- 8.8/10 (12 Reviews)

- 16 hari lalu
Samsung meluncurkan Certified Re-Newed di India, program HP refurbished resmi dengan garansi satu tahun, suku cadang asli, dan pembaruan software.

Hedra.ID, Washington - NASA tampaknya belum ingin menurunkan tempo setelah keberhasilan misi Artemis II. Badan antariksa Amerika Serikat itu kini menyiapkan hingga tiga misi Bulan tambahan sebelum akhir 2026, dengan fokus utama pada pengiriman muatan ilmiah, pengujian pendarat, serta demonstrasi teknologi rover yang kelak dibutuhkan untuk membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan di permukaan Bulan.
Seperti dilansir Endgadget, Selasa (27/5/2026), rangkaian misi ini menjadi bagian dari inisiatif Moon Base, program jangka panjang NASA untuk membangun infrastruktur awal di kawasan Kutub Selatan Bulan. Wilayah ini dianggap strategis karena berpotensi menyimpan es air di area kawah yang selalu gelap, sekaligus menjadi lokasi penting untuk riset, logistik, dan persiapan misi manusia ke Mars.
Misi pertama, Moon Base I, ditargetkan meluncur paling cepat pada musim gugur 2026. Misi ini akan menggunakan pendarat Blue Moon Mark 1 Endurance milik Blue Origin untuk mengirimkan muatan NASA ke kawasan Shackleton Connecting Ridge. Salah satu instrumen yang dibawa akan mempelajari bagaimana semburan mesin pendarat berinteraksi dengan permukaan Bulan, sebuah faktor penting agar pendaratan astronaut di masa depan bisa berlangsung lebih aman.
Setelah itu, NASA juga menyiapkan Moon Base II. Misi ini akan memakai pendarat Griffin dari Astrobotic untuk membawa lebih dari 1.100 pon kargo, termasuk rover FLIP buatan Astrolab. Rover tersebut akan menjadi salah satu perangkat uji untuk memahami bagaimana kendaraan Bulan dapat bergerak, membawa perlengkapan, dan membantu aktivitas astronaut di medan ekstrem.
Misi ketiga, Moon Base III, akan menggunakan pendarat Nova-C Trinity dari Intuitive Machines. Fokus utamanya adalah mempelajari lunar swirls, pola terang misterius di permukaan Bulan yang masih menjadi objek riset para ilmuwan. Misi ini juga akan membawa muatan dari European Space Agency dan Korea Astronomy and Space Science Institute, menunjukkan bahwa eksplorasi Bulan kini semakin bersifat kolaboratif lintas negara.
Langkah NASA ini bukan hanya soal mengulang kejayaan Apollo. Bedanya, Artemis dan Moon Base dirancang sebagai fondasi untuk tinggal lebih lama, bekerja lebih jauh, dan membangun ekosistem teknologi di Bulan.
NASA juga sudah menyiapkan kontrak besar untuk mendukung mobilitas di permukaan Bulan. Astrolab mendapat kontrak senilai 219 juta dolar AS, sementara Lunar Outpost mendapatkan 220 juta dolar AS untuk pengembangan kendaraan Lunar Terrain Vehicle. Blue Origin juga memperoleh kontrak 188 juta dolar AS untuk membantu pengiriman sistem tersebut ke Bulan.
Momentum ini datang setelah Artemis II berhasil membawa empat astronaut mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi pada April 2026. NASA mencatat misi tersebut berlangsung hampir 10 hari dan menjadi penerbangan berawak pertama ke sekitar Bulan dalam lebih dari setengah abad.
Misi-misi baru NASA ini memperlihatkan perubahan besar dalam eksplorasi antariksa. Bulan tidak lagi dilihat hanya sebagai tujuan prestisius, melainkan sebagai laboratorium untuk menguji teknologi yang kelak dipakai di Mars dan misi luar angkasa yang lebih jauh.
Jika berjalan sesuai rencana, 2026 bisa menjadi salah satu tahun paling penting bagi eksplorasi Bulan modern. NASA tidak hanya mengirim alat ke permukaan Bulan, tetapi juga sedang membangun cetak biru untuk masa depan: pangkalan lunar, kendaraan penjelajah, sistem logistik, dan kerja sama komersial yang makin kuat antara badan antariksa dan perusahaan swasta.