- 8.8/10 (12 Reviews)

- 8 hari lalu
TikTok mengonfirmasi PHK karyawan di Indonesia. Perusahaan belum mengungkap jumlah pekerja terdampak maupun unit bisnis yang terkena.

Hedra.ID, Walldrof - Persaingan software biasanya paling terlihat sebelum pembelian. Perusahaan membandingkan fitur, harga, keamanan, dan kemampuan sebuah sistem untuk menopang kegiatan operasional.
Namun, kasus SAP di Uni Eropa memperlihatkan bahwa persaingan tidak berhenti setelah kontrak ditandatangani. Ketika software sudah terpasang dan terhubung dengan proses penting perusahaan, aturan pemeliharaan, struktur lisensi, serta biaya untuk meninggalkan atau kembali ke suatu layanan ikut menentukan seberapa nyata pilihan yang dimiliki pelanggan.
Pada Kamis (9/7/2026), Komisi Eropa menerima komitmen SAP untuk menjawab kekhawatiran persaingan pada layanan pemeliharaan dan dukungan software Enterprise Resource Planning atau ERP yang dipasang di infrastruktur pelanggan.
Komitmen tersebut kini mengikat secara hukum. Meski demikian, keputusan ini bukan kesimpulan bahwa SAP terbukti melanggar aturan persaingan Uni Eropa. Melalui mekanisme komitmen, regulator dapat menghentikan proses dengan mewajibkan perusahaan menjalankan perubahan tertentu tanpa menetapkan adanya pelanggaran.
ERP bukan aplikasi yang berdiri sendiri. Sistem ini dapat terhubung dengan keuangan, sumber daya manusia, pengadaan, proyek, hingga operasi perusahaan. Setelah menjadi bagian dari proses inti, mengganti ERP utama tidak sesederhana membeli lisensi dari penyedia lain.
Di luar software utamanya, ada pula layanan pemeliharaan dan dukungan. Layanan ini mencakup pembaruan, perbaikan, serta bantuan teknis agar sistem tetap berfungsi. Untuk instalasi ERP SAP tertentu, layanan semacam itu tidak hanya dapat disediakan oleh SAP, tetapi juga oleh perusahaan pihak ketiga.
Persaingan kemudian bergeser ke lapisan setelah pembelian. Pelanggan tidak harus mengganti seluruh sistem untuk memilih penyedia dukungan lain. Namun, pilihan itu baru berarti apabila kontrak memungkinkan mereka memisahkan bagian sistem, menghentikan layanan yang tidak lagi dibutuhkan, atau kembali ke dukungan SAP tanpa menanggung biaya yang terlalu besar.
Lock-in, karena itu, tidak selalu muncul karena teknologinya mustahil dipindahkan. Hambatan juga dapat terbentuk melalui syarat komersial yang membuat alternatif tersedia di atas kertas, tetapi sulit atau mahal digunakan dalam praktik.
Dalam penilaian awal yang diterbitkan pada September 2025, Komisi Eropa menyoroti empat praktik pada layanan pemeliharaan ERP on-premise SAP.
Pertama, pelanggan disebut harus mengambil pemeliharaan dari SAP untuk seluruh software ERP SAP yang mereka miliki, dengan jenis dukungan dan kondisi harga yang sama. Susunan ini dapat membatasi kemampuan pelanggan membagi kebutuhan dukungan kepada beberapa penyedia.
Kedua, regulator menyoroti kesulitan menghentikan pemeliharaan untuk lisensi yang sudah tidak digunakan. Akibatnya, pelanggan dapat tetap membayar dukungan meski sebagian lisensinya tidak lagi dibutuhkan.
Ketiga, Komisi mempersoalkan masa awal lisensi yang diperpanjang sehingga layanan pemeliharaan belum dapat dihentikan.
Keempat, pelanggan yang sempat meninggalkan dukungan SAP dapat dikenai biaya pengaktifan kembali dan biaya pemeliharaan untuk periode sebelumnya ketika ingin kembali.
Biaya kembali menjadi bagian penting dalam persoalan ini. Secara formal, pelanggan mungkin dapat meninggalkan layanan. Namun, risiko membayar biaya tambahan saat ingin kembali dapat membuat perpindahan terasa terlalu mahal sejak awal.
SAP menyatakan kebijakan barunya akan memberi pelanggan ruang untuk membagi lingkungan software on-premise mereka ke dalam beberapa instalasi komersial. Setiap bagian dapat memakai tingkat dukungan SAP yang berbeda, tidak memakai dukungan SAP, atau menggunakan penyedia lain.
Perusahaan juga akan memperluas akses terhadap kontrak yang memakai satu metrik untuk menghitung biaya lisensi sebagai dasar tarif pemeliharaan. Menurut SAP, pendekatan ini memungkinkan biaya menyesuaikan perubahan kondisi bisnis pelanggan.
Ketentuan bagi pelanggan yang kembali ke dukungan SAP juga diubah. SAP menyatakan tidak akan lagi mengenakan biaya administrasi pengaktifan kembali. Biaya pemeliharaan untuk masa sebelumnya dibatasi pada jumlah yang lebih rendah antara enam bulan atau 50% dari biaya selama pelanggan tidak memakai layanan. Sejumlah produk lama juga dikecualikan dari biaya tersebut.
Komitmen ini berlaku secara global selama sepuluh tahun dan pelaksanaannya akan dipantau oleh pihak pengawas. Ruang lingkupnya tetap terbatas. Perubahan tersebut menyangkut kebijakan pemeliharaan dan dukungan untuk produk on-premise, bukan layanan cloud SAP.
Perubahan ini juga tidak otomatis membuat pelanggan mudah mengganti ERP utama. Integrasi sistem, migrasi data, penyesuaian proses bisnis, kebutuhan keamanan, dan ketergantungan operasional masih dapat menjadikan perpindahan software sebagai proyek besar.
Bagian yang berubah terutama berada pada lapisan layanan setelah pembelian: bagian mana yang perlu didukung, siapa yang memberikan dukungan, dan biaya apa yang muncul ketika pelanggan mengubah susunannya.
Penyedia software utama memang memiliki hubungan langsung dengan instalasi, lisensi, dan pembaruan produknya. Posisi tersebut tidak dengan sendirinya menjadi masalah. Kekhawatiran persaingan muncul ketika kendali atas produk utama berpotensi mempersempit pilihan pada pasar layanan yang tumbuh di sekelilingnya.
Dalam penilaian awalnya, Komisi Eropa menyebut SAP memiliki posisi dominan pada pasar pemeliharaan dan dukungan ERP on-premise miliknya di Kawasan Ekonomi Eropa. Karena pihak ketiga juga menyediakan dukungan bagi sistem tersebut, aturan yang menentukan apakah pelanggan dapat memakai layanan mereka ikut memengaruhi ruang persaingan.
Penyedia dukungan yang berbeda dapat menawarkan susunan harga, tingkat layanan, dan model pemeliharaan yang tidak sama. Namun, ketika seluruh instalasi harus masuk ke satu paket kontrak, penyedia lain akan sulit bersaing hanya pada bagian yang mampu mereka layani.
Kasus ini memperlihatkan perbedaan antara keberadaan kompetitor dan kemampuan pelanggan untuk memilihnya. Sebuah pasar bisa saja memiliki beberapa penyedia, tetapi manfaat persaingan tetap terbatas apabila biaya keluar, aturan lisensi, atau syarat untuk kembali membuat perpindahan tidak praktis.
Komitmen SAP membuka struktur layanan yang lebih fleksibel, tetapi dampak ekonominya belum dapat dinilai. Hal ini dikarenakan belum tersedia data mengenai berapa banyak pelanggan yang akan memisahkan instalasi, menghentikan dukungan untuk lisensi tak terpakai, atau berpindah ke penyedia pihak ketiga.
Selain itu, belum ada pula dasar untuk memastikan perubahan ini akan menurunkan harga pemeliharaan. Sehingga, hasilnya akan bergantung pada cara kebijakan diterapkan, kemampuan penyedia lain menawarkan layanan, kebutuhan teknis setiap pelanggan, serta efektivitas pengawasan selama masa komitmen.
Kasus ini juga tidak berarti seluruh model bisnis software perusahaan bersifat antipersaingan. Tidak setiap biaya perpindahan otomatis melanggar hukum.
Batas persoalannya lebih spesifik, di mana dalam software perusahaan, kebebasan memilih tidak cukup diukur dari banyaknya produk atau penyedia yang tersedia. Pilihan baru bekerja ketika pelanggan benar-benar dapat mengubah susunan layanan tanpa terhalang kontrak dan biaya yang menghilangkan manfaat perpindahan itu sendiri.