- 8.8/10 (12 Reviews)

- 11 hari lalu
Prediksi AI sepakbola terlihat meyakinkan karena memakai angka, rating, dan simulasi. Namun, hasilnya tetap probabilitas, bukan kepastian pertandingan.

Hedra.ID, Jakarta - Mengunggah foto ke akun Instagram publik berarti menerima bahwa foto itu dapat dilihat orang di luar lingkaran pertemanan. Namun, ketika AI generatif ikut masuk, muncul pertanyaan lain: apakah sesuatu yang bisa dilihat publik juga otomatis boleh dipakai untuk membuat gambar baru?
Kontroversi terbaru di Meta memperlihatkan bahwa dua hal tersebut tidak selalu dianggap sama. Ya, perusahaaan teknologi ini sempat memperkenalkan kemampuan pada Muse Image yang memungkinkan pengguna menyebut akun Instagram publik sebagai referensi dalam pembuatan gambar AI. Perusahaan juga menyediakan pengaturan bagi pengguna yang ingin mematikan kemampuan tersebut.
Fitur itu kemudian dihentikan setelah mendapat kritik soal privasi dan cara persetujuan pengguna diterapkan. Meta mengatakan pendekatan tersebut tidak sesuai dengan respons yang mereka terima.
Pengaturan akun publik pada dasarnya menjawab satu pertanyaan: siapa yang dapat melihat konten yang diunggah? Fitur AI membawa pertanyaan itu ke tahap berikutnya. Bukan lagi hanya siapa yang bisa melihat sebuah foto, tetapi apa yang dapat dilakukan sistem atau pengguna lain dengan foto tersebut.
Dalam kasus Muse Image, konten dari akun Instagram publik dapat dijadikan referensi saat pengguna membuat gambar melalui Meta AI. Fungsi kontennya pun berubah. Foto tidak lagi hanya tampil sebagai unggahan yang bisa dilihat, tetapi dapat masuk ke proses pembuatan visual baru.
Perubahan fungsi tersebut membuat label “publik” tidak cukup untuk menjelaskan seluruh persoalan. Seseorang bisa memilih akun publik karena ingin karya, aktivitas, atau profilnya mudah ditemukan. Pilihan itu belum tentu menjawab apakah orang tersebut juga setuju fotonya dipakai sebagai referensi untuk menghasilkan gambar baru melalui AI.
Meta memang menyediakan kontrol untuk mematikan fitur tersebut. Namun, kritik yang dilaporkan Reuters menyoroti penggunaan mekanisme opt-out. Artinya, pengguna perlu menonaktifkan penggunaan itu jika tidak menginginkannya. SAG-AFTRA, serikat yang mewakili aktor dan pekerja media, termasuk pihak yang meminta mekanisme persetujuan yang lebih jelas.
Perbedaan antara opt-in dan opt-out menjadi penting di sini. Opt-in meminta pengguna menyatakan persetujuan sebelum suatu penggunaan diaktifkan. Opt-out memulai dari kondisi sebaliknya: penggunaan tersedia lebih dulu, kemudian pengguna diberi pilihan untuk mematikannya.
Keduanya sama-sama menawarkan kontrol, tetapi titik awalnya berbeda. Perbedaan itulah yang dapat memengaruhi bagaimana pengguna memahami persetujuan mereka.
Jauh sebelum AI generatif, konten publik sudah bisa dibagikan ulang, disimpan, diambil tangkapan layarnya, atau dipindahkan ke konteks lain.
AI menambah lapisan baru karena konten tidak hanya disalin. Sebuah foto dapat dipakai sebagai referensi untuk menghasilkan visual lain yang tetap membawa unsur identitas, rupa, atau ciri dari sumber awal.
Di sinilah perbedaan antara akses dan transformasi menjadi lebih penting. Melihat foto publik berarti mengakses konten yang memang tersedia untuk dilihat. Menggunakan foto itu sebagai referensi dalam sistem generatif melibatkan fungsi yang berbeda: foto menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan keluaran baru.
Kasus Muse Image tidak otomatis memberi jawaban hukum atau etika yang berlaku untuk semua layanan AI. Aturan platform, desain fitur, wilayah, dan bentuk penggunaan dapat berbeda. Namun, kasus ini memberi contoh konkret bahwa pengaturan “publik” saja belum cukup untuk menjelaskan semua kemungkinan penggunaan sebuah konten.
Meta pada akhirnya menghentikan kemampuan untuk mereferensikan akun Instagram publik tersebut. Dalam pembaruan pengumuman Muse Image, perusahaan menyatakan bahwa tujuan awalnya adalah menyediakan alat kreatif sambil memberi pengguna kontrol atas penggunaan konten publik mereka. Setelah menerima tanggapan pengguna, fitur itu ditarik.
Semakin banyak alat AI dapat membaca, menggabungkan, atau mengubah konten yang sudah ada, semakin penting bagi platform untuk menjelaskan bukan hanya apa yang bersifat publik, tetapi juga bagaimana konten publik dapat dipakai oleh sistem generatif.
Bagi pengguna, ada beberapa lapisan yang perlu dibedakan. Siapa yang dapat melihat sebuah unggahan tidak selalu sama dengan siapa yang dapat membagikannya, apakah konten itu dapat dipakai sebagai referensi AI, atau apakah persetujuan harus diberikan lebih dulu.
Satu tombol “akun publik” tidak selalu menjawab semua pertanyaan tersebut. Kasus Meta memperlihatkan bahwa persoalannya bukan sekadar apakah sebuah foto tersedia di internet. Yang berubah adalah fungsi foto itu: dari konten yang dipublikasikan untuk dilihat menjadi bahan yang dapat dipakai untuk membentuk keluaran baru.
Saat kemampuan AI terus berkembang, desain persetujuan ikut menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna. Pengguna perlu mengetahui bukan hanya siapa yang dapat melihat kontennya, tetapi juga kapan konten itu mulai dipakai dengan cara yang berbeda dari tujuan awal saat diunggah. Di era AI generatif, akses publik dan izin penggunaan bukan dua hal yang otomatis sama.