- 8.8/10 (12 Reviews)

- 8 hari lalu
Username WhatsApp membantu pengguna berkomunikasi tanpa membuka nomor telepon, tetapi fitur ini juga memunculkan kekhawatiran soal impersonasi dan penipuan.

Hedra.ID, Jenewa - Per hari ini, Jumat (10/7/2026), International Telecommunication Union (ITU), badan PBB untuk teknologi digital, mengumumkan pembentukan Focus Group on Trust and Identity for Humans and Agentic AI. Fokusnya bukan membuat model AI lebih pintar. Yang ingin disusun adalah kerangka agar manusia dan AI agent bisa berinteraksi secara aman di berbagai sistem digital.
Kebingungan utamanya sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Selama AI diperlakukan sebagai alat bantu, rantai kendalinya masih mudah dibaca. Pengguna bertanya, sistem menjawab, lalu manusia memutuskan. AI agent mengubah susunan itu. Ia dapat diberi tujuan, menjalankan beberapa langkah, berinteraksi dengan sistem lain, bahkan mengambil tindakan atas nama pengguna.
Saat tindakan itu menyentuh transaksi, data, layanan publik, atau infrastruktur penting, pertanyaannya tidak berhenti pada apakah jawaban AI benar. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang sebenarnya sedang bertindak, atas izin siapa, dan sejauh mana kewenangannya berlaku.
AI agent sering dibayangkan sebagai asisten digital yang membuat pekerjaan lebih cepat. Ia bisa menjadwalkan, membeli, mencari informasi, menyusun alur kerja, atau menghubungkan beberapa aplikasi tanpa harus terus diarahkan manusia. Di sisi produktivitas, manfaatnya mudah dibayangkan. Di sisi kepercayaan, masalahnya lebih rumit.
Jika sebuah agent mengirim instruksi, membuka akses, atau berinteraksi dengan agent lain, pihak penerima perlu tahu identitasnya. Apakah ia benar mewakili pengguna tertentu? Apakah mandatnya masih aktif? Apakah ia boleh menyelesaikan transaksi sendiri, atau hanya boleh menyiapkan rekomendasi sebelum manusia memberi persetujuan?
Tanpa jawaban yang jelas, AI agent bisa menjadi aktor digital yang kabur. Ia terlihat bekerja atas nama seseorang, tetapi sulit ditelusuri ketika terjadi kesalahan. Masalahnya bukan hanya agent salah memahami perintah. Masalah yang lebih serius muncul ketika sistem lain memperlakukan agent itu seolah-olah ia memang berwenang penuh.
ITU menempatkan identitas dan trustworthiness sebagai dua lapis yang saling terhubung. Identitas menjawab siapa yang bertindak. Trustworthiness menjawab apakah perilaku aktor itu dapat dipercaya dalam situasi tertentu. Pemisahan ini penting karena identitas saja belum cukup. Sebuah agent bisa benar berasal dari organisasi tertentu, tetapi tetap bertindak di luar mandat, salah menafsirkan tujuan, atau mengambil langkah yang belum disetujui.
Risiko yang disebut ITU mencakup agent yang menyamar sebagai manusia atau organisasi, serta agent yang mengambil tindakan tanpa otorisasi. Dua risiko ini terdengar teknis, tetapi dampaknya bisa sangat konkret. Dalam transaksi finansial, agent yang salah dikenali dapat memicu pembayaran yang tidak sah. Dalam infrastruktur kritis, agent yang diberi akses terlalu luas bisa berubah dari alat bantu menjadi titik lemah baru.
Di sinilah kebutuhan standar mulai terasa. Perusahaan bisa membangun sistem identitas dan izin untuk agent masing-masing, tetapi AI agent kemungkinan tidak akan bekerja hanya di satu platform. Ia akan berpindah di antara aplikasi, penyedia layanan, basis data, dan agent lain. Jika setiap ekosistem membuat definisi sendiri tentang identitas, otorisasi, pencabutan izin, dan audit, kepercayaan lintas sistem akan mudah retak.
Focus Group ITU diarahkan untuk menyusun terminologi bersama, arsitektur rujukan, model lifecycle assurance, mekanisme interoperabilitas untuk identitas digital dan kredensial, kriteria keamanan, benchmark penilaian berkelanjutan, serta peta jalan standardisasi. Daftar itu memperlihatkan bahwa persoalan AI agent bukan hanya soal etika umum. Ia masuk ke desain teknis: bagaimana agent dikenali, diverifikasi, diberi batas, dinilai ulang, dan dicabut aksesnya ketika mandat berubah.
Standar bukan berarti semua risiko langsung selesai. Inisiatif ini belum menjadi regulasi yang mengikat, belum menjawab bagaimana setiap negara akan mengadopsinya, dan belum membuktikan apakah industri besar akan memakai kerangka yang sama. Pertemuan pertama Focus Group dijadwalkan berlangsung di Paris pada November 2026, lalu dilanjutkan di Geneva pada Januari 2027. Kerja intinya masih di depan.
Langkah ITU memberi sinyal bahwa agentic AI membutuhkan infrastruktur kepercayaan sebelum masuk terlalu jauh ke wilayah sensitif. Banyak pembahasan AI sebelumnya berputar pada konten: bias, halusinasi, hak cipta, atau deepfake. AI agent menggeser perhatian ke lapisan tindakan. Kesalahan tidak lagi berhenti pada teks yang keliru, tetapi bisa berubah menjadi keputusan operasional.
Pasar kemungkinan tetap bergerak lebih cepat daripada proses standardisasi. Vendor akan terus menawarkan agent yang lebih otonom, lebih terhubung, dan lebih mampu menyelesaikan tugas kompleks. Tanpa kerangka bersama, organisasi yang memakai agent akan menghadapi pertanyaan yang sama berulang kali: siapa yang boleh memberi izin, bagaimana izin itu dibuktikan, kapan izin berakhir, dan siapa yang bertanggung jawab bila agent bertindak keliru.
Pertanyaan yang perlu dijaga bukan lagi apakah AI agent akan dipakai. Arah industrinya sudah bergerak ke sana. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah agent masuk ke sistem penting sebagai aktor yang bisa dikenali, dibatasi, dan diaudit, atau sebagai lapisan otomatisasi baru yang baru dipersoalkan setelah terjadi kerugian.
Di titik itu, “trust” bukan kata promosi. Ia menjadi syarat operasional. AI agent yang bertindak atas nama manusia membutuhkan semacam KTP digital, rekam mandat, dan rem yang tetap bisa dijangkau manusia. Tanpa tiga hal itu, otonomi hanya memindahkan keputusan dari tangan manusia ke ruang yang makin sulit diperiksa.