
- 22 hari lalu
Samsung resmi memperluas fitur Galaxy AI ke perangkat generasi sebelumnya melalui pembaruan One UI 8.5.

Hedra.ID, Jakarta - BRICS Industrial Innovation Contest 2026 resmi dibuka pada 7 Mei 2026 lalu, menjadi wujud konkret “Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru antara Indonesia dan China”. Kompetisi ini menghimpun inovator dari berbagai sektor yang bertanding di empat bidang utama: kecerdasan buatan, industri hijau, teknologi rendah emisi karbon, dan elektronika energi.
Hampir 100 proyek diajukan dari Indonesia, dan 52 tim unggulan berhasil menembus seleksi untuk menjalani presentasi langsung. Angka ini mencerminkan antusiasme tinggi dari innovator tanah air, sekaligus menunjukkan ketatnya proses penyaringan yang diterapkan penyelenggara.
Keunikan kompetisi ini terletak pada hadiah utamanya: tiket menuju babak final global di Xiamen, China. Bagi tim Indonesia yang lolos, kesempatan ini berarti paparan langsung di hadapan investor dan mitra potensial internasional, suatu akses yang selama ini masih sulit dijangkau oleh startup dan innovator tanah air.
Babak final global umumnya mempertemukan inovasi dari berbagai negara BRICS dan mitranya. Dengan demikian, innovator Indonesia akan bersaing langsung dengan talenta dari negara-negara dengan ekosistem inovasi yang lebih matang. Ini tantangan berat, tapi sekaligus momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kapabilitas yang jarang terekspos di kancah global.
Kompetisi ini juga mencerminkan dinamika menarik di tengah rivalitas teknologi AS-China yang kini memuncak. BRICS menawarkan jalur alternatif bagi negara-negara berkembang untuk mengakses teknologi, investasi, dan pasar tanpa harus melewati struktur yang selama ini didominasi negara-negara Barat.
Apabila track kecerdasan buatan dan industri hijau mampu menghasilkan kerja sama bisnis nyata antara innovator Indonesia dan China, langkah ini bakal sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan modernisasi industri dan transformasi digital. Bagi inovator dan startup Indonesia, kompetisi ini layak dicermati karena berpotensi membuka akses yang selama ini masih terbatas bagi pemain dari kawasan Asia Tenggara.
Dengan 52 tim yang telah lolos tahap presentasi, tahapan berikutnya akan menentukan siapa yang mewakili Indonesia di Xiamen. Melihat track record kompetisi BRICS sebelumnya, proyek-proyek yang menembus babak final umumnya telah melewati evaluasi ketat dari juri internasional.
Artinya, tim yang berangkat ke China harus mampu bersaing dengan standar globa, bukan sekadar mewakili Indonesia, tapi benar-benar siap berlomba dengan kompetitor dari negara-negara besar.
Bagi ekosistem inovasi Indonesia secara keseluruhan, kompetisi ini juga berfungsi sebagai barometer kesiapan talenta tanah air untuk bersaing di kancah yang lebih luas. Jawabannya akan terungkap di Xiamen nanti.