- 8.8/10 (12 Reviews)

- 2 bulan lalu
Komisi Eropa merekomendasikan negara anggota EU mengecualikan Huawei dan ZTE dari infrastruktur telekomunikasi, di tengah aturan siber baru yang menyasar pemasok berisiko tinggi.

Hedra.ID, Jakarta - Deepfake dulu sering dibicarakan sebagai ancaman untuk politik, selebritas, atau tokoh publik. Namun, kini risikonya bergerak lebih dekat ke kehidupan sehari-hari. Teknologi yang mampu meniru wajah dan suara seseorang itu mulai dipakai untuk penipuan yang jauh lebih personal: love scam, panggilan darurat palsu, investasi bodong, hingga video call yang terlihat meyakinkan.
Masalahnya, penipuan deepfake tidak lagi sekadar mengandalkan pesan teks yang mencurigakan. Pelaku bisa membangun kedekatan emosional, meniru identitas orang tertentu, lalu meyakinkan korban melalui suara, foto, bahkan panggilan video yang tampak nyata.
Kasus terbaru terjadi pada seorang pekerja rumah tangga asal Filipina yang dilaporkan kehilangan tabungan setahun setelah menjadi korban romance scam berbasis AI. Pelaku berpura-pura menjadi Putra Mahkota Dubai, Sheikh Hamdan bin Mohammed, lalu menggunakan deepfake dalam komunikasi dan video call untuk membangun kepercayaan korban. Korban akhirnya mengirim sekitar 100.000 peso Filipina atau sekitar US$1.625 untuk biaya dokumen palsu dan janji pekerjaan di Dubai.
Kasus ini menunjukkan satu hal penting: deepfake scam bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga soal manipulasi psikologis. Pelaku tidak selalu langsung meminta uang. Mereka membangun cerita, menciptakan kedekatan, lalu memanfaatkan rasa percaya korban.
Deepfake membuat penipuan digital naik kelas. Jika sebelumnya korban masih bisa curiga karena pesan terasa janggal atau suara terdengar tidak natural, kini pelaku bisa menambahkan lapisan visual dan audio yang lebih meyakinkan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, pernah mengingatkan bahwa AI membuat ancaman penipuan digital semakin kompleks karena teknologi ini mampu menghasilkan konten palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan. “Sekarang suara kita bisa ditiru, gambar wajah kita bisa ditiru,” ujarnya dalam Indonesia Ethical AI Summit di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Nezar juga menyebut masyarakat awam makin mudah terkecoh karena hasil manipulasi AI sudah masuk ke wilayah “realitas sintetik”. Menurutnya, kondisi ini membuat scam berbasis AI menjadi ancaman yang perlu diantisipasi serius.
Di sinilah masalahnya. Deepfake tidak hanya dipakai untuk memalsukan figur terkenal. Dalam banyak kasus, pelaku justru meniru orang yang dekat dengan korban: atasan, rekan kerja, keluarga, pasangan online, petugas bank, atau pihak yang terlihat punya otoritas.
Salah satu bentuk paling berbahaya adalah video call palsu. Dalam kasus korporasi yang pernah terjadi di Hong Kong, seorang pekerja keuangan tertipu mentransfer sekitar US$25 juta setelah mengikuti konferensi video yang berisi sosok deepfake menyerupai pimpinan perusahaan dan koleganya. Kasus ini menjadi contoh bahwa deepfake bukan lagi sekadar gambar editan, tetapi bisa masuk ke ruang pengambilan keputusan penting.
Modus seperti ini berbahaya karena video call selama ini dianggap sebagai cara verifikasi yang lebih aman. Saat wajah dan suara tampak cocok, korban cenderung menurunkan kewaspadaan. Padahal, teknologi AI kini bisa membuat tiruan wajah, suara, dan ekspresi yang cukup meyakinkan dalam situasi tertentu.
Penelitian terbaru tentang suara sintetis juga menunjukkan tantangan serupa. Dalam studi mengenai skenario vishing atau penipuan suara, peserta kesulitan membedakan suara AI dan suara manusia. Rata-rata akurasi mereka bahkan berada di bawah tebakan acak, yang menunjukkan bahwa mengandalkan “rasa yakin” saja tidak cukup untuk mengenali suara palsu.
Yang membuat deepfake scam semakin sulit dihadapi adalah sifatnya yang emosional. Pelaku tidak hanya menjual investasi palsu atau meminta transfer mendadak. Mereka bisa menciptakan cerita yang menyentuh: orang tua sakit, peluang kerja di luar negeri, hubungan asmara, hadiah besar, atau permintaan bantuan dari orang dekat.
Dalam love scam, misalnya, korban tidak hanya dirugikan secara finansial, tetapi juga secara emosional. Mereka dibuat percaya bahwa hubungan yang dibangun selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan adalah nyata. Ketika deepfake masuk ke dalam pola ini, rasa percaya korban bisa semakin kuat karena mereka merasa sudah “melihat” atau “mendengar” langsung orang tersebut.
Federal Trade Commission di Amerika Serikat mencatat kerugian akibat imposter scam mencapai US$3,5 miliar pada 2025. FTC menyebut penipuan penyamaran menjadi kategori fraud yang paling banyak dilaporkan, dengan pelaku memanfaatkan teks, telepon, email, media sosial, mesin pencari, dan kanal digital lainnya.
Di Indonesia, ancaman penipuan digital juga terus berkembang. Indonesia Anti-Scam Centre bersama sejumlah otoritas lintas negara mencatat lebih dari 138.000 kasus penipuan dalam operasi bersama periode Maret hingga Mei 2026, dengan total kerugian sekitar US$752 juta. Modus yang ditemukan antara lain penipuan belanja daring, pekerjaan, investasi, penyamaran sebagai pejabat pemerintah, hingga menyamar sebagai kerabat atau teman.
Meski tidak semua kasus itu berbasis deepfake, datanya menunjukkan bahwa penipuan digital sudah menjadi kejahatan lintas negara yang terorganisir. Ketika AI membuat penyamaran semakin mudah dan murah, risiko bagi masyarakat juga ikut meningkat.
Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan pengguna untuk tidak mengklik tautan mencurigakan. Masyarakat juga perlu terbiasa memverifikasi identitas, terutama saat ada permintaan uang, data pribadi, kode OTP, atau instruksi mendadak melalui telepon dan video call.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, jangan langsung percaya pada panggilan video atau suara, terutama jika orang tersebut meminta transfer uang, data pribadi, atau keputusan cepat. Kedua, lakukan verifikasi lewat kanal lain. Jika seseorang mengaku sebagai keluarga, atasan, atau petugas bank, hubungi kembali melalui nomor resmi atau kontak yang sudah tersimpan sebelumnya.
Ketiga, buat kode verifikasi pribadi dengan keluarga atau tim kerja untuk situasi darurat. Cara ini sederhana, tetapi bisa membantu membedakan panggilan asli dan panggilan palsu. Keempat, jangan mudah terpancing emosi. Penipu biasanya menciptakan tekanan agar korban mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
OJK juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kerahasiaan data pribadi, termasuk informasi rekening, kode OTP, dan kata sandi, serta melaporkan indikasi aktivitas keuangan ilegal atau penipuan transaksi keuangan melalui kanal resmi.
Deepfake scam menunjukkan bahwa era digital memasuki fase baru. Di masa lalu, kita diajarkan untuk tidak percaya pada pesan dari nomor asing. Sekarang, tantangannya lebih rumit: kita juga tidak bisa langsung percaya hanya karena melihat wajah atau mendengar suara yang familiar.
AI membuat penipuan terasa lebih nyata, lebih personal, dan lebih sulit dikenali. Namun, bukan berarti masyarakat tidak bisa melindungi diri. Kuncinya adalah membangun kebiasaan baru: selalu jeda, cek, dan konfirmasi sebelum mengambil keputusan penting.
Pada akhirnya, deepfake bukan hanya ancaman teknologi. Ia adalah ancaman terhadap rasa percaya. Dan di dunia digital yang makin dipenuhi konten sintetis, kemampuan untuk memverifikasi bisa menjadi bentuk perlindungan paling penting.