
- 2 bulan lalu
Indonesia memilih jalan tengah di tengah perebutan chip dan AI global. Mineral kritis, talenta digital, dan hilirisasi menjadi kunci agar tidak sekadar jadi pasar.

Hedra.ID, Eropa - Rusia diduga memakai kapal “shadow fleet” sebagai bagian dari kampanye drone di Eropa. Dugaan itu muncul dalam laporan International Institute for Strategic Studies yang mengaitkan pergerakan kapal bayangan Rusia dengan penampakan drone di dekat bandara, instalasi militer, dan lokasi sensitif lain.
Berdasarkan laporan Associated Press, Selasa (7/7/2026), IISS mencatat 144 dugaan penampakan drone di Eropa sepanjang 2024 hingga 2026. Insiden itu tersebar di sejumlah negara, termasuk Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Inggris, dan Denmark. Sebagian penampakan disebut mengganggu penerbangan sipil hingga memicu penutupan sementara bandara.
Laporan tersebut tidak menyebut drone Ukraina membayangi kapal Rusia. Dugaan utamanya justru mengarah pada penggunaan kapal yang terkait shadow fleet sebagai titik peluncuran atau pemulihan drone. Shadow fleet merujuk pada kapal dengan kepemilikan dan rute yang tidak transparan, yang selama ini dikaitkan dengan upaya Rusia menghindari sanksi.
The Guardian juga menulis kampanye tersebut diduga menyasar lokasi militer dan nuklir di Eropa, termasuk pangkalan udara dan fasilitas strategis. IISS menilai pola penampakan drone itu sulit dijelaskan hanya sebagai salah identifikasi, aktivitas hobi, atau gangguan acak.
Namun, atribusi ke Rusia tetap belum sepenuhnya pasti. AP mencatat beberapa pejabat Eropa mengakui penelusuran asal drone semacam ini sulit dilakukan. Rusia juga sebelumnya membantah menjalankan kampanye sabotase terhadap Eropa.
Temuan ini menyorot celah pertahanan Eropa terhadap drone kecil yang terbang rendah dan sulit dilacak. Jika kapal shadow fleet benar dipakai sebagai titik operasi, ancamannya tidak hanya datang dari perbatasan darat, tetapi juga dari perairan internasional di sekitar Eropa.