
- 16 hari lalu
Rancangan Perpres Ojol memasukkan kemitraan driver dan aplikator ke dalam pengawasan Kementerian UMKM. Apa perubahan yang bisa terjadi?

Hedra.ID, Jakarta - Ketika siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar mendapat nilai lebih rendah, kesimpulannya mudah terasa masuk akal: semakin lama screen time, semakin buruk hasil belajar.
Data PISA 2025 menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. OECD memang menemukan hubungan antara penggunaan perangkat digital, distraksi, dan performa siswa.
Namun pola yang muncul tidak bergerak lurus dari “lebih banyak layar” ke “nilai lebih rendah”. Penggunaan perangkat untuk belajar dalam jumlah tertentu justru berkaitan dengan performa sains yang lebih tinggi, sementara penggunaan untuk rekreasi dan distraksi menunjukkan pola yang berbeda.
Di sinilah screen time mudah menyesatkan jika hanya dibaca sebagai angka durasi. Pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar berapa lama siswa melihat layar, tetapi untuk apa perangkat dipakai dan apa yang terjadi pada perhatian mereka selama waktu tersebut.
Dalam PISA 2025, penggunaan perangkat digital untuk kegiatan belajar di sekolah pada tingkat moderat berkaitan dengan skor sains yang lebih tinggi dibandingkan tidak menggunakan perangkat sama sekali atau menggunakannya secara berat.
OECD merangkum pola itu dengan cukup jelas: “Penggunaan perangkat digital secara moderat untuk belajar di sekolah berkaitan dengan performa sains yang lebih tinggi dibanding tidak menggunakan atau menggunakannya secara berlebihan.”
Polanya berubah ketika perangkat digunakan untuk rekreasi di sekolah. Setelah penggunaan rekreasi melewati sekitar satu jam per hari, performa cenderung lebih rendah seiring bertambahnya waktu yang dihabiskan dengan perangkat.
Distraksi juga terlihat dalam data. Secara rata-rata di negara-negara OECD, 28 persen siswa mengatakan teman sekelas mereka terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran sains.
Kelompok yang melaporkan distraksi tersebut rata-rata memperoleh skor sains 11 poin lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak melaporkannya, setelah profil sosial-ekonomi siswa dan sekolah diperhitungkan.
Tetapi angka itu tetap menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa perangkat menjadi penyebab tunggal turunnya nilai. Dua siswa bisa sama-sama memiliki screen time tiga jam dan mengalami situasi yang sangat berbeda.
Satu siswa mungkin menggunakan perangkat untuk membaca materi, mengerjakan tugas, dan mencari informasi. Siswa lain bisa menghabiskan sebagian waktunya berpindah antara pelajaran, pesan, video, dan media sosial.
Durasi keduanya sama. Apa yang terjadi selama durasi tersebut tidak sama.
Country note PISA 2025 untuk Indonesia memperlihatkan pola serupa. Siswa Indonesia melaporkan menggunakan perangkat digital di sekolah rata-rata 2,5 jam per hari untuk kegiatan belajar dan 1,3 jam untuk kegiatan rekreasi. Sebanyak 23 persen siswa mengatakan teman mereka sering terdistraksi perangkat digital dalam sebagian besar atau seluruh pelajaran sains.
Siswa yang melaporkan distraksi memperoleh skor sains 11 poin lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak melaporkannya, setelah profil sosial-ekonomi siswa dan sekolah diperhitungkan.
Selisih 11 poin itu berguna karena menunjukkan bahwa distraksi dan performa akademik bergerak bersama dalam data. Namun angka tersebut tidak berarti menghilangkan distraksi otomatis akan menaikkan skor siswa sebesar 11 poin.
Itulah perbedaan penting antara korelasi dan sebab-akibat. Memperhitungkan kondisi sosial-ekonomi dapat membuat perbandingan lebih tajam, tetapi tidak berarti seluruh faktor yang mungkin berpengaruh sudah terpisahkan.
Sejumlah ukuran tentang penggunaan perangkat dan distraksi dalam analisis ini juga berasal dari apa yang dilaporkan siswa. Karena itu, data seperti ini lebih tepat dipakai untuk melihat pola dan mengajukan pertanyaan berikutnya daripada menetapkan satu penyebab tunggal.
Jika siswa yang lebih sering terdistraksi mendapat nilai lebih rendah, misalnya, masih perlu dibedakan apakah perangkat menciptakan masalah perhatian, siswa yang sudah sulit berkonsentrasi lebih mudah beralih ke perangkat, atau beberapa faktor itu bekerja bersamaan.
Kerumitan yang sama terlihat ketika pembahasannya beralih ke larangan ponsel di sekolah. PISA 2025 menunjukkan siswa di sekolah yang melarang penggunaan ponsel cenderung melaporkan distraksi digital yang lebih rendah.
Di Indonesia, siswa pada sekolah yang melarang ponsel di lingkungan sekolah sekitar 38% lebih kecil kemungkinannya melaporkan distraksi digital. Namun hubungan dengan nilai akademik tidak sejelas hubungan dengan distraksi.
“Larangan ponsel atau panduan khusus mata pelajaran berkaitan dengan lebih sedikit distraksi dan waktu penggunaan, tetapi hubungannya dengan performa tetap belum jelas," demikian batasan yang dinyatakan OECD.
Batas itu mencegah dua kesimpulan yang sama-sama terlalu cepat. Perangkat digital tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab nilai buruk, tetapi temuan tentang distraksi juga tidak berarti teknologi tidak mempunyai masalah dalam ruang belajar.
Baca juga: Pembatasan Gawai di Sekolah Bukan Sekadar Menyita Ponsel
Yang tampak dari PISA 2025 justru kebutuhan untuk melihat penggunaan digital secara lebih spesifik. Satu jam membaca materi, satu jam menjalankan simulasi sains, dan satu jam membuka media sosial saat pelajaran berlangsung sama-sama tercatat sebagai waktu di depan layar. Dari sudut pandang proses belajar, ketiganya bukan aktivitas yang setara.
Karena itu, screen time lebih berguna sebagai titik awal daripada sebagai diagnosis. Durasi dapat memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dilihat lebih dekat, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan sendiri mengapa hasil belajar berbeda.
Untuk memahami hubungan teknologi dan belajar, pertanyaannya akhirnya bukan hanya berapa lama layar menyala. Yang lebih menentukan untuk diperiksa adalah apa yang dilakukan siswa, kapan perangkat digunakan, dan apakah layar membantu proses belajar atau justru memecah perhatian.