
- 4 hari lalu
Ponsel lipat memperluas kemampuan smartphone, sedangkan ponsel minimalis membatasi gangguan. Bentuknya mirip, tetapi masalah yang dijawab berbeda.

Hedra.ID, Rusia - Rusia menjerat pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, dengan tuduhan membantu kegiatan terorisme. Dinas Keamanan Federal Rusia atau FSB juga menyatakan Durov telah dimasukkan ke dalam daftar pencarian internasional.
Seperti diberitakan BBC, Kamis (30/7/2026), perkara ini bermula dari tuduhan bahwa Telegram tidak menghapus sejumlah kanal, percakapan, dan bot yang disebut digunakan oleh intelijen Ukraina serta kelompok ekstremis untuk merencanakan serangan di wilayah Rusia.
Salah satu layanan yang menjadi sorotan adalah Daivinchik, yang juga dikenal sebagai Leo. Bot kencan populer di Telegram itu dituduh digunakan oleh agen Ukraina untuk mendekati warga Rusia.
Menurut FSB, para agen tersebut menyamar sebagai perempuan muda, membangun komunikasi dengan pengguna, lalu membujuk atau memaksa mereka melakukan tindakan kriminal.
FSB mengklaim telah menangkap 46 warga Rusia berusia 12 hingga 22 tahun sepanjang setahun terakhir setelah mereka diduga direkrut melalui bot tersebut. Para tersangka dituduh menyerang aparat serta membakar fasilitas transportasi, energi, komunikasi, dan keuangan.
Meski demikian, klaim mengenai pola perekrutan tersebut dan kaitannya dengan pengelolaan Telegram belum diverifikasi secara independen. Ukraina juga belum memberikan tanggapan ketika tuduhan itu diumumkan.
Pemerintah Rusia menyatakan Durov akan ditempatkan dalam daftar pencarian internasional. Namun, otoritas belum menjelaskan lembaga maupun mekanisme hukum yang digunakan untuk menerbitkan status tersebut.
Pengumuman dari Rusia tidak serta-merta berarti Interpol telah mengeluarkan Red Notice terhadap Durov. Status itu juga tidak otomatis mewajibkan negara lain menangkap atau menyerahkannya kepada pemerintah Rusia.
Proses hukum lintas negara umumnya bergantung pada permintaan resmi, aturan ekstradisi, serta keputusan otoritas di negara tempat seseorang berada.
Durov saat ini tinggal di luar Rusia dan diketahui memiliki kewarganegaraan Prancis serta Uni Emirat Arab. Belum diketahui apakah Rusia telah mengirimkan permintaan resmi kepada negara lain untuk menahan atau mengekstradisinya.
Durov membantah tuduhan tersebut melalui kanal Telegram resminya. Ia menilai pemerintah Rusia kembali mencari alasan untuk membatasi akses ke Telegram sekaligus meningkatkan tekanan terhadap privasi dan kebebasan berbicara.
Telegram juga memberikan tanggapan melalui akun resminya di platform X. Perusahaan mengunggah foto Durov yang memperlihatkan gestur ofensif, tetapi tidak menyertakan penjelasan lebih lanjut mengenai tuduhan pidana yang diajukan Rusia.
Belum ada keterangan terperinci dari Telegram mengenai kanal, percakapan, maupun bot yang disebut dalam perkara tersebut. Perusahaan juga belum menjelaskan apakah sebelumnya telah menerima permintaan penghapusan konten dari otoritas Rusia terkait kasus ini.
Kasus ini memperpanjang hubungan tegang antara Durov dan pemerintah Rusia. Durov meninggalkan Rusia pada 2014 setelah berselisih dengan otoritas mengenai pengelolaan VKontakte, jejaring sosial yang ia dirikan sebelum membangun Telegram bersama saudaranya, Nikolai Durov.
Sejak saat itu, Telegram beberapa kali berhadapan dengan pemerintah Rusia terkait akses terhadap data pengguna, moderasi konten, dan permintaan untuk membuka komunikasi terenkripsi.
Rusia juga pernah membatasi akses ke Telegram sebagai bagian dari pengetatan terhadap sejumlah platform digital. Namun, layanan tersebut tetap memiliki posisi yang tidak sederhana di negara itu.
Di satu sisi, pemerintah berulang kali mengkritik Telegram dan menuntut penghapusan konten tertentu. Di sisi lain, sejumlah lembaga pemerintah dan pejabat Rusia masih menggunakan platform tersebut untuk menyampaikan pengumuman kepada publik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Telegram tetap memiliki peran penting dalam ekosistem informasi Rusia, meskipun hubungannya dengan pemerintah terus diwarnai konflik.
Langkah hukum selanjutnya terhadap Durov akan bergantung pada tindakan resmi yang diambil Rusia, respons negara tempat ia berada, serta kemungkinan keterlibatan lembaga penegak hukum internasional.
Untuk saat ini, status pencarian terhadap Durov masih berupa pengumuman dari pemerintah Rusia. Status tersebut belum dapat disamakan dengan surat penangkapan global yang otomatis berlaku di berbagai negara.
Perkara ini juga masih menyisakan sejumlah pertanyaan, termasuk bukti yang digunakan Rusia, hubungan langsung antara aktivitas pengguna Telegram dan tanggung jawab pengelola platform, serta apakah permintaan penahanan atau ekstradisi benar-benar akan diajukan.
Hingga ada penjelasan hukum yang lebih terperinci, tuduhan terhadap Durov tetap perlu ditempatkan sebagai klaim pemerintah Rusia yang telah dibantah oleh pihak Telegram.