
- 4 bulan lalu
Qualcomm mengakuisisi Arduino, perusahaan hardware asal Italia, untuk memperkuat posisinya di sektor robotika dan IoT. Simak detail dan dampaknya.
Satu tahun lalu, banyak orang mengira DeepSeek hanyalah kejutan sesaat. Namun kini jelas, itu bukan anomali. Ia justru menandai fase baru ambisi China di kecerdasan buatan, yang pusat gravitasinya bukan lagi model AI, melainkan perangkat keras.
Amerika Serikat masih memimpin di level terdepan. Model paling mutakhir dan chip tercepat tetap datang dari Silicon Valley. Meski begitu, China sedang memainkan permainan berbeda. Mereka tidak berusaha menang di puncak, tetapi menyebar luas.
Di tengah pembatasan ekspor chip canggih, laboratorium AI China dipaksa berhemat. Akses ke GPU kelas atas terbatas. Akibatnya, efisiensi menjadi keharusan, bukan pilihan. Dari tekanan itu lahir pendekatan baru dalam melatih dan menjalankan model.
DeepSeek menjadi simbolnya. Model tersebut menunjukkan bahwa performa tinggi bisa dicapai tanpa chip termahal. Banyak pengamat awalnya meremehkan pencapaian itu. Namun data adopsi global berbicara lain.
Model-model AI asal China kini digunakan luas, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di Eropa, Afrika, hingga Amerika Latin. Biayanya lebih murah. Kinerjanya cukup untuk sebagian besar kebutuhan bisnis.
Perhatian kini bergeser ke perangkat keras. Huawei dan Cambricon memimpin barisan pemain mapan. Di belakangnya, muncul gelombang perusahaan baru yang dijuluki “empat naga”: More Threads, MetaX, Biren, dan Enflame.
More Threads, pembuat GPU domestik pertama China, bersiap melantai di bursa Shanghai. Saham perusahaan sejenis sebelumnya melonjak tajam, mencerminkan optimisme investor terhadap chip AI lokal.
Huawei sendiri memiliki rencana tiga tahun untuk mendekati, bahkan melampaui, Nvidia. Secara performa, chip Ascend mereka belum setara. Namun jaraknya menyempit di setiap generasi.
Beberapa startup AI China bahkan telah meluncurkan model yang sepenuhnya dilatih menggunakan chip Huawei. Ini bukan sekadar eksperimen. Ini sinyal bahwa ekosistem mulai bisa berdiri sendiri.
Cambricon juga mempercepat produksi. Tahun ini, targetnya setengah juta akselerator AI untuk menggantikan chip Nvidia. Di sisi lain, Alibaba dan Baidu ikut mengembangkan chip internal mereka.
Lonjakan ini bukan kebetulan. Beijing berperan aktif. Pemerintah China menyiapkan insentif sekitar 70 miliar dolar AS, di luar dana lama senilai 50 miliar dolar, untuk menopang industri semikonduktor.
Di sisi permintaan, negara ikut mengarahkan pasar. Perusahaan teknologi besar diminta mengurangi penggunaan chip asing. Pusat data yang didanai negara bahkan melarang chip non-lokal.
Pendekatan ini memang menciptakan permintaan “buatan”. Jika pasar dibuka sepenuhnya, dominasi chip lokal belum tentu bertahan. Namun dalam jangka pendek, strategi ini efektif membangun skala.
Ironisnya, pembatasan AS justru mempercepat kemandirian China. Selama bertahun-tahun, para insinyur dipaksa melakukan optimasi tingkat rendah. Mereka belajar memeras performa dari sumber daya terbatas.
China juga mengandalkan strategi kuantitas. Jika tidak bisa mendapat chip terbaik, mereka menggunakan lebih banyak chip. Ribuan GPU digabung untuk menutup celah performa.
Pendekatan ini tidak efisien. Konsumsi daya melonjak. Namun China memiliki satu keunggulan krusial: kemampuan membangun pembangkit listrik dengan cepat dan terpusat.
Produksi listrik China meningkat jauh lebih agresif dibanding AS. Dari batu bara hingga nuklir dan energi terbarukan, semuanya digarap serentak. Sementara itu, ekspansi energi di AS cenderung melambat.
Dalam perlombaan AI, listrik kini menjadi bottleneck. China bisa mengalokasikan energi ke pusat data sesuai prioritas nasional. Di negara demokrasi, keputusan semacam itu jauh lebih rumit.
Ancaman terbesar bagi AS mungkin bukan soal siapa paling canggih. Risikonya adalah siapa yang paling banyak digunakan.
China tidak hanya mengekspor model atau chip. Mereka menawarkan paket lengkap. Perangkat keras, model open-source, perangkat lunak, hingga dukungan implementasi dijual sebagai satu sistem siap pakai.
Strategi ini mengingatkan pada ekspansi perangkat telekomunikasi Huawei satu dekade lalu. Infrastruktur dipasang di negara berkembang yang membutuhkan teknologi terjangkau.
Hasilnya adalah ketergantungan jangka panjang. Bukan karena kualitas terbaik, tetapi karena akses paling realistis.
Washington mulai menyadari pergeseran ini. Alih-alih menutup total, AS kini mengizinkan penjualan chip Nvidia generasi lama ke China. Tujuannya memperlambat, bukan menghentikan.
Namun banyak yang menilai langkah ini terlambat. Ekosistem lokal China sudah terbentuk. DeepSeek mungkin hanya awal.
China tidak harus menang di garis depan. Cukup mendominasi lapisan bawah, menyebar luas, dan menjadi standar de facto di sebagian besar dunia. Dalam perang teknologi, itu sering kali sudah cukup.