- 8.8/10 (12 Reviews)

- 10 hari lalu
Beauty tech membuat skincare makin mirip layanan berbasis data lewat skin scan, AI, dan rekomendasi personal. Namun, teknologi ini tetap punya batas.

Hedra.ID, Jakarta - Ketika pemerintah menyeleksi pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk jaringan seluler, keduanya mudah terlihat seperti dua versi dari sumber daya yang sama. Operator mendapat frekuensi, lalu frekuensi itu dipakai untuk memperkuat jaringan.
Namun, perbedaan angkanya bukan sekadar soal mana yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setiap pita membawa karakteristik yang berbeda. Itu sebabnya 700 MHz dan 2,6 GHz tidak tepat dipahami sebagai dua pilihan yang saling menggantikan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyelesaikan tahapan lelang harga dan pemilihan blok untuk kedua pita tersebut pada Juli 2026. Hasil peringkat seleksi diumumkan pada 10 Juli, tetapi prosesnya belum selesai. Peserta masih memiliki masa sanggah hingga 14 Juli 2026, sementara pemenang resmi menunggu penetapan melalui keputusan Menteri Komunikasi dan Digital.
Di balik proses seleksi itu, ada pertanyaan yang lebih dekat dengan pengalaman pengguna: mengapa jaringan seluler membutuhkan 700 MHz dan 2,6 GHz sekaligus?
Pita 700 MHz termasuk kelompok low-band. GSMA menempatkan frekuensi di bawah 1 GHz sebagai spektrum yang memiliki karakter propagasi kuat untuk menjangkau wilayah luas dan menembus lebih dalam ke bangunan.
Karakter itu membuat 700 MHz berguna ketika jaringan perlu memperkuat lapisan cakupan. Bukan berarti satu pemancar dengan frekuensi ini otomatis menyelesaikan seluruh persoalan sinyal. Jaringan tetap harus dibangun dan dioperasikan. Namun, dibandingkan pita yang lebih tinggi, low-band memiliki karakter dasar yang lebih mendukung jangkauan luas.
Fungsi ini penting ketika kebutuhan jaringan bukan hanya menambah kecepatan di lokasi yang sudah padat pengguna, tetapi juga memperluas wilayah yang dapat dilayani. ITU juga menjelaskan bahwa jaringan 5G membutuhkan kombinasi low-band, mid-band, dan high-band untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.
Pita 2,6 GHz berada di kelompok mid-band. Menurut GSMA, kelompok ini mencakup frekuensi sekitar 1 hingga 7 GHz dan digunakan untuk menyediakan kapasitas dengan cakupan yang lebih luas dibandingkan pita berfrekuensi sangat tinggi.
Jika 700 MHz membantu jaringan menjangkau area lebih luas, 2,6 GHz lebih cocok dipahami sebagai salah satu lapisan untuk menambah kapasitas. Kebutuhan itu muncul ketika semakin banyak perangkat harus dilayani dan lalu lintas data meningkat.
ITU menggambarkan mid-band sebagai jembatan antara cakupan luas dan kapasitas tinggi. Jadi, 2,6 GHz bukan “lebih baik” daripada 700 MHz. Pita ini menjawab kebutuhan yang berbeda.
Perbedaan tersebut juga terlihat pada struktur blok dalam hasil peringkat seleksi. Untuk pita 700 MHz, blok yang tercantum bagi tiga peserta adalah 30 MHz, 20 MHz, dan 20 MHz. Pada pita 2,6 GHz, alokasinya tercantum sebesar 80 MHz, 60 MHz, dan 50 MHz.
Angka itu tidak bisa dibaca begitu saja sebagai penentu pita mana yang paling unggul. Struktur blok kedua pita memang berbeda, sebagaimana fungsi keduanya di dalam jaringan.
Lebar blok yang lebih besar dapat menyediakan lebih banyak ruang spektrum untuk jaringan. Namun, pengalaman pengguna tidak bisa disimpulkan hanya dari angka frekuensi atau jumlah MHz. Cara operator membangun dan mengoperasikan jaringan tetap menentukan hasil akhirnya.
Kesalahan paling mudah adalah membayangkan 2,6 GHz sebagai pengganti 700 MHz karena angkanya lebih tinggi. Sebaliknya, 700 MHz juga tidak otomatis lebih unggul hanya karena dapat menjangkau area lebih luas.
Jaringan seluler modern bekerja dengan beberapa lapisan spektrum. Low-band membantu menyediakan cakupan. Mid-band memberi keseimbangan antara jangkauan dan kapasitas.
Pita yang lebih tinggi lagi dapat digunakan untuk kebutuhan kapasitas yang sangat besar di area tertentu. GSMA dan ITU sama-sama menempatkan kombinasi beberapa kelompok frekuensi sebagai bagian penting dari pembangunan jaringan seluler generasi baru.
Bagi pengguna, hasil akhirnya diharapkan terasa sederhana: sinyal tersedia di lebih banyak tempat, sementara jaringan tetap mampu melayani kebutuhan data. Namun, di balik pengalaman itu, operator tidak bergantung pada satu frekuensi yang dianggap sempurna untuk semua keadaan.
Seleksi 700 MHz dan 2,6 GHz memperlihatkan mengapa pembahasan spektrum tidak cukup berhenti pada siapa memperoleh berapa banyak MHz. Fungsi setiap pita di dalam jaringan juga perlu dilihat.
Frekuensi yang lebih tinggi tidak otomatis lebih baik untuk setiap kebutuhan. Jangkauan yang lebih luas juga tidak otomatis menyelesaikan persoalan kapasitas. Nilai 700 MHz dan 2,6 GHz justru terlihat ketika keduanya bekerja sebagai lapisan yang berbeda dalam satu jaringan yang sama.