
- 7 hari lalu
Beauty tech membuat skincare makin mirip layanan berbasis data lewat skin scan, AI, dan rekomendasi personal. Namun, teknologi ini tetap punya batas.

Hedra.ID, Jakarta - Berbicara dengan orang yang sudah meninggal dulu hanya mungkin lewat kenangan, foto, rekaman lama, atau percakapan batin yang sangat pribadi. AI mengubah bentuk pengalaman itu. Dengan jejak data yang cukup, sebuah sistem bisa dibuat untuk meniru gaya bicara, nada, bahkan cara seseorang merespons percakapan.
Di permukaan, teknologi seperti ini bisa terasa menenangkan. Orang yang berduka mungkin mendapat ruang untuk mengucapkan hal yang belum sempat disampaikan, mengingat kembali kebiasaan kecil, atau sekadar merasa tidak terlalu jauh dari seseorang yang sudah pergi.
Namun, justru di situlah kebingungan utamanya. Ketika rasa kehilangan diberi antarmuka percakapan, batas antara mengenang dan merasa sedang berhubungan kembali bisa menjadi kabur.
Istilah AI ghost merujuk pada sistem AI yang memakai data orang yang telah meninggal untuk membuat simulasi percakapan. Sistem seperti ini tidak menghadirkan kembali kesadaran, niat, atau perasaan orang tersebut. Ia menghasilkan respons baru berdasarkan data, pola bahasa, dan instruksi desain. Masalahnya, bagi pengguna yang sedang berduka, respons yang terasa mirip bisa punya bobot emosional yang sangat kuat.
Riset dari tim University of Colorado Boulder yang dipublikasikan di arXiv meneliti cara orang berinteraksi dengan “generative ghosts”. Studi kualitatif itu melibatkan 16 peserta dan membandingkan dua bentuk desain: mode representation, ketika AI membicarakan orang yang meninggal dari sudut pandang orang ketiga; dan mode reincarnation, ketika AI berbicara seolah-olah menjadi orang yang meninggal dari sudut pandang orang pertama.
Perbedaan dua mode itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya tidak kecil. Dalam mode representation, AI berperan seperti perantara memori. Ia membantu pengguna mengingat seseorang melalui cerita, deskripsi, atau gambaran tentang orang tersebut. Masih ada jarak yang jelas: sistem sedang membicarakan orang yang telah meninggal, bukan menjadi orang itu.
Mode reincarnation memberi pengalaman yang lebih langsung. Ketika AI memakai “aku” dan menjawab seolah-olah ia adalah orang yang sudah tiada, percakapan bisa terasa lebih dekat. Riset tersebut menemukan bahwa mode ini lebih disukai karena memberi rasa kehadiran yang lebih kuat. Pada saat yang sama, peserta juga menyampaikan kekhawatiran tentang risiko terlalu bergantung pada pengalaman semacam itu.
Bagian ini penting karena daya tarik AI ghost tidak selalu datang dari akurasi. Dalam temuan studi, peserta cenderung memberi bobot besar pada resonansi emosional dibanding ketepatan faktual. Jawaban AI bisa terasa “benar” jika nadanya cocok dengan ingatan pengguna, meskipun sistem itu tidak benar-benar mengetahui orang yang ditirukan.
Di sinilah AI ghost berbeda dari arsip foto, rekaman suara, atau pesan lama. Arsip menyimpan jejak yang sudah ada. AI ghost membuat respons baru. Ia tidak hanya menampilkan kembali masa lalu, tetapi menciptakan percakapan yang belum pernah terjadi.
Risiko AI ghost tidak harus dimulai dari niat buruk. Daya tariknya justru datang dari kebutuhan manusia yang wajar: ingin tetap merasa terhubung dengan orang yang hilang. Dalam beberapa situasi, percakapan dengan simulasi mungkin membantu seseorang menyusun kata-kata terakhir, memantik kenangan, atau memberi rasa lega sementara.
Tetapi karena bentuknya interaktif, pengalaman itu juga bisa memperpanjang rasa kehadiran. Pengguna bukan hanya melihat foto atau membaca pesan lama. Ia menunggu balasan. Balasan itulah yang membuat duka terasa memiliki lawan bicara baru, padahal yang bekerja tetap model AI, data, prompt, dan keputusan desain.
Karena itu, persoalannya tidak bisa diserahkan pada kemampuan teknis saja. Apakah sistem harus selalu mengingatkan bahwa ia hanya simulasi? Apakah AI boleh memakai sudut pandang orang pertama? Siapa yang berhak memberi izin atas data orang yang sudah meninggal? Bagaimana jika anggota keluarga tidak sepakat? Apakah layanan seperti ini boleh dibuat berlangganan atau dipasarkan kepada orang yang sedang rentan?
Riset lain tentang AI afterlives juga menyoroti kekhawatiran serupa: persetujuan, privasi setelah kematian, martabat orang yang direplikasi, dan komersialisasi duka. Masalahnya bukan sekadar AI bisa salah menjawab. Masalah yang lebih dalam adalah kemungkinan menjadikan kehadiran seseorang sebagai produk digital.
AI ghost tidak otomatis buruk. Mengingat orang yang sudah meninggal adalah bagian penting dari cara manusia memproses kehilangan. Banyak orang juga menjaga hubungan simbolik dengan mereka yang sudah tiada lewat foto, benda, pesan lama, ziarah, atau cerita keluarga. AI hanya membuat bentuk hubungan itu menjadi lebih interaktif dan lebih mudah diakses.
Namun, semakin personal teknologinya, semakin jelas pula batas yang dibutuhkan. Pengguna perlu tahu bahwa AI tidak menghadirkan kembali orang yang sudah meninggal. Sistem hanya meniru pola tertentu dari data yang tersedia. Ketika jawabannya terasa mirip, itu bukan bukti kehadiran, melainkan hasil simulasi yang berhasil menyentuh ingatan pengguna.
Batas lain menyangkut waktu dan intensitas penggunaan. AI ghost yang dipakai sesekali sebagai ruang mengenang punya risiko berbeda dari penggunaan yang membuat seseorang terus mencari validasi emosional dari simulasi. Riset awal ini belum cukup untuk menyimpulkan dampak psikologis jangka panjang, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa rasa dekat yang muncul bukan hal sepele.
Jadi sebaiknya melihat AI ghost sebagai teknologi memori, bukan pengganti hubungan. Ia mungkin membantu sebagian orang mengolah duka, tetapi tidak boleh disamarkan sebagai kehadiran orang yang benar-benar kembali.
Semakin realistis AI meniru suara, gaya bicara, dan ritme percakapan seseorang, semakin penting pertanyaan dasarnya: apakah teknologi ini membantu orang mengingat dengan lebih sehat, atau justru membuat kehilangan menjadi layanan digital yang sulit dilepaskan.