- 8.8/10 (12 Reviews)

- 7 hari lalu
Pelaku deepfake scam kini bisa meniru wajah, suara, dan identitas seseorang untuk membangun kepercayaan korban lewat pesan, telepon, hingga video call palsu.

Hedra.ID, Jakarta - Seleksi pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz bukan sekadar menentukan berapa besar spektrum yang diperoleh Telkomsel, Indosat, dan XLSMART. Hasilnya juga membentuk dua lapisan jaringan seluler dengan fungsi berbeda: memperluas jangkauan dan menambah kapasitas.
Dalam hasil seleksi, XLSMART menempati peringkat pertama untuk pita 700 MHz dengan alokasi 30 MHz atau 2x15 MHz. Telkomsel dan Indosat masing-masing memperoleh 20 MHz atau 2x10 MHz.
Susunannya berubah pada pita 2,6 GHz. Telkomsel mendapat alokasi terbesar sebesar 80 MHz, disusul Indosat dengan 60 MHz dan XLSMART dengan 50 MHz.
Perbedaan tersebut penting karena kedua pita tidak menyelesaikan masalah jaringan yang sama. Pita 700 MHz lebih cocok untuk membawa sinyal ke wilayah yang lebih luas, sedangkan 2,6 GHz menyediakan ruang lebih besar untuk menampung trafik data yang padat.
Pita 700 MHz termasuk spektrum frekuensi rendah. Karakteristiknya memungkinkan sinyal menjangkau area lebih luas dan menembus hambatan fisik, seperti bangunan, dengan lebih baik dibandingkan pita yang lebih tinggi.
Karena itu, 700 MHz dapat berfungsi sebagai lapisan jangkauan. Operator bisa memanfaatkannya untuk memperluas layanan mobile broadband, termasuk ke wilayah yang lebih sulit dijangkau oleh jaringan yang membutuhkan pembangunan menara lebih rapat.
Di kawasan perkotaan, manfaatnya bukan hanya soal luas cakupan. Kemampuan penetrasi sinyal juga dapat membantu memperkuat layanan di dalam bangunan atau lokasi yang sulit dijangkau pita frekuensi lebih tinggi.
Alokasi 700 MHz terbesar memberi XLSMART ruang spektrum lebih lebar pada lapisan jangkauan dibandingkan dua peserta lainnya. Namun, hasil seleksi belum menjelaskan bagaimana perusahaan akan menentukan wilayah pembangunan, membagi investasi, atau menggabungkan pita tersebut dengan jaringan yang sudah beroperasi.
Pita 2,6 GHz bekerja dengan karakter berbeda. Sebagai spektrum mid-band, pita ini dapat menyediakan kanal lebih lebar untuk mengalirkan data dalam jumlah besar.
Fungsinya lebih dekat dengan lapisan kapasitas. Pita ini relevan untuk wilayah dengan jumlah pengguna dan konsumsi data tinggi, seperti kawasan perkotaan, pusat bisnis, area komersial, atau lokasi yang kerap mengalami kepadatan trafik.
Telkomsel memperoleh alokasi terbesar di pita ini dengan 80 MHz. Indosat mendapat 60 MHz, sedangkan XLSMART memperoleh 50 MHz.
Spektrum yang lebih lebar memberi operator ruang tambahan untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Meski demikian, kapasitas di atas kertas tidak langsung menjadi kecepatan yang diterima pengguna. Spektrum tetap harus diaktifkan, didukung infrastruktur, dan dipadukan dengan jaringan yang tersedia di setiap lokasi.
Pembangunan jaringan tidak cukup hanya memilih antara cakupan luas dan kapasitas besar. Jaringan yang menjangkau banyak wilayah dapat tetap mengalami kepadatan ketika terlalu banyak pengguna mengakses layanan pada waktu bersamaan.
Sebaliknya, pita dengan kapasitas besar tidak selalu efisien untuk melayani wilayah yang luas. Jangkauannya lebih terbatas sehingga membutuhkan penyebaran infrastruktur yang lebih rapat.
Di sinilah 700 MHz dan 2,6 GHz saling melengkapi. Pita rendah membawa sinyal lebih jauh, sementara pita menengah menyediakan ruang lebih besar bagi lalu lintas data.
Kombinasi tersebut juga membuat hasil seleksi tidak cukup dinilai dari nilai penawaran atau lebar blok semata. Besarnya penawaran menunjukkan nilai yang diberikan peserta terhadap spektrum yang diperebutkan, tetapi belum menggambarkan kualitas jaringan yang nantinya diterima pengguna.
Dokumen seleksi mengaitkan pemberian spektrum dengan kewajiban pembangunan jaringan. Dalam waktu paling lama lima tahun, pemenang harus menyediakan layanan mobile broadband minimal 4G pada desa atau kelurahan yang dipilih dari 538 wilayah yang telah ditentukan Komdigi.
Pemenang juga diwajibkan menyediakan layanan 5G di kota dan kabupaten yang dikomitmenkan, dengan target sedikitnya 51 persen cakupan populasi nasional.
Kewajiban tersebut membuat seleksi ini lebih dari sekadar transaksi hak penggunaan frekuensi. Spektrum juga dipakai sebagai instrumen kebijakan untuk mendorong perluasan dan peningkatan jaringan.
Namun, angka cakupan tidak otomatis mencerminkan kualitas pengalaman pengguna. Cakupan menunjukkan ketersediaan jaringan pada wilayah atau populasi tertentu. Kecepatan, kestabilan, kapasitas, dan konsistensi layanan tetap memerlukan pengukuran setelah jaringan beroperasi.
Karena itu, hasil seleksi baru menjadi titik awal. Ukuran berikutnya adalah seberapa cepat spektrum diaktifkan, wilayah mana yang mendapat perluasan layanan, dan apakah tambahan kapasitas benar-benar mengurangi kepadatan jaringan.
Seleksi 700 MHz dan 2,6 GHz memperlihatkan rancangan dua lapisan jaringan: satu untuk membawa konektivitas lebih jauh, satu lagi untuk menampung kebutuhan data yang lebih besar.
Dampaknya tidak akan ditentukan oleh nilai penawaran atau lebar blok saja, melainkan oleh bagaimana kedua pita tersebut dibangun, diintegrasikan, dan dioperasikan di lapangan.