- 8.8/10 (12 Reviews)

- 2 bulan lalu
Kemensos mempercepat digitalisasi bansos dengan integrasi data lintas sektor untuk meningkatkan akurasi dan transparansi penyaluran bantuan di Indonesia.

Hedra.ID, Jakarta - Keputusan GoTo dan Grab menurunkan komisi perjalanan pengemudi roda dua dari 20% menjadi 8% mulai 1 Juli 2026 terlihat seperti kabar teknis soal potongan platform. Namun, perubahan ini membuka lapisan yang lebih besar: ojol sudah lama tidak bekerja hanya sebagai aplikasi transportasi.
Dalam satu aplikasi, ada mobilitas, pesan-antar makanan, pengiriman barang kecil, pembayaran digital, promosi merchant, dan pendapatan harian para mitra pengemudi. Karena itu, perubahan komisi tidak hanya mengatur hubungan platform dengan driver. Ia ikut memengaruhi bagaimana nilai ekonomi dibagi di dalam ekosistem ojol.
Ojol dulu bisa dipahami sebagai cara baru memesan kendaraan. Pengguna membuka aplikasi, memilih titik jemput, lalu perjalanan terjadi.
Fungsi itu tetap ada, tetapi perannya sudah jauh melebar. Aplikasi yang sama kini bisa dipakai untuk membeli makanan, mengirim barang, membayar layanan, mencari merchant, atau memenuhi kebutuhan cepat di sekitar lokasi pengguna.
Pergeseran ini membuat ojol lebih dekat dengan infrastruktur transaksi harian. Ia bukan hanya mempertemukan pengemudi dan penumpang, tetapi juga mengatur banyak permintaan yang terus muncul.
Skala itu terlihat dari data pengguna dan transaksi platform. GoTo melaporkan Annual Transacting Users di Indonesia naik 33% menjadi 61,1 juta pada kuartal III 2025, dengan total GTV grup mencapai Rp176 triliun pada periode yang sama.
Angka itu tidak semuanya berasal dari layanan ojol, tetapi cukup menunjukkan bagaimana ekosistem aplikasi bekerja sebagai ruang transaksi besar yang melampaui perjalanan dari satu titik ke titik lain.
Dalam ekonomi ojol, order tidak mengalir begitu saja. Hal ini bisa dipengaruhi lokasi, permintaan, ketersediaan driver, rating, promo, tarif, insentif, komisi, dan cara aplikasi menampilkan layanan kepada pengguna.
Bagi driver, aplikasi menjadi pintu masuk pekerjaan. Bagi merchant, aplikasi menjadi kanal penjualan. Bagi konsumen, aplikasi menjadi jalan cepat untuk bergerak, makan, belanja, atau mengirim barang.
Pada lapisan ini, platform tidak lagi sekadar menyediakan teknologi. Platform ikut mengatur pertemuan antara permintaan dan pasokan. Ia memengaruhi distribusi order, layanan mana yang lebih terlihat, berapa biaya yang ditanggung pengguna, dan berapa bagian pendapatan yang diterima mitra.
Karena itu, penurunan komisi dari 20% menjadi 8% penting untuk dimaknai sebagai perubahan distribusi nilai. Jika komisi lebih rendah, driver bisa menyimpan bagian lebih besar dari setiap perjalanan. Namun, dampak akhirnya tetap bergantung pada jumlah order, tarif dasar, insentif, biaya operasional, dan kebijakan platform lain yang berjalan bersamaan.
Reuters melaporkan pemerintah Indonesia melihat industri ride-hailing strategis untuk penciptaan kerja dan penting bagi ekonomi. Dalam laporan yang sama, unit Gojek disebut memiliki lebih dari 3,1 juta pengemudi online.
Angka itu menunjukkan skala. Namun, skala besar tidak otomatis menjelaskan kualitas pekerjaan. Driver memang mendapat akses kerja yang fleksibel, tetapi pendapatan mereka juga dipengaruhi algoritma, insentif, jam kerja, biaya kendaraan, bahan bakar, persaingan, dan potongan platform.
Di sinilah ojol berbeda dari pekerjaan transportasi konvensional. Penghasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah penumpang di jalan, tetapi juga oleh desain aplikasi. Perubahan kecil pada komisi, bonus, prioritas order, atau aturan akun bisa langsung terasa pada pendapatan harian.
Karena itu, debat tentang ojol tidak cukup berhenti pada status “mitra”. Kerangka kemitraan memang menjadi format formal yang banyak dipakai platform. Namun secara ekonomi, driver tetap bergantung pada sistem yang mengatur akses order dan pembagian pendapatan.
Ojol juga menjadi kanal ekonomi bagi merchant, terutama lewat layanan pesan-antar makanan dan belanja cepat. Bagi usaha yang masuk ke aplikasi, platform memberi akses ke konsumen yang tidak datang langsung ke toko.
Namun, akses itu membawa biaya dan ketergantungan baru. Merchant perlu berhadapan dengan komisi, biaya layanan, kebutuhan promo, persaingan dalam aplikasi, rating, foto produk, dan posisi tampil di hasil pencarian.
Aplikasi memberi pasar tambahan, tetapi juga membawa merchant masuk ke aturan platform. Usaha bisa mendapat permintaan baru, tetapi visibilitas dan margin mereka ikut dipengaruhi oleh cara platform mengatur promosi dan tampilan.
Bagian ini penting karena mesin ekonomi ojol tidak hanya hidup dari driver. Ia juga hidup dari merchant dan layanan yang memakai aplikasi sebagai kanal distribusi.
Menyebut ojol sebagai mesin ekonomi tidak berarti semua dampaknya positif. Ia juga tidak berarti semua pelaku di dalamnya mendapat manfaat yang sama.
Bagi konsumen, ojol memberi kecepatan dan kenyamanan. Bagi driver, ia membuka akses pendapatan. Bagi merchant, ia menyediakan kanal penjualan. Bagi platform, ia menciptakan data, transaksi, dan jaringan layanan yang makin luas.
Namun, distribusi manfaat di dalam sistem itu tidak otomatis seimbang. Driver bisa terdampak perubahan insentif. Merchant bisa tertekan biaya promosi. Konsumen bisa bergantung pada subsidi harga. Platform sendiri perlu mengejar efisiensi dan profitabilitas.
Karena itu, ojol sebagai mesin ekonomi perlu dibaca lewat mekanisme, bukan slogan. Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak orang memakai aplikasi, tetapi siapa yang mengatur aliran order, siapa yang menanggung biaya, siapa yang mendapat margin, dan siapa yang paling rentan ketika aturan platform berubah.
Penurunan komisi menjadi 8% menunjukkan bahwa relasi di dalam ekosistem ojol masih bergerak. Platform, driver, pemerintah, dan pasar sedang menegosiasikan ulang pembagian nilai dalam layanan yang sudah menjadi bagian dari aktivitas harian.
Ojol akhirnya bukan sekadar aplikasi untuk memesan perjalanan. Ia adalah sistem yang menghubungkan kerja, konsumsi, logistik, pembayaran, dan merchant dalam satu aliran transaksi. Mesin itu bisa membuat ekonomi harian bergerak lebih cepat, tetapi batas keseimbangannya tetap ditentukan oleh bagaimana platform membagi nilai di dalam ekosistem ojol.