
- 9 hari lalu
Apple resmi mengumumkan pergantian kepemimpinan tertinggi setelah mengarungi era Tim Cook selama kurang lebih 15 tahun.

Hedra.ID, California - Nama Friendster mungkin terasa seperti bagian dari masa lalu internet. Dulu, platform ini sempat jadi pintu masuk banyak orang Indonesia ke dunia media sosial.
Sekarang, Friendster kembali. Tapi bukan dalam bentuk yang sama. Alih-alih menghidupkan versi lama, platform ini hadir sebagai aplikasi baru dengan pendekatan yang berbeda dari media sosial saat ini.
Friendster tidak lagi bergantung pada algoritma untuk mengatur apa yang dilihat pengguna. Tidak ada feed yang disusun dari kebiasaan atau dorongan untuk terus scroll. Pendekatannya lebih sederhana: menghubungkan orang secara langsung.
Friendster versi baru tidak menggunakan sistem rekomendasi seperti platform lain. Tujuannya adalah mengembalikan fungsi dasar jejaring sosial: menjaga koneksi, bukan mengoptimalkan waktu layar.
Platform ini juga tidak menampilkan iklan. Menurut pengembangnya, data pengguna tidak dijual, meski hal ini tetap perlu dilihat bagaimana praktiknya ke depan.
Perbedaan paling terasa ada di cara menambahkan koneksi. Pengguna tidak bisa sekadar mencari nama lalu menambahkan teman.
Koneksi hanya bisa dibuat saat dua orang berada di tempat yang sama. Prosesnya memanfaatkan perangkat untuk saling terhubung secara langsung.
Menurut programmer Mike Carson dalam blognya, konsep ini sengaja dibuat agar proses berteman mendorong orang untuk bertemu langsung. Cara tersebut juga dinilai bisa memastikan bahwa koneksi yang terbentuk berasal dari orang nyata, sekaligus orang yang memang ingin terhubung.
Carson diketahui membeli domain dan merek dagang Friendster yang sudah kedaluwarsa dalam periode 2023 hingga 2025. Sejak saat itu, ia mulai mengembangkan platform baru dengan nama yang sama.
Namun, belum jelas apakah Friendster akan diperluas ke Android atau versi web. Model bisnisnya juga masih jadi tanda tanya, mengingat platform ini tidak mengandalkan iklan dan menawarkan layanan yang terbatas.
Carson menyebut, ia tidak terlalu fokus mencari keuntungan dari Friendster. Ia berharap platform ini setidaknya bisa membiayai operasionalnya sendiri. Ke depan, ada kemungkinan fitur premium berbayar akan diperkenalkan, meski hal itu belum menjadi prioritas saat ini.
Friendster memposisikan diri sebagai platform yang lebih privat. Tidak ada iklan, tidak ada algoritma, dan tidak ada dorongan untuk terus aktif. Pengalaman yang ditawarkan terasa lebih tenang dibandingkan media sosial pada umumnya.
Namun, semua ini masih sebatas klaim dari pengembang. Perlu waktu untuk melihat apakah pendekatan ini benar-benar konsisten dijalankan.
Kehadiran Friendster versi baru tidak datang tanpa konteks. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pengguna merasa lelah dengan media sosial yang terlalu ramai dan cepat.
Konten yang terus mengalir, tekanan untuk aktif, hingga isu privasi membuat sebagian orang mulai mencari alternatif yang lebih sederhana.
Saat ini, aplikasi Friendster baru tersedia untuk perangkat iOS dan belum dirilis secara luas ke semua negara. Belum ada informasi resmi kapan platform ini akan hadir di Android atau diperluas ke pasar lain, termasuk Indonesia.
Kondisi ini membuat adopsinya masih sangat awal, dan kemungkinan baru menjangkau kelompok pengguna tertentu. Padahal, di Indonesia nama Friendster punya nilai nostalgia yang kuat.
Sekedar membalik waktu, Friendster didirikan pada tahun 2002 di Mountain View, California. Setelah diakuisisi oleh MOL Global pada 2009, perusahaan ini mengalihkan fokusnya ke social gaming dan beroperasi terutama dari Kuala Lumpur, Malaysia.
Friendster kemudian menghentikan seluruh operasinya dan resmi tutup sebagai perusahaan pada Juni 2018. Platform ini tampaknya kesulitan untuk bersaing dengan Facebook dan MySpace yang kala itu sedang trending.
Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar menghidupkan kembali nama lama. Friendster harus bisa membuktikan bahwa pendekatan barunya memang relevan dengan kebutuhan pengguna hari ini.