- 8.8/10 (12 Reviews)

- 11 jam lalu
Rumor soal kehadiran iPhone Fold kembali jadi perbincangan. Setelah sempat muncul laporan yang menyebut perangkat ini mengalami kendala

Hedra.ID, Sydney - Canva kembali menunjukkan ambisinya untuk bermain lebih besar dari sekadar platform desain. Perusahaan asal Australia itu resmi mengumumkan dua akuisisi sekaligus, yakni terhadap Simtheory dan Ortto, dalam langkah yang menegaskan arah baru Canva ke ranah AI, otomasi marketing, dan produktivitas tim.
Dua akuisisi ini diumumkan pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat. Nilai transaksinya memang tidak dibuka ke publik, tetapi sinyal yang dikirim Canva cukup jelas: perusahaan ini ingin berkembang dari alat desain visual menjadi platform kerja end-to-end untuk tim kreatif, marketing, dan bisnis.
Selama ini, Canva dikenal luas sebagai platform desain yang memudahkan siapa saja membuat presentasi, poster, konten media sosial, hingga materi promosi tanpa harus punya latar belakang desain profesional.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, arah pengembangannya memang sudah berubah. Canva kini tidak hanya fokus pada pembuatan konten, tetapi juga mulai membangun ekosistem yang mencakup AI generatif, workflow tim, publikasi konten, analitik performa, hingga automasi marketing.
Akuisisi Simtheory dan Ortto memperkuat arah tersebut. Canva menyebut langkah ini sebagai bagian dari investasi berkelanjutan mereka di bidang AI dan infrastruktur marketing.
Simtheory adalah platform yang berfokus pada kolaborasi AI dan manajemen agentic AI. Secara sederhana, platform ini membantu tim membangun “asisten AI” yang tidak hanya bisa menjawab pertanyaan, tetapi juga memahami konteks bisnis, bekerja lintas tools, dan menjalankan tugas nyata.
Dengan kata lain, Simtheory bergerak di area yang sekarang sedang panas di industri teknologi: AI agent. Teknologi ini berbeda dari chatbot biasa karena dirancang untuk melakukan aksi, bukan hanya memberi respons. Misalnya:
Canva melihat teknologi seperti ini sebagai fondasi penting untuk masa depan produknya. Hal ini seperti diungkapkan Canva co-founder dan COO, Cliff Obrecht.
“Simtheory mempercepat evolusi kami dari platform desain dengan alat AI menjadi platform AI dengan alat desain dan produktivitas sebagai intinya,” ujarnya seperti dilansir.
Pernyataan ini tentunya sangat penting, karena memperlihatkan perubahan cara Canva memosisikan dirinya. Bukan lagi “platform desain yang punya fitur AI”, melainkan platform AI yang menjadikan desain sebagai inti pengalaman penggunanya.
Kalau Simtheory memperkuat sisi AI, maka Ortto masuk untuk memperdalam kemampuan Canva di area customer data dan marketing automation.
Ortto pada dasarnya menggabungkan customer data platform (CDP) dan marketing automation ke dalam satu sistem. Lewat platform ini, tim bisa merancang dan menjalankan customer journey melalui email, SMS, push notification, in-app messaging, formulir, dan survei.
Canva menyebut Ortto saat ini digunakan oleh lebih dari 11.000 pelanggan di 190 negara, menunjukkan bahwa platform ini bukan pemain kecil di pasar software marketing. Integrasi seperti ini penting karena selama ini banyak tim marketing masih harus berpindah-pindah tools untuk membuat konten, mendistribusikannya, lalu mengukur performanya.
“Ortto memperkuat kemampuan kami untuk menggerakkan seluruh siklus pemasaran dan konten melalui Canva Grow, mulai dari perencanaan dan pembuatan hingga penerbitan dan pengoptimalan di setiap saluran," ungkap Obrecht.
Akuisisi ini juga makin memperjelas posisi Canva Grow, produk Canva yang dirancang untuk membantu brand dan tim marketing membuat aset kampanye sekaligus memantau performanya.
Dalam penjelasan resminya, Canva menyebut Grow sebagai creative marketing engine yang menggabungkan proses ideasi, pembuatan materi, publikasi, dan pengukuran performa.
Canva Grow bahkan bisa mempelajari identitas visual brand dari website perusahaan, lalu membantu membuat berbagai variasi materi kampanye yang tetap konsisten dengan tone dan visual brand tersebut.
Dua akuisisi ini juga bukan langkah yang berdiri sendiri. Dalam beberapa bulan terakhir, Canva memang terlihat sangat agresif memperluas kapabilitasnya lewat akuisisi.
Sebelumnya, perusahaan ini juga telah mengakuisisi Doohly (digital outdoor advertising), Cavalry (animasi dan motion design), MangoAI (optimasi performa iklan), dan MagicBrief (marketing intelligence).
Artinya, Canva saat ini sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari aplikasi desain biasa: sebuah creative and marketing operating system.
Bukan sekedar sesumbar, Canva juga datang ke fase ini dengan fondasi bisnis yang sangat kuat. Perusahaan ini menutup 2025 dengan annualized revenue US$4 miliar, lebih dari 265 juta pengguna, sekitar 31 juta pengguna berbayar, dan pertumbuhan 20% monthly active users.
Angka ini menunjukkan bahwa Canva bukan lagi sekadar “startup desain”, melainkan salah satu platform software konsumen dan bisnis paling besar di dunia saat ini. Menariknya, Canva juga mengklaim bahwa 95% perusahaan Fortune 500 kini menggunakan produknya dalam berbagai kebutuhan komunikasi visual dan kolaborasi tim.
Pada akhirnya, akuisisi Simtheory dan Ortto bukan sekadar kabar korporasi biasa. Ini adalah tanda bahwa Canva sedang menjalani transformasi besar: dari platform desain yang populer menjadi infrastruktur kerja kreatif dan marketing berbasis AI.
Kalau dulu Canva membantu orang membuat konten lebih cepat, maka ke depan Canva tampaknya ingin membantu tim merencanakan, membuat, mendistribusikan, dan mengoptimalkan konten dalam satu ekosistem yang sama.
Dan jika itu berhasil, Canva tidak lagi hanya bersaing dengan aplikasi desain seperti Adobe atau Figma, tetapi juga mulai menyentuh wilayah yang selama ini ditempati tools seperti HubSpot, Mailchimp, Notion, hingga software AI agent generasi baru.
Dengan kata lain, Canva sedang mencoba menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Apakah kamu setuju?