- 8.8/10 (12 Reviews)

- 7 hari lalu
Kasus fitur AI Meta menunjukkan perbedaan penting antara membuat foto Instagram terlihat publik dan membiarkan konten itu dipakai sebagai referensi generatif.

Hedra.ID, India - Pembangunan pusat data AI sekilas terlihat sebagai urusan perusahaan teknologi, penyedia cloud, dan produsen chip kelas atas. Namun, perebutan komponen untuk menopang infrastruktur tersebut mulai merambat ke perangkat yang jauh lebih dekat dengan konsumen: smartphone.
Tekanan itu terlihat jelas di India. Menurut data Counterpoint Research yang dilaporkan TechCrunch, pengiriman smartphone di negara tersebut turun 10 persen secara tahunan pada April–Juni 2026. Penurunan paling tajam terjadi pada perangkat di bawah 15.000 rupee, dengan volume yang merosot 45%.
Melemahnya pasar bukan semata-mata karena konsumen kehilangan minat terhadap ponsel baru. Biaya salah satu komponen terpenting dalam smartphone, yakni memori sedang meningkat ketika produsen mengarahkan lebih banyak kapasitas ke kebutuhan server dan infrastruktur AI.
Smartphone membutuhkan LPDRAM untuk menjalankan aplikasi dan NAND Flash untuk menyimpan sistem, aplikasi, foto, serta data lainnya. Pusat data AI juga mengandalkan memori dalam jumlah besar, meski jenis dan konfigurasinya berbeda.
Akselerator AI memakai high-bandwidth memory atau HBM untuk memasok data dengan cepat ke prosesor. Server yang menjalankan berbagai beban AI juga membutuhkan DRAM dan penyimpanan berkapasitas besar.
Di sisi produksi, kapasitas fabrikasi, investasi, dan pasokan wafer tidak tak terbatas. Ketika produk untuk AI dan server menjanjikan volume serta margin yang lebih menarik, pemasok memiliki insentif ekonomi untuk memprioritaskan kategori tersebut.
TrendForce menyebut pemasok terus mengutamakan aplikasi terkait AI dalam alokasi kapasitas produksi. Dampaknya, pasokan LPDRAM untuk smartphone tetap ketat dan harga kontraknya masih menghadapi tekanan naik.
Hubungan ini bukan berarti satu chip HBM langsung menggantikan satu chip memori smartphone pada jalur produksi yang sama. Tekanannya muncul melalui keputusan yang lebih luas: kapasitas, investasi, dan sumber daya pemasok bergeser ke produk yang menawarkan pengembalian lebih tinggi.
Kenaikan biaya memori tidak berdampak sama pada semua perangkat. Produsen ponsel premium biasanya memiliki margin lebih besar, sementara konsumennya cenderung tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga.
Kondisinya berbeda pada smartphone murah. Kenaikan kecil pada satu komponen dapat menggerus sebagian besar margin perangkat. Produsen kemudian harus memilih: menaikkan harga, mengurangi kapasitas RAM atau penyimpanan, memakai komponen yang lebih murah, atau memangkas jumlah model yang dijual.
Karena itu, tekanan biaya tidak selalu muncul sebagai kenaikan harga yang seragam. Sebuah ponsel bisa tetap berada di rentang harga lama, tetapi hadir dengan RAM lebih kecil, penyimpanan lebih rendah, atau penurunan pada komponen lain.
Business Standard sebelumnya melaporkan bahwa merek smartphone di India mulai kesulitan mempertahankan perangkat pada segmen harga terendah. Konsumen yang sebelumnya dapat membeli smartphone seharga 6.000–7.000 rupee mulai terdorong ke kisaran 8.000–10.000 rupee.
Perubahan ini penting karena sekitar 60 persen pasar smartphone India berada di bawah 20.000 rupee. Ketika biaya komponen naik, sebagian besar pasar langsung berhadapan dengan batas kemampuan belanja konsumen.
Respons konsumen terhadap kenaikan harga tidak selalu berupa perpindahan ke ponsel premium. Sebagian memilih menunda pembelian, mempertahankan perangkat lama lebih lama, atau beralih ke smartphone bekas.
Counterpoint memperkirakan siklus penggantian smartphone di India memanjang dari sekitar tiga setengah tahun menjadi empat tahun. Perubahan ini menciptakan tekanan berlapis: harga naik, permintaan melemah, volume penjualan turun, lalu skala ekonomi perangkat murah semakin sulit dipertahankan.
Produsen yang bergantung pada volume besar dan margin tipis menghadapi tekanan paling berat. Model bisnis mereka membutuhkan penjualan tinggi agar biaya pengembangan, distribusi, pemasaran, dan layanan dapat dibagi ke lebih banyak unit. Ketika volume menyusut, perhitungan tersebut ikut berubah.
Meski demikian, AI bukan satu-satunya faktor. Pelemahan rupee turut meningkatkan biaya komponen impor di India. Kondisi stok, kontrak pasokan, pembiayaan konsumen, dan keputusan harga setiap merek juga menentukan seberapa besar kenaikan biaya diteruskan kepada pembeli.
TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional masih naik 13–18% pada kuartal III 2026, sedangkan NAND Flash diperkirakan naik 10-15%. Laju kenaikannya mulai melambat karena konsumen dan produsen perangkat semakin sulit menerima harga yang lebih tinggi, bukan karena tekanan pasokan telah sepenuhnya mereda.
Situasi ini memperlihatkan bahwa infrastruktur AI tidak berdiri terpisah dari pasar perangkat konsumen. Ketika keduanya bergantung pada pemasok, investasi, dan kapasitas produksi yang saling beririsan, keputusan di pusat data dapat ikut memengaruhi harga perangkat di toko.
India menjadi contoh yang kuat karena sebagian besar pasarnya berada pada rentang harga rendah. Namun, data tersebut belum cukup untuk menentukan seberapa besar kenaikan yang akan terjadi di setiap negara atau pada setiap model smartphone.
Mekanismenya sudah terlihat: ketika pemasok memori memprioritaskan kebutuhan AI dan server, produsen smartphone harus memperebutkan kapasitas yang tersisa dengan biaya lebih tinggi. Pada perangkat premium, tekanan itu mungkin masih dapat diserap. Pada smartphone murah, perubahan beberapa dolar saja dapat menentukan apakah sebuah produk tetap terjangkau, kehilangan sebagian spesifikasinya, atau tidak lagi layak diproduksi.