
- 7 hari lalu
Kampanye #PSBlackout mengajak pemain tidak login, bermain, atau berbelanja di PlayStation selama sepekan untuk memprotes penghentian disc mulai 2028.

Hedra.ID, Jakarta - Cashback, potongan harga, atau bebas biaya administrasi mudah terlihat sebagai alasan orang memakai dompet digital. Ketika beberapa metode pembayaran tersedia untuk transaksi yang sama, insentif semacam itu bisa membuat satu pilihan terasa lebih menguntungkan.
Namun, menjelaskan pertumbuhan dompet digital hanya lewat promo juga terlalu sederhana. Layanan ini sekarang dipakai untuk semakin banyak kebutuhan, terhubung dengan berbagai aplikasi, dan bisa digunakan di lebih banyak tempat. Promo bekerja di dalam ekosistem pembayaran yang sudah jauh lebih praktis dibanding ketika dompet digital masih sebatas alternatif pembayaran.
Jadi, pertanyaannya bukan apakah dompet digital tumbuh karena praktis atau karena promo. Data yang tersedia justru menunjukkan keduanya bekerja pada bagian berbeda dari keputusan pengguna: promo dapat menarik transaksi, sementara kepraktisan membantu membuat layanan tetap relevan.
Dalam laporan Kontan, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut konsumen semakin berorientasi pada harga. Harga menjadi salah satu pertimbangan sebelum seseorang memutuskan membeli produk.
“Di kondisi seperti ini, harga di e-commerce bisa lebih murah dibandingkan dengan di toko offline,” ujarnya.
Ketika harga sudah menjadi pertimbangan kuat, promo pembayaran menambah lapisan insentif berikutnya. Konsumen bukan hanya membandingkan harga barang, tetapi juga biaya akhir setelah potongan, cashback, atau biaya transaksi diperhitungkan.
Riset Digital Wallet Research 2026 dari Ipsos Indonesia menunjukkan pola serupa dari sisi preferensi pengguna. Di antara jenis promo yang ditanyakan, bebas biaya administrasi dipilih 79% responden, cashback 71%, dan diskon atau potongan harga 66%.
Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa promo masih efektif. Manfaatnya mudah dihitung dan langsung terasa dalam satu transaksi.
Tetapi survei preferensi tidak otomatis membuktikan bahwa promo menjadi penyebab utama pertumbuhan seluruh transaksi dompet digital. Pengguna dapat memilih sebuah layanan karena promo pada satu kesempatan, lalu menggunakannya lagi karena alasan yang berbeda.
Ipsos juga menemukan bahwa dompet digital sudah masuk ke berbagai aktivitas sehari-hari. Responden menggunakannya untuk belanja online, membeli makanan dan minuman, membayar tagihan rutin, hingga mentransfer uang ke rekening bank.
Semakin banyak kebutuhan yang bisa diselesaikan melalui metode pembayaran yang sama, semakin kecil kebutuhan pengguna untuk berpindah cara bayar pada setiap transaksi.
Pada responden Gen Z, misalnya, kepraktisan disebut oleh 57% sebagai faktor dalam memilih dompet digital. Transaksi bebas biaya administrasi berada di 49%, sementara fleksibilitas penggunaan di berbagai merchant mencapai 48%.
Tiga angka itu memperlihatkan bahwa manfaat fungsional dan manfaat finansial tidak berdiri sendiri. Pengguna bisa menginginkan transaksi yang mudah sekaligus murah.
Executive Director Ipsos Indonesia Andi Sukma merangkum hubungan itu dengan mengatakan, “Promo mungkin masih menjadi pintu masuk utama, tetapi integrasi ekosistem, kemudahan penggunaan, keamanan, dan relevansi gaya hidup akan menjadi pembeda utama dalam jangka panjang.”
Pernyataan tersebut tetap perlu dibaca sebagai interpretasi Ipsos terhadap hasil risetnya, bukan bukti bahwa promo pasti kehilangan pengaruh. Namun, ia menunjukkan perbedaan penting antara sesuatu yang membuat pengguna mencoba atau memilih layanan dan sesuatu yang membuat layanan itu tetap berguna setelah transaksi pertama selesai.
Konteks yang lebih luas terlihat dari data Bank Indonesia. Pada Juli 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi, tumbuh 28,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 24,25%, sedangkan transaksi QRIS tumbuh 82,42%.
Perluasan penerimaan pembayaran digital juga terus berjalan. Hingga Juni 2026, Bank Indonesia mencatat QRIS telah menjangkau 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant.
Data tersebut tidak khusus mengukur dompet digital. Karena itu, pertumbuhan QRIS atau pembayaran digital secara keseluruhan tidak bisa dipakai sebagai bukti bahwa satu faktor tertentu membuat transaksi dompet digital meningkat.
Namun, data itu menunjukkan lingkungan yang berubah. Semakin banyak pengguna dan merchant menerima pembayaran digital, semakin banyak pula situasi ketika metode pembayaran digital dapat digunakan tanpa harus menunggu promo.
Di sinilah perbedaan antara promo dan kepraktisan menjadi lebih jelas. Promo dapat membuat satu transaksi terasa lebih menarik karena pengguna memperoleh manfaat yang langsung terlihat. Kepraktisan bekerja dengan cara berbeda: pembayaran tersedia ketika dibutuhkan, prosesnya tidak merepotkan, dan layanan terhubung dengan aktivitas yang memang sudah dilakukan pengguna.
Karena itu, pertumbuhan dompet digital tidak cukup dijelaskan sebagai hasil “bakar uang”, tetapi juga belum bisa disebut sepenuhnya lepas dari insentif. Sumber yang tersedia menunjukkan promo masih punya tempat penting, sementara kegunaan sehari-hari semakin ditopang oleh kemudahan, integrasi layanan, dan luasnya penerimaan pembayaran digital.
Pegangan sederhananya adalah membedakan alasan memilih dengan alasan terus memakai. Promo bisa memenangkan satu transaksi. Agar dompet digital tetap digunakan setelahnya, layanan tersebut tetap harus berguna ketika tidak ada diskon yang menunggu.