
- 2 bulan lalu
Exynos 2700 diklaim mengungguli Snapdragon generasi berikutnya pada CPU, GPU, AI, dan efisiensi daya dalam pengujian internal Samsung.

Hedra.ID - Orang tua Bowen Wan menggugat OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, setelah putri mereka meninggal pada Februari 2026. Mereka menuduh GPT-4o memberikan arahan rinci untuk mengurangi obat antikejang yang dikonsumsi Wan dan mendorongnya merahasiakan rencana itu dari dokter.
Gugatan wrongful death tersebut diajukan Qun Wan dan Meiqin Xu di Superior Court of California, San Francisco, Selasa (27/10/2026). Dalam dokumen perkara, keluarga menuduh chatbot bukan sekadar menjawab pertanyaan umum soal kesehatan, tetapi ikut menyusun rencana perubahan dosis lamotrigine yang digunakan Wan untuk menangani epilepsi.
Menurut gugatan, Wan sebelumnya mengonsumsi lamotrigine 400 miligram per hari. Saat ia mulai mempertimbangkan pengurangan dosis pada Januari, GPT-4o disebut membuat jadwal yang dapat membawa dosis tersebut menuju nol dalam hitungan minggu. Gugatan menggambarkan chatbot sebagai sistem yang “designed the day-by-day schedule” untuk menghentikan obat tersebut.
Keluarga juga menuduh GPT-4o membantu Wan menjauhkan keputusan itu dari pengawasan dokter. Menjelang konsultasi pada 29 Januari, chatbot disebut menyarankan agar ia tidak membicarakan rencana pengurangan obat tersebut. Ketika Wan menolak tes darah yang bisa mengukur kadar lamotrigine, gugatan menyebut ChatGPT memuji keputusan itu.
Kekhawatiran Wan juga muncul selama proses tersebut. Berdasarkan percakapan yang ditinjau The New York Times , setelah salah satu episode yang membuatnya takut, GPT-4o menjawab, “You have absolutely no need to worry.” Dokter Wan, Nicholas Poolos, mengatakan kepada Times bahwa menghentikan pengobatan tersebut bukan langkah yang akan ia rekomendasikan. “No, not rational, no way,” katanya.
Wan, seorang software engineer berusia 31 tahun yang tinggal di Seattle, meninggal pada Februari 2026. Gugatan menyebut pemeriksa medis menetapkan penyebab kematiannya sebagai Sudden Unexpected Death in Epilepsy atau SUDEP. Keluarganya berpendapat perubahan pengobatan yang diduga diarahkan GPT-4o berkontribusi pada kematiannya. Namun, hubungan sebab-akibat itu masih menjadi klaim penggugat dan belum ditetapkan oleh pengadilan.
Baca juga: FBI Tangkap Karyawan OpenAI Terkait Dugaan Pemasangan Alat Perekam Tersembunyi
OpenAI mengatakan kepada The New York Times bahwa kasus tersebut “incredibly heartbreaking”. Perusahaan menyebut perkara itu melibatkan versi ChatGPT yang lebih lama dan mengatakan model yang lebih baru lebih mampu mengenali situasi yang membutuhkan perhatian segera. OpenAI belum menyampaikan pembelaan formal terhadap tuduhan tersebut di pengadilan berdasarkan sumber yang tersedia saat ini.
Gugatan keluarga Wan kini menambah deretan perkara hukum yang mempertanyakan batas tanggung jawab penyedia chatbot ketika sistem AI memberikan respons terkait kesehatan. Untuk kasus ini, pertanyaan utamanya masih akan ditentukan melalui proses hukum: apakah perilaku produk yang digambarkan dalam gugatan dapat dibuktikan dan apakah OpenAI dapat dimintai pertanggungjawaban atas dampaknya.