- 8.8/10 (12 Reviews)

- 2 bulan lalu
Indonesia memilih jalan tengah di tengah perebutan chip dan AI global. Mineral kritis, talenta digital, dan hilirisasi menjadi kunci agar tidak sekadar jadi pasar.

Hedra.ID, Brasil - ByteDance, induk TikTok, menjadi klien utama dalam proyek kompleks data center besar di Ceará, Brasil. Bloomberg Línea, Senin (6/7/2026), melaporkan ratusan pekerja sudah membangun fasilitas tersebut di kawasan Pecém, dengan estimasi biaya total R$ 200 miliar atau US$ 39 miliar atau sekitar Rp700 triliun.
Proyek ini dikembangkan oleh Omnia, platform data center milik Pátria Investments, bukan pembangunan langsung ByteDance seorang diri. Sebelumnya, Omnia juga dilaporkan telah meneken kontrak pasokan energi 20 tahun senilai US$ 2 miliar atau sekitar Rp35 triliun dengan Casa dos Ventos untuk memasok listrik ke data center yang dibangun bagi ByteDance
Bloomberg Línea menyebut kompleks di Ceará itu akan menjadi fasilitas data center terbesar ByteDance di luar China. Kapasitas awalnya diproyeksikan 200 megawatt dan dapat meningkat hingga 1 gigawatt, dengan data center pertama ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.
Laporan tersebut juga menggambarkan proyek itu sudah masuk tahap fisik. Wellysson Costa, kepala konstruksi yang bekerja untuk Omnia, menyebut lokasi proyek sebelumnya masih berupa lahan kosong. “Aqui era tudo mato,” katanya, yang secara bebas berarti dulu area itu masih berupa semak-semak.
Konteks resmi Brasil menunjukkan proyek ini sudah menjadi bagian dari agenda kawasan ekonomi khusus. ZPE Ceará menyebut tahap awal proyek data center ByteDance sudah berjalan di sektor II ZPE Ceará, Caucaia. Lembaga itu juga menyebut total investasi yang diperkirakan mencapai R$ 200 miliar, dengan sekitar R$ 15 miliar untuk infrastruktur fase pertama.
Sementara itu, Reuters memberi konteks lain, di mana data center ini disiapkan sebagai fasilitas yang berorientasi ekspor data. Pada laporan November 2025, CEO Omnia Rodrigo Abreu mengatakan, “Ini akan menjadi pusat data pertama yang berfokus pada ekspor data di negara ini.”
Bagi Brasil, proyek ini memperkuat ambisi menjadikan Ceará sebagai hub data center berbasis energi terbarukan. Energi untuk fasilitas tersebut akan dipasok dari kompleks angin Ibiapaba dan proyek Dom Inocêncio milik Casa dos Ventos.
Reuters juga melaporkan Omnia menyebut proyek itu sudah berlisensi dan akan membutuhkan “minimal water use”, di tengah kekhawatiran kelompok lingkungan soal penggunaan air dan dampak terhadap komunitas adat.
Dengan begitu, kabar utamanya bukan hanya nilai investasi yang sangat besar. Proyek di Ceará menunjukkan bagaimana kebutuhan komputasi AI dan layanan digital mulai mendorong pembangunan data center skala gigawatt di luar pusat tradisional seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa.