
- 4 bulan lalu
Qualcomm mengakuisisi Arduino, perusahaan hardware asal Italia, untuk memperkuat posisinya di sektor robotika dan IoT. Simak detail dan dampaknya.
Bayangkan sebuah perusahaan berusia 175 tahun, yang dulunya membuat kaca untuk bohlam lampu Thomas Edison, kini menjadi tulang punggung revolusi kecerdasan buatan (AI). Corning, yang mungkin Anda kenal lewat teknologi Gorilla Glass di ponsel, baru saja mengamankan kesepakatan bernilai 6 miliar dollar AS dengan Meta.
Kesepakatan besar ini bukan tentang layar ponsel, melainkan tentang kabel serat optik. Meta membutuhkan jutaan mil kabel untuk menghubungkan pusat data AI mereka di seluruh Amerika Serikat. Menariknya, kebutuhan AI akan konektivitas jauh lebih rakus dibandingkan pusat data tradisional yang kita kenal selama ini.
Mengapa AI membutuhkan begitu banyak kaca? Jawabannya terletak pada cara kerja generative AI. Sistem ini memerlukan jaringan yang menghubungkan ribuan unit pengolah grafis (GPU) agar bisa bekerja seperti sinapsis di otak manusia. Di sinilah Corning memainkan peran krusial melalui penemuan terbarunya bernama Contour.
Contour adalah jenis serat optik baru yang sangat fleksibel dan jauh lebih kecil dari standar industri. Dalam ruang terbatas di pusat data, efisiensi tempat adalah segalanya. Teknologi ini memungkinkan Meta memasukkan jumlah serat dua kali lebih banyak ke dalam saluran kabel yang sama, tanpa mengorbankan performa.
Meskipun begitu, tantangan terbesar bagi Corning bukan hanya soal inovasi, melainkan kapasitas produksi. CEO Corning, Wendell Weeks, mengakui bahwa permintaan saat ini sangat luar biasa. Di pusat produksinya di North Carolina, perusahaan ini terus berekspansi untuk memenuhi pesanan dari raksasa lain seperti Nvidia, OpenAI, dan Google.
Banyak analis mempertanyakan apakah kegilaan investasi AI ini hanyalah gelembung yang siap meletus, serupa dengan fenomena dot-com tahun 2000. Saat itu, saham Corning sempat hancur ketika permintaan serat optik tiba-tiba berhenti. Namun, perusahaan ini telah bertransformasi menjadi entitas yang jauh lebih tangguh.
Strategi mereka saat ini adalah diversifikasi yang sangat disiplin. Selain serat optik, Corning tetap memimpin di sektor kaca otomotif, layar televisi, hingga botol vaksin medis. Pendekatan ini memberikan bantalan finansial yang kuat jika sewaktu-waktu belanja besar-besaran perusahaan teknologi untuk infrastruktur AI mulai mendingin.
Di sisi lain, efisiensi energi menjadi alasan mengapa serat optik sulit digantikan oleh tembaga. Mengirimkan data menggunakan foton (cahaya) mengonsumsi energi 5 hingga 20 kali lebih rendah daripada elektron. Mengingat konsumsi listrik AI yang masif, penghematan energi sekecil apa pun akan menjadi sangat signifikan bagi operasional perusahaan teknologi.
Keberanian Corning untuk terus berinovasi sering kali dipicu oleh tekanan dari para visioner. Wendell Weeks mengenang momen tahun 2007 saat Steve Jobs memaksa mereka menciptakan kaca yang "tidak mungkin" untuk iPhone pertama. Semangat yang sama kini dibawa untuk mendukung ekosistem AI domestik di Amerika Serikat.
Langkah Meta untuk bekerja sama dengan Corning juga merupakan bagian dari strategi rantai pasok dalam negeri. Dengan 26 dari 30 pusat datanya berada di AS, Meta ingin memastikan pasokan infrastruktur inti mereka tidak terganggu oleh dinamika geopolitik global.
Ke depannya, peran kaca akan semakin mendalam hingga ke level mikroskopis dalam kemasan semikonduktor. Dari menyediakan energi melalui komponen panel surya hingga menggantikan kabel tembaga di dalam rak server, Corning membuktikan bahwa material kuno seperti kaca tetap menjadi kunci untuk masa depan digital yang paling canggih sekalipun.