengan fokus pada wilayah yang layanannya masih terbatas. Pemerintah juga menargetkan peningkatan kecepatan unduh hingga 16% pada 2029.
Artinya, keberhasilan merger nantinya tidak cukup hanya diukur dari kenaikan laba. Kualitas jaringan dan pemerataan layanan kepada pelanggan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Ekspansi jaringan 5G juga berlangsung cukup agresif. Hingga semester pertama 2026, jaringan 5G XLSMART diklaim sudah tersedia di 52 kota dan didukung sekitar 15.000 BTS 5G. Cakupan populasinya mencapai sekitar 23% secara nasional.
Beberapa wilayah yang mendapat perluasan jaringan mencakup Bekasi, Tangerang, Kendal, dan Binjai. XLSMART juga memperkuat cakupan 5G di Balikpapan serta Banjarmasin.
Menurut XLSMART, trafik 5G sudah menyumbang 27% terhadap pertumbuhan trafik keseluruhan. Portofolio spektrum XLSMART kini juga mencapai 217 MHz, memberikan perusahaan ruang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas jaringan.
Selain itu, perubahan lain terlihat dari semakin besarnya peran aplikasi myXL, AXISNet, dan mySF kini memiliki total sekitar 36 juta pengguna aktif bulanan. Bahkan, lebih dari 60% pendapatan mobile XLSMART disebut sudah berasal dari kanal digital.
XLSMART juga mulai menggunakan layanan digital sebagai pembeda produk. Salah satunya melalui kolaborasi dengan Google untuk menawarkan akses Gemini AI Plus dan cloud storage kepada pelanggan tertentu.
Strategi tersebut memperlihatkan arah bisnis operator seluler yang perlahan bergeser. Paket data tidak lagi menjadi satu-satunya produk yang dijual. Operator semakin mencoba menggabungkan konektivitas dengan layanan AI, hiburan, cloud, dan layanan digital lainnya untuk meningkatkan nilai pelanggan.
XLSMART mengalokasikan belanja modal sebesar Rp10,27 triliun sepanjang semester I 2026 untuk mendukung integrasi jaringan dan perluasan 5G. Pada saat yang sama, total utang bruto turun menjadi Rp20,87 triliun dengan rasio net debt terhadap EBITDA sebesar 2,61 kali.
Kenaikan laba bersih normalisasi sebesar 294% memang menjadi angka paling mencolok dari laporan semester pertama XLSMART. Namun, ujian yang lebih penting justru datang setelah proses integrasi selesai.
Merger baru akan benar-benar terasa bagi pelanggan jika efisiensi yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi jaringan yang lebih luas, koneksi lebih stabil, 5G yang semakin merata, dan layanan yang tetap kompetitif.
Dengan integrasi site yang sudah mencapai 92%, semester kedua 2026 akan menjadi periode penting untuk melihat apakah skala besar hasil merger XL Axiata dan Smartfren tidak hanya memperbaiki angka keuangan XLSMART, tetapi juga pengalaman jutaan pengguna telekomunikasi di Indonesia.