
- 9 hari lalu
Ponsel lipat memperluas kemampuan smartphone, sedangkan ponsel minimalis membatasi gangguan. Bentuknya mirip, tetapi masalah yang dijawab berbeda.

Hedra.ID, Jakarta - Telkom merealisasikan belanja modal Rp10,8 triliun sepanjang semester pertama 2026. Lebih dari 96% dana itu diarahkan ke tiga area prioritas: bisnis konsumen, infrastruktur untuk pelanggan bisnis, dan bisnis internasional.
Angka tersebut kerap diringkas sebagai investasi Telkom untuk AI dan 5G. Namun, laporan perusahaan tidak menempatkan keduanya sebagai pos anggaran yang berdiri sendiri. AI dan 5G berada di atas lapisan yang lebih mendasar, mulai dari jaringan seluler, spektrum, pusat data, hingga konektivitas antarkawasan.
Karena itu, arah belanja Telkom tidak cukup dilihat dari teknologi apa yang disebut perusahaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah infrastruktur apa yang sedang diperkuat dan bagaimana aset tersebut nantinya diubah menjadi layanan yang menghasilkan pendapatan.
Pada sisi jaringan seluler, Telkomsel memperoleh tambahan spektrum 100 MHz. Alokasi itu terdiri dari 2x10 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2,6 GHz.
Kedua pita tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi. Pita 700 MHz dapat membantu memperluas jangkauan, sedangkan pita 2,6 GHz menyediakan kapasitas lebih besar untuk menghadapi pertumbuhan trafik data dan pengembangan layanan 5G.
Namun, tambahan spektrum bukan hasil akhir. Frekuensi baru perlu dihubungkan dengan perangkat jaringan, konektivitas pengangkut data, kesiapan teknis, dan layanan yang benar-benar digunakan pelanggan.
VP Technology Strategy & Consumer Product Development Telkomsel Ronald Limoa mengatakan, “Alokasi spektrum ini bukan sekadar tambahan sumber daya jaringan, melainkan amanah untuk terus menghadirkan pengalaman digital yang lebih baik.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan jarak antara memperoleh spektrum dan memonetisasinya. Nilai bisnis baru terbentuk ketika tambahan kapasitas dapat memperbaiki kualitas layanan, menampung konsumsi data, atau mendukung kebutuhan perusahaan yang membutuhkan koneksi lebih stabil.
AI memiliki susunan kebutuhan yang berbeda, tetapi tetap bergantung pada fondasi fisik. Model dan aplikasi AI memerlukan tempat untuk memproses serta menyimpan data, jaringan untuk memindahkan informasi, dan konektivitas yang menghubungkan pusat data dengan pengguna maupun perusahaan.
Dalam laporan semester pertamanya, Telkom menempatkan penguatan kapabilitas AI berdekatan dengan bisnis pusat data, layanan teknologi informasi, jaringan konsumen, dan konektivitas internasional.
Telkom juga sedang mengonsolidasikan aset pusat data TelkomGroup di bawah NeutraDC. Langkah ini diarahkan untuk memusatkan pengelolaan aset, memperluas layanan, dan membuka ruang monetisasi melalui mitra strategis.
Pada bisnis internasional, perusahaan menyebut permintaan kapasitas kabel bawah laut ikut meningkat karena kebutuhan perusahaan teknologi dalam mendukung adopsi AI. Artinya, peluang AI bagi operator telekomunikasi tidak hanya muncul dari aplikasi yang terlihat langsung oleh pengguna. Peluang itu juga berada pada penyewaan kapasitas komputasi, penyimpanan data, dan konektivitas yang menopang aplikasi tersebut.
Seperti dikutip Hedra.ID dari Katadata, Selasa (4/8/2026), Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, “Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini.”
Kutipan itu merangkum posisi yang sedang dibangun Telkom: perusahaan tidak hanya ingin menjual koneksi, tetapi juga menempatkan aset jaringannya sebagai fondasi bagi layanan digital yang lebih luas.
Arah investasi tersebut hadir ketika beberapa segmen utama Telkom mencatat pertumbuhan. Pendapatan bisnis konsumen mencapai Rp55,6 triliun, dengan pendapatan Digital Business Data tumbuh 11% secara tahunan. Pendapatan segmen B2B Infrastructure tumbuh 19% menjadi Rp33,1 triliun.
Angka itu penting karena menunjukkan bahwa belanja modal tidak sepenuhnya diarahkan pada teknologi yang masih mencari pasar. Sebagian besar capex menopang bisnis yang sudah berjalan, seperti jaringan seluler, menara, pusat data, layanan teknologi informasi, dan konektivitas internasional.
AI dan 5G kemudian menjadi lapisan baru yang dapat memperluas penggunaan aset tersebut. Jaringan yang lebih kuat dapat mendukung konsumsi data lebih besar. Pusat data dapat menampung kebutuhan komputasi baru. Kabel bawah laut dapat melayani perpindahan data antarpasar.
Meski demikian, pertumbuhan segmen belum membuktikan besarnya kontribusi AI atau 5G. Laporan Telkom tidak memisahkan pendapatan dan belanja modal khusus untuk kedua teknologi tersebut. Kenaikan pendapatan juga dapat dipengaruhi oleh harga, konsumsi data, komposisi pelanggan, atau perubahan portofolio bisnis.
Belanja modal Rp10,8 triliun menunjukkan luasnya fondasi yang sedang diperkuat Telkom. Pada sisi jaringan, perusahaan menambah ruang bagi kapasitas dan perluasan layanan. Pada sisi komputasi, Telkom memperkuat pusat data serta konektivitas yang dibutuhkan layanan digital dan AI.
Namun, besarnya capex tidak dengan sendirinya menunjukkan keberhasilan strategi. Hasilnya baru dapat dinilai melalui pemanfaatan spektrum, penggunaan kapasitas pusat data, pertumbuhan pendapatan eksternal infrastruktur, dan kemampuan layanan baru menghasilkan nilai secara berkelanjutan.
Laporan semester pertama 2026 sudah memperlihatkan arah investasinya. Telkom sedang membangun lapisan tempat AI dan 5G dapat bekerja, tetapi kontribusi bisnis masing-masing teknologi masih memerlukan rincian dan data lanjutan.