
- 22 hari lalu
Samsung resmi memperluas fitur Galaxy AI ke perangkat generasi sebelumnya melalui pembaruan One UI 8.5.

Jakarta - Perusahaan kecerdasan buatan asal Thailand mengambil langkah strategis di pasar Indonesia dengan menggandeng pionir pusat data lokal. PT Sertis Teknologi Indonesia resmi berdiri sebagai joint venture antara Sertis dan DCI Indonesia yang didirikan Toto Sugiri, mempertemukan keahlian AI dari Thailand dengan infrastruktur pusat data dalam negeri yang telah matang.
Yang membedakan kemitraan ini dari joint venture AI pada umumnya adalah lokasi infrastruktur yang bersifat on-shore. Artinya, data pelanggan tidak dikirim ke luar negeri untuk diproses -- semua berjalan di dalam negeri, sesuai regulasi yang berlaku di Indonesia. DCI Indonesia sendiri memiliki sertifikasi Tier IV, tingkat kematangan tertinggi untuk pusat data, sehingga infrastruktur yang menopang layanan AI ini telah teruji keandalannya. Ini menjadi nilai jual utama di pasar yang selama ini concerned dengan isu kedaulatan data.
Toto Sugiri bukan orang baru di industri pusat data Indonesia. Sebagai Founder dan CEO DCI Indonesia, ia telah membangun reputasi sebagai pionir yang memahami seluk-beluk infrastruktur data di tanah air. Sementara Sertis datang membawa kapabilitas AI, Toto Sugiri membawa pemahaman mendalam tentang kondisi infrastruktur dan regulasi Indonesia -- kombinasi yang tidak semua joint venture miliki.
Thuchakorn Vachiramon, CEO Sertis, memimpin langsung kemitraan ini, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi prioritas dalam ekspansi regional mereka. Sertis mengklaim telah menangani lebih dari 400 implementasi AI dan data di Asia Tenggara sebelum membuka operasional di tanah air -- pengalaman yang cukup untuk mereka mengetahui mana yang sudah teruji dan mana yang perlu penyesuaian.
Target sektor yang disasar meliputi ritel, keuangan, pertanian, dan energi. Keempat sektor ini sebenarnya telah mulai meng eksplorasi AI, namun implementasinya masih jauh dari matang. Retail masih belum optimal dalam personalisasi dan manajemen inventaris. Keuangan telah menggunakan AI untuk deteksi fraude, namun layanan pelanggan masih manual. Pertanian baru mulai berbicara tentang analitik prediktif. Energi masih dalam fase adopsi awal.
Dengan demikian, pasarnya masih luas dan persaingan belum seketat di sektor lain yang sudah lebih matang. Bagi Sertis, ini sekaligus menjadi peluang dan tantangan -- peluang karena dapat masuk sebelum pasar jenuh, tantangan karena harus edukasi pasar yang belum sepenuhnya siap.
Apabila kemitraan ini berhasil dan mendapatkan p traction di pasar Indonesia, ini dapat menjadi model bagi pemain AI internasional lainnya yang ingin masuk namun tidak ingin repot mencari infrastruktur lokal yang dapat diandalkan. Keberadaan entitas lokal yang bonafide -- bukan sekadar reseller atau mitra -- memungkinkan mereka langsung berkontrak dengan institusi besar tanpa harus melewati proses yang berbelit.
Namun tantangannya juga nyata. Pasar Indonesia memiliki dinamika dan kebutuhan yang berbeda dari negara-negara lain di kawasan. Sertis telah terbukti di konteks Asia Tenggara, namun Indonesia memiliki karakteristik sendiri yang membutuhkan penyesuaian. Keberhasilan mereka sangat bergantung pada kemampuan melokalisasi produk dan layanan, bukan sekadar membawa teknologi yang sudah ada.