- 8.8/10 (12 Reviews)

- 4 hari lalu
Robot humanoid kini mampu mencatat waktu lari impresif, tetapi kesiapan bekerja bergantung pada otonomi, presisi, dan kemampuan menyelesaikan tugas nyata.

Hedra.ID, Jakarta - Tiga dekade lalu, ponsel masih memiliki fungsi yang relatif sederhana. Kini satu perangkat dapat menjadi ruang kerja, kamera, alat pembayaran, pusat hiburan, hingga pintu masuk ke berbagai layanan digital. Perubahan inilah yang ikut mewarnai perjalanan 30 tahun Erajaya Group di Indonesia.
Didirikan pada 1996, Erajaya awalnya dikenal sebagai perusahaan distribusi dan ritel perangkat telekomunikasi. Bisnisnya kemudian berkembang jauh lebih luas, mencakup smartphone, komputer, perangkat Internet of Things, wearable, produk olahraga, hingga makanan dan minuman.
Transformasi tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan perilaku masyarakat Indonesia yang semakin digital dan mobile-first.
Data Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 230 juta penduduk Indonesia telah menggunakan internet pada akhir 2025. Tingkat penetrasinya mencapai 80,5%, sementara jumlah koneksi seluler aktif mencapai 331 juta atau setara 116% dari populasi.
Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa perangkat teknologi kini tidak lagi berdiri sebagai produk tunggal. Smartphone, laptop, earbuds, smartwatch, layanan digital, hingga sistem pembayaran semakin terhubung dalam aktivitas sehari-hari.
Perubahan paling mudah terlihat pada fungsi smartphone. Perangkat yang dulu terutama dipakai untuk menelepon dan mengirim pesan kini digunakan untuk bekerja, mengikuti kelas online, membuat konten, bermain game, memesan makanan, hingga melakukan transaksi keuangan.
Dalam satu hari, pengguna bisa berpindah dari laptop untuk rapat, smartphone untuk membalas pesan, earbuds untuk panggilan, kemudian smartwatch untuk memantau aktivitas olahraga.
Batas antara perangkat produktivitas dan hiburan pun semakin tipis. Tablet yang digunakan untuk membaca dokumen pada pagi hari, misalnya, bisa berubah menjadi layar streaming pada malam hari. Smartphone yang digunakan untuk mobile banking juga dapat menjadi kamera utama untuk membuat konten media sosial.
Bagi industri ritel teknologi, perubahan tersebut berarti kebutuhan konsumen tidak lagi berhenti pada membeli perangkat. Pengguna juga mempertimbangkan ekosistem, kompatibilitas aksesori, layanan purna jual, hingga bagaimana satu perangkat terhubung dengan perangkat lainnya.
Perubahan perilaku tersebut ikut tercermin dalam strategi bisnis Erajaya. Sepanjang 2025, bisnis digital memang masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 74% terhadap pendapatan perusahaan. Namun Erajaya terus memperluas portofolio melalui bisnis active lifestyle serta food and nourishment.
Portofolionya kini mencakup kategori yang semakin beragam. Selain jaringan ritel perangkat digital, Erajaya mengembangkan bisnis olahraga dan gaya hidup serta menghadirkan sejumlah merek seperti ANTA dan Wilson. Di sektor makanan dan minuman, perusahaan juga memperluas bisnisnya melalui berbagai merek, termasuk CHAGEE. Diversifikasi ini memperlihatkan perubahan menarik.
Transformasi digital juga terlihat jelas dari cara masyarakat Indonesia bertransaksi. Teknologi saat ini tidak lagi terpisah dari gaya hidup. Earbuds berkaitan dengan olahraga, smartwatch terhubung dengan kebugaran, smartphone menjadi alat pembayaran ketika makan di restoran, sementara aplikasi digital membantu konsumen menemukan dan membeli produk.
Ekosistem teknologi pada akhirnya bergerak mengikuti aktivitas manusia. Bank Indonesia mencatat volume pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada kuartal II 2026, tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Transaksi melalui aplikasi mobile meningkat 31,39%, sementara volume transaksi QRIS melonjak 100,12 persen secara tahunan.
Perubahan tersebut membuat perjalanan konsumen semakin terhubung. Seseorang dapat menemukan sebuah produk melalui media sosial, membandingkan spesifikasi lewat smartphone, mencoba perangkat di toko, melakukan pembayaran secara digital, kemudian mengakses layanan purna jual melalui kanal online.
Model seperti ini membuat batas antara toko fisik dan e-commerce semakin tidak relevan. Konsumen tidak selalu memilih salah satunya. Mereka dapat menggunakan keduanya dalam satu perjalanan pembelian.
Erajaya mencoba menjawab perubahan tersebut melalui strategi omnichannel. Hingga kuartal I 2026, perusahaan mengoperasikan lebih dari 2.400 gerai di Indonesia yang terhubung dengan ekosistem perdagangan digital. Program loyalitas MyEraspace juga sudah memiliki lebih dari 17,5 juta anggota.
Skala ini cukup berbeda dibandingkan Erajaya pada masa awal ketika bisnisnya masih sangat berfokus pada distribusi perangkat telekomunikasi. Sepanjang 2025, Erajaya membukukan penjualan bersih Rp76,6 triliun dengan laba kotor Rp8,35 triliun. Pada kuartal pertama 2026, penjualan bersih mencapai Rp22,4 triliun atau tumbuh 41,1 persen secara tahunan.
Erajaya juga berada di peringkat ke-84 Fortune Southeast Asia 500 pada 2026, naik dari posisi ke-89 tahun sebelumnya. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut perusahaan masuk dalam daftar tersebut.
CEO PT Erajaya Swasembada Tbk Budiarto Halim mengatakan perjalanan tiga dekade perusahaan dipenuhi proses perubahan.
“Tiga puluh tahun menjadi perjalanan pembelajaran, adaptasi, dan transformasi yang berkelanjutan bagi Erajaya,” ujar Budiartonya melalui keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Kamis (28/8/2026).
Menariknya, perubahan teknologi juga memengaruhi ruang fisik. Café dan restoran, misalnya, tidak lagi hanya menjadi tempat makan. Banyak orang menggunakannya sebagai ruang kerja sementara, tempat meeting, belajar, atau sekadar membuka laptop sambil tetap terhubung dengan kolega.
Teknologi mendukung perubahan tersebut melalui laptop yang semakin ringan, koneksi mobile, cloud storage, earbuds dengan noise cancellation, serta sistem pembayaran digital.
Hal yang sama terjadi pada olahraga. Smartwatch dan perangkat wearable membuat aktivitas fisik semakin terhubung dengan data. Pengguna dapat memantau detak jantung, jarak lari, kualitas tidur hingga tingkat pemulihan tubuh.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan industri teknologi tidak selalu berarti orang membeli lebih banyak gadget. Yang berubah adalah semakin luasnya peran teknologi dalam aktivitas sehari-hari.
Setelah 30 tahun, tantangan Erajaya dan industri teknologi secara umum mungkin tidak lagi sebatas menghadirkan perangkat terbaru.
Konsumen kini menghadapi pilihan produk yang jauh lebih banyak. Smartphone semakin mirip dalam spesifikasi, perangkat AI semakin mudah ditemukan, sementara siklus upgrade gadget juga semakin panjang.
Dalam kondisi seperti itu, pengalaman konsumen menjadi semakin penting. Kemudahan mendapatkan perangkat, integrasi antara kanal online dan offline, layanan purna jual, program loyalitas, hingga ekosistem produk bisa menjadi faktor pembeda selain harga dan spesifikasi.
Erajaya sendiri mengatakan akan melanjutkan ekspansi jaringan, terutama di luar Jawa, sekaligus memperkuat diversifikasi bisnis, ekosistem omnichannel, serta kemitraan dengan berbagai merek global.
Perjalanan 30 tahun Erajaya pada akhirnya juga menjadi gambaran bagaimana industri teknologi Indonesia berubah. Dari masa ketika ponsel hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, masyarakat kini hidup dalam ekosistem digital yang menghubungkan pekerjaan, pendidikan, hiburan, olahraga, belanja, dan transaksi.
Teknologi tidak lagi sekadar produk yang dibawa di dalam saku. Ia perlahan menjadi infrastruktur yang mengikuti hampir setiap bagian kehidupan sehari-hari.