
- 9 hari lalu
Belanja AI Big Tech terus membesar karena kebutuhan komputasi naik, tetapi investor mulai menunggu bukti bahwa infrastruktur mahal itu bisa menghasilkan imbal balik.

Hedra.ID, California -Netflix memperkirakan pendapatannya mencapai US$12,86 miliar pada kuartal III 2026 atau sekitar Rp232 triliun. Meskipun terlihat besar, ternyata proyeksi tersebut sedikit di bawah konsensus analis LSEG sebesar US$13 miliar atau sekitar Rp234,53 triliun.
Seperti diberitakan Reuters, Kamis (16/7/2026), Netflix juga memproyeksikan laba per saham terdilusi sebesar US$0,82, sementara analis memperkirakan US$0,84. Dalam rupiah, angkanya setara sekitar Rp14.794 dan Rp15.154 per saham. Selisih proyeksi yang relatif tipis tetap mendapat perhatian pasar karena investor sedang mengamati kemampuan Netflix mempertahankan pertumbuhan setelah periode panjang ekspansi pelanggan.
Saham Netflix turun hampir 8,6% menjadi US$67,99 dalam perdagangan setelah jam bursa seusai laporan tersebut diterbitkan. Prospek kuartal III masih menunjukkan pertumbuhan pendapatan, tetapi lajunya diperkirakan melambat menjadi 11,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Proyeksi itu muncul setelah Netflix membukukan pendapatan kuartal II sebesar US$12,56 miliar atau sekitar Rp226,59 triliun. Pendapatan tersebut tumbuh 13,4% secara tahunan, sedangkan laba per saham terdilusi mencapai US$0,80. Hasil kuartal II secara umum mendekati perkiraan analis, sehingga perhatian pasar lebih banyak tertuju pada prospek pertumbuhan perusahaan dalam tiga bulan berikutnya.
Untuk keseluruhan 2026, Netflix mempersempit proyeksi pendapatan menjadi US$51 miliar hingga US$51,4 miliar. Dengan kurs yang sama, rentang itu setara sekitar Rp920,09 triliun hingga Rp927,31 triliun. Perusahaan juga mempertahankan target pendapatan iklan sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp54,12 triliun pada akhir tahun.
Bisnis iklan menjadi salah satu jalur pertumbuhan yang terus dikembangkan Netflix ketika pertumbuhan layanan berlangganan mulai lebih matang. Perusahaan juga memperluas acara langsung dan gim, sementara jumlah pelanggan tidak lagi diterbitkan setiap kuartal sejak 2025. Netflix terakhir menyebut memiliki lebih dari 325 juta pelanggan berbayar pada April 2026.
Dari sisi penggunaan, Netflix menyatakan jam tontonan meningkat 2% pada semester pertama 2026. Perusahaan juga mengatakan teknologi kecerdasan buatan generatif telah digunakan dalam sekitar 300 judul, terutama untuk proses pascaproduksi. Angka tersebut merupakan keterangan perusahaan mengenai penggunaan teknologi dalam produksinya, bukan ukuran keberhasilan komersial setiap judul.
Bersamaan dengan laporan keuangan, Netflix mengumumkan perubahan jadwal publikasi laporan What We Watched. Mulai Januari 2027, laporan jam tontonan yang sebelumnya terbit dua kali setahun akan diterbitkan setahun sekali. Netflix mengatakan perubahan itu dilakukan agar perhatian lebih terarah pada ukuran keuangan utama, yakni pendapatan dan laba operasional.
Prospek kuartal III menunjukkan Netflix masih tumbuh, tetapi ekspektasi pasar terhadap perusahaan tetap tinggi. Dengan kinerja kuartal II yang relatif sesuai perkiraan, penurunan saham setelah laporan lebih mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan berik