
- 9 hari lalu
Samsung meluncurkan Certified Re-Newed di India, program HP refurbished resmi dengan garansi satu tahun, suku cadang asli, dan pembaruan software.

Hedra.ID, China - Alibaba dan Tencent tidak sedang berlomba membuat chatbot AI biasa. Ambisinya jauh lebih besar: menjadi pintu masuk utama ketika pengguna ingin berbelanja, mencari informasi, bekerja, memesan layanan, atau berkomunikasi di internet.
Dalam laporan South China Morning Post, Selasa (19/5/2026), raksasa teknologi China disebut tengah bersaing membangun AI-powered digital gateway atau gerbang digital berbasis kecerdasan buatan. Konsepnya sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Pengguna tidak lagi harus membuka banyak aplikasi, mengetik kata kunci, memilah ratusan hasil pencarian, lalu menyelesaikan transaksi secara manual. AI agent ditargetkan bisa memahami maksud pengguna, menyaring pilihan, memberi rekomendasi, bahkan membantu menyelesaikan pesanan.
Perubahan ini menandai babak baru dalam cara orang menggunakan internet. Dulu, pengguna masuk lewat portal web. Setelah itu, mesin pencari menjadi pintu utama. Di China, fase berikutnya banyak dipegang oleh super app seperti WeChat, yang menggabungkan chat, pembayaran, konten, layanan publik, dan mini program dalam satu ekosistem. Kini, arah berikutnya mulai terlihat: internet yang dibuka lewat percakapan.
Sekedar informasi, AI agent mencoba menggeser kebiasaan lama pengguna. Jika selama ini orang harus mencari sendiri lewat menu, katalog, atau hasil pencarian, AI agent menawarkan pola yang lebih natural. Pengguna cukup menjelaskan kebutuhan, lalu sistem menerjemahkannya menjadi tindakan.
Dalam konteks belanja online, misalnya, pengguna tidak lagi hanya mengetik “laptop murah” dan menelusuri ratusan produk. Mereka bisa menyebut bujet, kebutuhan kerja, preferensi merek, ukuran layar, sampai hal yang ingin dihindari. Dari sana, AI akan membantu mempersempit pilihan.
Inilah yang membuat AI agent berbeda dari chatbot biasa. Chatbot hanya menjawab. AI agent diarahkan untuk memahami konteks, mengambil keputusan kecil, dan menjalankan proses yang sebelumnya dilakukan pengguna secara manual.
Bagi perusahaan teknologi, posisi ini sangat strategis. Siapa pun yang menguasai pintu masuk digital akan punya pengaruh besar terhadap apa yang dilihat, dipilih, dan akhirnya dibeli pengguna.
Alibaba punya alasan kuat untuk mendorong AI agent dari sektor e-commerce. Pada 11 Mei 2026, perusahaan mengumumkan integrasi penuh aplikasi Qwen dengan katalog produk Taobao. Alibaba juga meluncurkan asisten belanja berbasis Qwen di aplikasi Taobao. Dengan integrasi ini, pengguna di China bisa menelusuri produk, membandingkan pilihan, melakukan pemesanan, hingga mengelola pengiriman lewat percakapan natural.
Skalanya tidak kecil. Qwen kini terhubung dengan katalog Taobao dan Tmall yang berisi lebih dari 4 miliar produk. Alibaba juga membekali AI agent tersebut dengan kemampuan untuk menangani manajemen pesanan, logistik, dan layanan purnajual.
Strategi ini membuat AI tidak lagi ditempatkan sebagai fitur tambahan di pinggir aplikasi. Alibaba ingin Qwen menjadi lapisan utama dalam perjalanan belanja pengguna, dari tahap mencari inspirasi sampai urusan setelah pembelian.
Secara bisnis, langkah ini juga masuk akal. Alibaba sedang menempatkan AI sebagai bagian penting dari pertumbuhan perusahaan. Dalam laporan terbarunya, Alibaba menyebut pendapatan eksternal Cloud Intelligence Group naik 40% seiring meningkatnya adopsi layanan AI oleh perusahaan. CEO Alibaba Eddie Wu juga menyebut integrasi e-commerce ke aplikasi Qwen sebagai bagian dari strategi memperkuat hubungan antara AI dan ekosistem konsumen Alibaba.
Namun, tantangannya bukan hanya soal kecerdasan model AI. Dalam e-commerce, kepercayaan menjadi faktor krusial. Pengguna perlu yakin bahwa rekomendasi AI benar-benar relevan, bukan sekadar diarahkan ke produk yang lebih menguntungkan platform atau penjual tertentu.
Di titik ini, transparansi akan menjadi isu penting. Semakin besar peran AI dalam merekomendasikan produk, semakin besar pula kebutuhan pengguna untuk tahu alasan di balik rekomendasi tersebut.
Tencent berada di posisi yang berbeda dari Alibaba. Jika Alibaba kuat di e-commerce, Tencent punya aset yang jauh lebih dekat dengan aktivitas harian pengguna: WeChat atau Weixin.
Dalam laporan kuartal pertama 2026, gabungan pengguna aktif bulanan Weixin dan WeChat mencapai 1,432 miliar per 31 Maret 2026. Angka ini memberi Tencent posisi unik. Jika AI agent masuk ke WeChat, ia langsung berada di dalam aplikasi yang sudah digunakan untuk chat, pembayaran, membaca konten, memakai mini program, hingga mengakses layanan sehari-hari.
Tencent juga mulai memperlihatkan arah AI agent di berbagai lini. Dalam laporan yang sama, perusahaan menyebut produk AI baru seperti Hy, Yuanbao, CodeBuddy, WorkBuddy, dan QClaw. Tencent bahkan mengklaim WorkBuddy menjadi layanan productivity AI agent paling populer di China berdasarkan jumlah pengguna harian menurut metrik perusahaan.
Strategi Tencent tidak sekadar membuat AI yang pintar menjawab pertanyaan. Perusahaan ingin AI masuk ke pekerjaan, komunikasi, iklan, cloud, dan layanan bisnis. Dengan WeChat sebagai basis, peluang Tencent sangat besar, tetapi risikonya juga tidak kecil.
Jika AI agent terlalu agresif, pengguna bisa merasa terganggu. Jika terlalu pasif, fitur itu hanya menjadi tombol tambahan yang jarang disentuh. Tencent perlu menemukan titik tengah: cukup membantu, tetapi tidak terasa mengintervensi.
Chatbot bisa viral, tetapi belum tentu menjadi kebiasaan harian. AI gateway berbeda. Ia adalah tempat pertama yang dibuka pengguna sebelum melakukan sesuatu.
Itulah sebabnya Alibaba dan Tencent tidak hanya mengejar AI yang bisa menjawab dengan baik. Mereka mengejar posisi sebagai lapisan awal yang menerjemahkan niat pengguna menjadi tindakan.
Bagi Alibaba, gerbang itu dimulai dari belanja. Jika pengguna terbiasa meminta Qwen mencari, membandingkan, dan memesan produk, Alibaba bisa mempertahankan hubungan langsung dengan konsumen di tengah persaingan e-commerce yang ketat.
Bagi Tencent, peluangnya lebih luas. WeChat sudah menjadi ruang komunikasi, pembayaran, konten, dan layanan. Jika AI agent berhasil masuk secara mulus, Tencent bisa membuat AI menjadi asisten harian yang bekerja di balik banyak aktivitas digital pengguna.
Namun, semakin berguna sebuah AI agent, semakin besar akses yang dibutuhkan terhadap data dan konteks pengguna. Di sinilah muncul dilema besar: kemudahan harus berjalan bersama kontrol, privasi, dan transparansi.
Meski terdengar praktis, AI agent juga membawa risiko baru. Rekomendasi yang diberikan AI tidak selalu netral. Platform bisa saja mendorong produk tertentu karena kerja sama komersial, margin lebih besar, atau kepentingan ekosistemnya sendiri.
Karena itu, transparansi menjadi penting. Pengguna perlu tahu apakah rekomendasi AI berdasarkan kebutuhan mereka, rating produk, harga terbaik, histori transaksi, atau karena produk tersebut sedang dipromosikan.
Privasi juga menjadi isu besar. Agar bisa membantu dengan baik, AI agent perlu memahami preferensi, riwayat belanja, lokasi, kebiasaan pembayaran, bahkan pola komunikasi. Semakin dalam data yang dipakai, semakin besar pula tanggung jawab platform untuk menjaga keamanan dan memberi kontrol kepada pengguna.
Persaingan Alibaba dan Tencent bukan sekadar perlombaan membuat chatbot paling pintar. Yang mereka kejar adalah posisi sebagai pintu masuk baru internet.
Alibaba mencoba memulainya dari e-commerce lewat Qwen dan Taobao. Tencent membawa peluang yang lebih luas lewat WeChat, aplikasi yang sudah melekat dalam kehidupan digital pengguna China. Keduanya sama-sama membaca arah yang sama: masa depan internet mungkin tidak lagi dimulai dari kolom pencarian atau deretan menu, tetapi dari percakapan dengan AI.
Bagi Indonesia, tren ini layak dipantau sejak sekarang. Dengan ratusan juta pengguna internet dan transaksi digital yang terus tumbuh, pasar lokal punya peluang besar untuk mengadopsi konsep serupa.
Namun, pemenangnya tidak selalu platform dengan AI paling canggih. Dalam layanan sehari-hari, yang paling menentukan adalah kepercayaan. AI agent bisa menjadi pintu masuk baru internet, tetapi hanya jika pengguna merasa aman, paham, dan tetap memegang kendali.