- 8.8/10 (12 Reviews)

- 15 hari lalu
Google resmi menghadirkan Google Meet di Apple CarPlay. Pengguna kini bisa ikut meeting audio-only dari mobil dan melihat jadwal rapat langsung di dashboard.

Hedra.ID, Lampung - Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata "metaverse"? Dunia virtual yang memerlukan headset mahal dan koneksi internet super kencang? Mungkin tidak lagi.
Ya, puluhan siswa SMA Tunas Mekar Indonesia mendapat gambaran berbeda ketika mereka duduk di ruang pelatihan Pusat Unggulan Metaverse Juara Meta Teknokrat, Universitas Teknokrat Indonesia, Lampung, belum lama ini.
Kunjungan edukasi itu bukan sekadar lihat-lihat kampus. Para siswa diajak menyentuh langsung bagaimana teknologi AI bisa dipakai membuat aset tiga dimensi, tanpa perlu kemampuan coding mumpuni. Sebuah perspektif yang terasa relevan, apalagi di daerah luar Jawa yang aksesnya terhadap teknologi canggih masih timpang.
Kegiatan ini bukan kebetulan. Di belakang layar, Universitas Teknokrat Indonesia dan SMA Tunas Mekar Indonesia sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang membuka jalan bagi kolaborasi terstruktur antara kampus dan sekolah. Penandatanganan itu sendiri dibuka oleh Wakil Rector Dr. Sampurna Dadi Riskiono, S.Kom., M.Eng., beserta guru pendamping Dian Tri Diaty, S.Si., yang ikut mengawal para siswa sepanjang kegiatan.
Secara substansi, sesi inti dipandu oleh Dosen Yuri Rahmanto, S.Kom., M.Kom., Ketua Pusat Unggulan Metaverse (CoE Metaverse) Universitas Teknokrat Indonesia. Materinya bernuansa praktis: "AI for Metaverse Creation" ,sebuah pendekatan yang menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu utama dalam pembuatan aset 3D. Peserta tidak disuruh menulis kode dari nol. Mereka belajar bagaimana prompt yang tepat bisa menghasilkan objek digital yang bisa langsung digunakan.
Wakil Rector Dr. H. Mahathir Muhammad, SE., MM. hadir untuk memberikan apresiasi. Ia menekankan pentingnya langkah konkret seperti ini sebagai bagian dari upaya penguatan literasi digital di tingkat pendidikan menengah.
Beberapa pihak mungkin akan langsung menyebut kegiatan semacam ini sebagai bukti keungguluan kampus. Namun, melihat masih minimnya riset independen yang membandingkan kualitas literasi teknologi antar kampus di Lampung, klaim semacam itu sebaiknya ditahan. Yang bisa dicatat adalah fakta sederhana: sebuah institusi pendidikan memilih berbagi sumber dayanya ke sekolah, dan ada dokumen MoU yang memperkuat niat itu.
Jika ada yang perlu diapresiasi dari skenario ini, bukan semata-mata pada Universitas Teknokrat Indonesia-nya, melainkan pada model kolaborasinya. Hubungan kampus-sekolah yang diformalkan melalui MoU dan kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan nyata. Ini bisa jadi blueprint bagi institut lain di daerah untuk memperkuat pondasi literasi teknologi sejak dini.
Dalam rilis yang beredar, kegiatan ini dikaitkan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pengaitan itu tidak tanpa alasan , MoU jelas masuk kategori kemitraan, dan pelatihan teknologi masuk kategori inovasi.
Namun, menjadikan target-target itu sebagai titik jual utama artikel terasa terlalu dipaksakan. Bagi para siswa ini, yang terpenting adalah mereka benar-benar belajar sesuatu , bukan sekadar melihat SDGs ditandai sebagai tercapai.
Manfaat nyata baru terasa kalau siswa benar-benar bisa mengaplikasikan alat AI yang dipelajari ke proyek atau tugas sekolah mereka sendiri. Kalau jawabannya iya, berarti kegiatan ini layak dianggap berhasil , tanpa perlu mengutip tujuan pembangunan berkelanjutan PBB.
Apakah satu kunjungan edukasi cukup untuk membangun fondasi literasi metaverse di kalangan siswa? Jelas tidak. Apakah MoU akan ditindaklanjuti dengan program berkelanjutan atau sekadar dokumentasi seremonial? Belum ada konfirmasi. Yang jelas, langkah awal ini sudah diambil. Sisanya tergantung pada konsistensi pelaksanaan dan evaluasi terhadap hasil nyata di lapangan.
Untuk sekarang, yang bisa diamati adalah: sekelompok siswa dari Lampung kembali ke sekolah dengan pengetahuan bahwa metaverse bukan lagi konsep abstrak yang hanya dibaca di berita. Mereka sudah menyentuh alat yang digunakan untuk membuatnya. Itu, terlepas dari segala hype, adalah langkah kecil yang tidak bisa diabaikan.