
- 11 hari lalu
XPeng menarik kembali 33.473 unit X9 di China karena pegas udara depan berpotensi bocor setelah lama digunakan dalam kondisi panas dan lembap.

Hedra.ID, Jakarta - Ketika pemerintah melelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, angka yang lebih besar mudah dianggap sebagai tanda teknologi yang lebih unggul. Pita 2,6 GHz pun bisa terlihat lebih canggih daripada 700 MHz hanya karena angkanya lebih tinggi.
Padahal, jaringan seluler tidak bekerja dengan logika seperti itu. Setiap pita frekuensi memiliki karakter dan fungsi berbeda. Pita yang lebih rendah umumnya membantu memperluas cakupan, sedangkan pita yang lebih tinggi dapat menyediakan ruang lebih besar untuk menampung trafik di kawasan ramai.
Artinya, 700 MHz dan 2,6 GHz bukan dua pilihan yang saling menggantikan. Keduanya menjawab masalah berbeda dan justru lebih berguna ketika dipakai untuk saling melengkapi.
Pita 700 MHz termasuk kelompok low-band atau frekuensi rendah. Komdigi menggambarkan kelompok ini sebagai pita yang optimal untuk cakupan serta penetrasi sinyal ke dalam bangunan.
Karakter tersebut membuat 700 MHz berguna saat operator ingin menjangkau wilayah yang lebih luas dari satu lokasi pemancar. Sinyalnya juga lebih cocok untuk membantu layanan tetap tersedia di balik dinding atau bagian bangunan yang lebih sulit dijangkau oleh pita lebih tinggi.
Fungsi ini penting dalam upaya memperluas jaringan. Dalam seleksi 2026, pemerintah menawarkan total lebar pita 70 MHz pada frekuensi 700 MHz. Pemenang seleksi juga menerima kewajiban menyediakan layanan minimal 4G di desa dan kelurahan yang telah ditentukan pemerintah.
Namun, jangkauan luas tidak otomatis menyelesaikan seluruh kebutuhan jaringan. Ketika banyak orang berada di area yang sama dan memakai layanan secara bersamaan, operator juga membutuhkan kapasitas yang cukup besar. Di sinilah pita 2,6 GHz menjalankan peran yang berbeda.
Pita 2,6 GHz termasuk kelompok mid-band. Dalam dokumen Komdigi, pita menengah ditempatkan sebagai perpaduan antara cakupan dan kapasitas. Peraturan mengenai 2,6 GHz juga menyebut penggunaannya ditujukan untuk meningkatkan kecepatan akses internet bergerak.
Pada seleksi 2026, total pita yang ditawarkan di 2,6 GHz mencapai 190 MHz, jauh lebih lebar daripada alokasi 700 MHz. Lebar pita tersebut memberi operator lebih banyak ruang untuk mengalirkan data dan melayani kebutuhan jaringan secara bersamaan.
Perbedaannya dapat dibayangkan melalui dua jenis jalan. Pita 700 MHz menyerupai jalan yang dapat mencapai kawasan lebih jauh. Sementara itu, pita 2,6 GHz lebih mirip jalan lebar yang mampu menampung arus lebih padat, meski jangkauan efektifnya tidak sama dengan pita rendah.
Perumpamaan ini tidak berarti 700 MHz hanya cocok untuk daerah terpencil atau 2,6 GHz hanya dipakai di kota. Operator dapat memanfaatkan keduanya dalam jaringan yang sama. Sebuah perangkat bisa memperoleh cakupan dasar dari pita rendah, kemudian memakai pita berkapasitas lebih besar ketika jaringan dan perangkat mendukungnya.
Karena itu, pembagian spektrum tidak cukup dibaca dari siapa yang memperoleh jumlah pita paling banyak. Alokasi besar di 700 MHz memberi operator sumber daya yang kuat untuk memperluas cakupan. Adapun alokasi besar di 2,6 GHz lebih berkaitan dengan kemampuan menambah kapasitas dan menopang layanan di lokasi dengan kebutuhan data tinggi.
Komdigi menetapkan XLSmart, Telkomsel, dan Indosat sebagai pemenang pada kedua pita dengan pembagian lebar spektrum yang berbeda. Penetapan itu memberi operator sumber daya tambahan, tetapi belum berarti perubahan layanan langsung selesai dan dirasakan pengguna.
Pemenang seleksi diberi waktu paling lama lima tahun untuk memenuhi kewajiban pembangunan. Kewajiban itu mencakup penyediaan layanan minimal 4G pada desa atau kelurahan yang dipilih dari 538 lokasi, serta layanan 5G dengan target sedikitnya 51 persen cakupan populasi nasional.
Istilah cakupan populasi memang perlu dimaknai dengan kehati-hatian. Target 51% populasi bukan berarti jaringan mencakup 51% luas daratan Indonesia. Operator dapat menjangkau sebagian besar populasi dengan memprioritaskan wilayah padat penduduk, sementara cakupan geografisnya tetap lebih kecil.
Dengan demikian, keberhasilan lelang tidak cukup dinilai dari total spektrum atau nilai penawaran. Hasilnya baru dapat dilihat dari pelaksanaan pembangunan, perluasan cakupan, penambahan kapasitas, dan kualitas layanan yang akhirnya diterima pengguna.
Pegangan paling sederhananya adalah ini: 700 MHz membantu jaringan mencapai lebih banyak tempat, sedangkan 2,6 GHz membantu jaringan melayani lebih banyak trafik. Jaringan seluler membutuhkan keduanya karena sinyal yang luas tanpa kapasitas dapat menjadi padat, sementara kapasitas besar tanpa cakupan tidak akan menjangkau cukup banyak pengguna.