- 8.8/10 (12 Reviews)

- 9 hari lalu
Standar AI global perlu menjaga keamanan dan kepercayaan, tetapi tetap harus fleksibel agar tidak menjadi beban kepatuhan baru bagi UMKM.

Hedra.ID, Tokyo - Nvidia menggandeng Fujitsu, Fanuc, Yaskawa Electric, dan Kawasaki Heavy Industries untuk menjajaki pengembangan platform bersama bagi teknologi physical AI di Jepang. Inisiatif yang dipimpin Fujitsu itu ditujukan untuk menghubungkan sistem kecerdasan buatan dengan robot dan mesin yang bekerja di lingkungan fisik.
Physical AI merujuk pada penggunaan AI yang memungkinkan mesin memahami lingkungan, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan. Berbeda dari robot yang hanya mengikuti rangkaian instruksi tetap, sistem semacam ini diarahkan agar dapat menyesuaikan perilakunya dengan kondisi di pabrik, fasilitas kesehatan, rumah, maupun ruang publik.
“Dengan AI, robot akan menjadi cerdas, mudah beradaptasi, dan mudah diakses,” kata pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang, seperti dikutip Reuters dalam acara di Tokyo, Kamis (16/7/2026). Ia menilai kemampuan manufaktur dan robotika Jepang dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan mesin cerdas generasi berikutnya.
Huang juga menekankan reputasi Jepang dalam memproduksi barang dengan tingkat ketelitian tinggi. “Buatan Jepang berarti kualitas dan presisi tertinggi,” ujarnya, seraya menyebut konsep *kaizen* atau perbaikan berkelanjutan sebagai salah satu kekuatan industri negara tersebut.
Platform yang sedang dijajaki akan menggabungkan sejumlah teknologi Nvidia, termasuk Cosmos untuk membangun model yang memahami dunia fisik, Isaac sebagai perangkat pengembangan robot, Omniverse NuRec untuk menciptakan representasi digital, serta mesin fisika Newton. Teknologi itu dapat dipakai untuk melatih dan menguji robot dalam simulasi sebelum mesin diterapkan di tempat kerja sebenarnya.
Fujitsu akan memimpin pengembangan platform kendali kolaboratif tersebut. Sementara itu, Fanuc, Yaskawa Electric, dan Kawasaki Heavy Industries membawa pengalaman dalam robot industri, otomasi pabrik, transportasi, kesehatan, pembuatan kapal, energi, dan bidang manufaktur lainnya.
Pendekatan simulasi memungkinkan pengembang mencoba berbagai kondisi dan tugas tanpa langsung mengoperasikan robot di lingkungan nyata. Model kemudian dapat disesuaikan dengan jenis mesin, sensor, kendaraan, dan ruang kerja tertentu sebelum menjalani pengujian lanjutan.
Meski melibatkan sejumlah perusahaan besar, kerja sama ini belum menghasilkan produk robot komersial tertentu. Para pihak juga belum memutuskan pembentukan usaha patungan atau menetapkan kapan teknologi tersebut akan digunakan secara luas. Tahap pertama kolaborasi diperkirakan dimulai pada 2026.
Inisiatif yang dipimpin Fujitsu menjadi bagian dari perluasan ekosistem Cosmos di Jepang. Sejumlah perusahaan lain, termasuk Hitachi, NEC, Sony, SoftBank, Honda R&D, Kubota, OMRON, dan pengembang sistem otomasi, menyatakan niat bergabung dengan koalisi Nvidia tersebut.
Secara terpisah, perusahaan yang didukung pemerintah Jepang, Noetra, berencana membeli 27.500 GPU Nvidia Rubin untuk membangun infrastruktur komputasi physical AI. Pembangunan fasilitasnya ditargetkan dimulai pada April 2027, sedangkan operasi direncanakan berjalan pada Juni 2028.
Proyek Noetra dan kolaborasi Fujitsu bergerak pada jalur berbeda. Noetra menyiapkan kapasitas komputasi untuk pengembangan AI, sedangkan kelompok Fujitsu menjajaki platform yang dapat membawa model tersebut ke robot dan mesin industri. Keduanya masih berupa rencana pengembangan, bukan teknologi yang telah diterapkan secara luas.