- 8.8/10 (12 Reviews)

- 20 hari lalu
Beijing mulai membatasi ekspor teknologi canggih ke Amerika Serikat. Kali ini sasarannya adalah industri panel surya

Jakarta - Apple siap memperluas keluarga Ultra mereka. Setelah Apple Watch Ultra dan chip seri M Ultra, perusahaan kini dikonfirmasi bakal merilis dua perangkat berlabel Ultra dalam waktu dekat - dan keduanya bukan aksesori, melainkan kategori produk baru yang punya pasar tersendiri.
iPhone Ultra akan menjadi smartphone lipat pertama Apple - sebuah langkah yang sudah dinantikan penggemar yang selama ini harus melirik kompetitor untuk mendapat form factor tersebut. Kalau rumor ini benar, iPhone Ultra akan diposisikan sebagai perangkat tier tertinggi di lineup Apple, bukan bagian dari seri iPhone 18 yang akan datang. Peluncurannya direncanakan bersamaan dengan iPhone 18 Pro, tapi kemungkinan beberapa minggu lebih lambat karena kompleksitas produksi perangkat lipat.
Strategi lipat ini sendiri bukan keputusan trivial. Pasar smartphone lipat global sudah berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, dengan Samsung mendominasi lewat seri Galaxy Z Fold dan Z Flip. Apple jelas tidak mau masuk terlambat, tapi mereka juga tidak mau asal-asalan. Informasi menyebutkan Apple baru akan melakukan komersialisasi foldable setelah masalah lipatan layar dan durabilitas bisa mereka jawab dengan standard Apple - yang terkenal perfectionist soal kualitas produk.
Di lini laptop, MacBook Ultra akan duduk di atas MacBook Pro dengan fitur yang membedakannya secara signifikan. Kabarnya laptop ini bakal hadir dengan layar OLED untuk kontras dan warna yang lebih kaya dibanding panel LCD yang dipakai di MacBook saat ini, plus dukungan sentuh - sesuatu yang belum pernah ada di lini MacBook konvensional selama ini. Bagi yang belum familiar, Apple selama ini sengaja memisahkan pengalaman sentuh di iPad saja, sehingga MacBook jadi satu-satunya laptop premium tanpa layar sentuh di kelasnya.
Konsumen yang tertarik harus siap mengeluarkan dana jauh lebih besar dibanding MacBook Pro - bisa jadi mulai dari Rp 40 juta ke atas untuk spesifikasi tertinggi. Untuk konteks, MacBook Pro M4 saat ini dijual mulai dari Rp 22 jutaan di Indonesia, jadi premium Ultra bisa melonjak drastis. Peluncurannya awalnya ditargetkan akhir 2026, tapi kini mundur beberapa bulan karena hambatan rantai pasok komponen memori dan layar OLED.
Kalau kita lihat pola historis Apple, mereka tidak asal menambahkan label Ultra tanpa konten. Apple Watch Ultra membawa GPS presisi tinggi dan desain yang dioptimalkan untuk atlet dan petualang. Chip M4 Ultra di Mac Studio menawarkan performa workstation untuk profesional kreatif. Artinya, MacBook Ultra bukan sekadar MacBook Pro yang lebih mahal - melainkan satu perangkat yang menjawab kebutuhan spesifik kalangan profesional yang butuh performa tinggi dalam bentuk yang lebih portabel dari MacBook Pro 16 inci.
Bloomberg pernah melaporkan bahwa AirPods Ultra juga masuk dalam radar Apple - yang kalau jadi kenyataan akan memperluas branding Ultra ke lini audio. Rencananya AirPods Ultra akan membawa fitur-fitur yang sekarang cuma ada di AirPods Pro versi paling tinggi, plus mungkin integrasi kesehatan pendengaran yang lebih canggih. Buat pasar Indonesia, ini menarik karena AirPods adalah salah satu produk Apple yang paling banyak digunakan di sini - baik yang beli resmi maupun lewat jalur tidak resmi.
Pergerakan Apple ke arah Ultra ini menunjukkan bahwa mereka mulai mengkonsolidasikan strategi premium ke dalam satu label yang jelas. Apple Watch Ultra sudah membuktikan bahwa ada pasar untuk perangkat dengan fitur canggih di kategori yang lebih spesifik. Kalau strategi yang sama diterapkan ke iPhone dan MacBook, konsumen akan punya pilihan yang lebih jelas tentang di mana posisi setiap produk dalam ekosistem Apple.
Dari perspektif bisnis, pendekatan ini juga membantu Apple mempertahankan margin tinggi di segmen premium. Setiap produk Ultra bukan upgrade incremental - melainkan lompatan signifikan yang justified oleh harga yang jauh lebih tinggi. Buat konsumen yang loyal ke ekosistem Apple, ini berarti ada pilihan yang lebih jelas: kalau mau yang terbaik dari yang terbaik, pilih Ultra; kalau mau yang terbaik dari yang standar, pilih Pro; kalau mau yang aksesibel, pilih seri reguler.
Produk Apple kelas atas biasanya masuk pasar Indonesia beberapa bulan setelah rilis global - jadi siapa tahu kapan kedua perangkat ini akan bisa dibeli resmi di tanah air. Kalau sejarah berulang, Indonesia biasanya dapat iPhone baru 3-6 bulan setelah launch global, dan produk premium seperti Ultra akan lebih lama lagi karena proses uji sertifikasi dan TKDN.
Bagi komunitas teknologi Indonesia, iPhone Ultra akan menjadi penanda baru tentang bagaimana Apple memandang segmen foldable phone yang selama ini dikuasai Samsung dan beberapa merek asal Tiongkok seperti Huawei, Xiaomi, dan Oppo. Kalau Apple masuk segmen ini dengan cara yang berbeda dari kompetitor - misalnya dengan ekosistem integrasi yang lebih dalam atau fitur exclusive yang hanya bisa dilakukan di hardware Apple - bisa jadi akan mengubah peta pasar foldable secara keseluruhan.
Harga foldable Samsung sekarang mulai dari Rp 15 jutaan untuk model terjangkau, dan kompetitor Tiongkok jual di kisaran Rp 10-20 jutaan. Kalau iPhone Ultra datang dengan harga premium yang signifikan seperti yang kami duga, segmentasi pasarnya jelas: Apple tidak mengincar market share besar di segmen ini, tapi untuk margin tinggi dari fans yang mau bayar premium buat pengalaman Apple yang beda.