
- 7 hari lalu
Oracle dilaporkan melakukan PHK ribuan karyawan saat masih mengajukan ribuan visa kerja H-1B. Langkah ini memicu kritik dan sorotan di industri teknologi.

Hedra.ID, Banten - Kolaborasi antara BINAR, Microsoft Indonesia, dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) resmi menghadirkan GARUDA AI Regional Summit I di Auditorium Harry Jusuf, Universitas Prasetiya Mulya, Banten. Forum yang digelar Kamis (9/4/2026) ini ini bukan sekadar ajang diskusi, melainkan menjadi momentum penting dalam mendorong kesiapan tenaga kerja berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Summit ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pemerintah Provinsi Banten, hingga Universitas Prasetiya Mulya sebagai mitra akademik. Acara yang digelar secara hybrid ini juga merupakan bagian dari program Microsoft Elevate, inisiatif nasional untuk meningkatkan keterampilan AI secara terstruktur dan berbasis sertifikasi.
Menurut Arief Suseno, AI Skill Director Microsoft Indonesia, fokus utama dari summit ini adalah untuk memastikan talenta Indonesia tidak hanya memahami AI secara teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam dunia kerja, terutama di sektor pemerintahan.
“AI harus menjadi alat untuk memberdayakan manusia, bukan menggantikannya,” ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima Hedra.ID, Senin (13/4/2026).
Bisa dibilang pendekatan ini relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Berdasarkan berbagai laporan industri, kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan digital, di mana termasuk AI, diperkirakan terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di sektor publik dan swasta.
Salah satu sorotan utama dalam summit ini adalah dorongan agar pelatihan AI tidak berhenti di level teori. Dr. Rizal Edwin Manansang dari Dewan Nasional KEK menekankan pentingnya integrasi AI langsung ke dalam standar operasional kerja (SOP) ASN.
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,39% (YoY) pada kuartal IV 2025, kebutuhan akan tenaga kerja yang adaptif menjadi semakin krusial. Hal ini sejalan dengan proyeksi global dari World Economic Forum yang menyebutkan bahwa profesi berbasis AI dan machine learning akan menjadi salah satu yang paling berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Banten sendiri mencatat pertumbuhan ekonomi 5,37%, tertinggi sejak pandemi, didorong oleh sektor investasi dan perdagangan. Namun, tantangan ke depan dinilai semakin kompleks, terutama dalam menghadapi disrupsi teknologi.
Di sisi lain, dunia pendidikan juga mendapat sorotan. Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Hassan Wirajuda, menilai bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN lain dalam hal adopsi AI.
Menurutnya, untuk mengejar ketertinggalan tersebut, diperlukan penguatan di beberapa aspek, yakni pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), pengembangan talenta digital, dan dukungan terhadap UMKM sebagai penggerak ekonomi digital
Sebagai catatan, Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM yang berkontribusi besar terhadap PDB nasional. Integrasi AI dalam sektor ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan daya saing secara signifikan.
Bagian paling menarik dari GARUDA AI Summit ini adalah sesi panel interaktif yang menantang ASN Banten untuk merancang solusi berbasis AI secara langsung.
Peserta diminta melalui tiga tahap utama:
Hasilnya bukan sekadar wacana, tetapi berupa rancangan kebijakan konkret, mulai dari blueprint tata kelola data hingga pilot project AI di tingkat daerah.
Seluruh hasil diskusi dirangkum dalam dokumen Draft Regional Policy Recommendations on AI-Enabled Job Readiness and Workforce Development. Dokumen ini akan dibawa ke AI National Summit di Jakarta pada Juni 2026.
Inilah yang membuat GARUDA AI Summit berbeda: bukan hanya forum diskusi, tetapi juga mekanisme nyata dalam merumuskan kebijakan berbasis kebutuhan daerah.
Program GARUDA AI sendiri telah menunjukkan progres signifikan sejak diluncurkan pada Oktober 2025. Hingga kini ada lebih dari 100.000 ASN telah dilatih mencakup 30 provinsi dan 100 instansi pemerintah dan menghasilkan 800+ ide inovasi AI. Bahkan, target ke depan pun tidak main-main: mencetak 145.000 ASN terlatih dan 5.000 AI Policy Makers tersertifikasi.
Setelah Banten, rangkaian summit akan berlanjut ke empat kota besar lainnya sebelum mencapai puncaknya di Jakarta. Ambisi akhirnya jelas menjadikan Indonesia sebagai pusat talenta digital di kawasan ASEAN.