
- 5 hari lalu
Smart glasses Meta layak untuk penggunaan terbatas dengan persetujuan yang jelas. Risiko rekaman, pemrosesan cloud, dan privasi orang lain membuatnya kurang cocok dipakai sembarangan.

Hedra.ID, Jakarta - Begitu sebuah planet disebut mirip Bumi, berada di zona laik huni, dan memiliki atmosfer, kata “kehidupan” mudah muncul terlalu cepat. Temuan terbaru tentang LHS 1140 b memang membuat planet ini semakin menarik untuk diteliti, tetapi belum membawa astronom pada kesimpulan bahwa ada makhluk hidup di sana.
Para astronom tidak menemukan kehidupan, laut, atau permukaan yang menyerupai Bumi. Mereka mendeteksi helium yang keluar dari bagian atas atmosfer LHS 1140 b, sebuah planet berbatu yang mengorbit bintang katai merah sekitar 48 tahun cahaya dari Bumi.
Deteksi itu penting karena menunjukkan bahwa LHS 1140 b masih mempertahankan atmosfer. Namun, atmosfer baru memenuhi salah satu dari banyak kondisi yang perlu diperiksa sebelum sebuah planet dapat disebut layak huni.
Tim peneliti mengamati LHS 1140 b ketika planet itu melintas di depan bintangnya. Dalam peristiwa yang disebut transit, sebagian cahaya bintang melewati lapisan gas di sekitar planet. Unsur tertentu menyerap panjang gelombang tertentu dan meninggalkan pola yang dapat dikenali dalam spektrum cahaya.
Pengamatan pada 2024 memperlihatkan penyerapan yang sesuai dengan helium. Para peneliti menafsirkannya sebagai gas dari atmosfer bagian atas yang sedang lolos ke ruang angkasa.
Sinyal serupa tidak terlihat dalam pengamatan pada 2025. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pelepasan atmosfer dapat berubah dari waktu ke waktu, bukan berlangsung dengan tingkat yang selalu sama.
Hasil itu tidak otomatis melemahkan kesimpulan bahwa planet tersebut memiliki atmosfer. Justru, pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa atmosfer bukan lapisan yang diam. Radiasi dan aktivitas bintang dapat memanaskan gas di bagian atas, lalu mendorong sebagian material keluar.
Meski demikian, helium yang terdeteksi belum menggambarkan seluruh atmosfer LHS 1140 b. Studi tersebut berfokus pada lapisan atas, sementara molekul yang lebih berat diperkirakan tetap berada pada ketinggian yang lebih rendah.
Artinya, temuan ini belum menjawab apakah atmosfer dekat permukaan mengandung banyak air, memiliki tekanan yang mendukung air cair, atau menghasilkan suhu yang sesuai bagi kehidupan.
LHS 1140 b berada di zona laik huni bintangnya. Istilah ini sering terdengar seperti penanda bahwa sebuah planet dapat dihuni. Padahal, zona laik huni hanya menggambarkan jarak dari bintang yang memungkinkan air cair bertahan di permukaan apabila kondisi atmosfernya sesuai.
Kata yang menentukan adalah “memungkinkan”. Jarak orbit tidak menjelaskan seluruh keadaan planet. Suhu permukaan juga dipengaruhi oleh komposisi dan ketebalan atmosfer, kemampuan gas menahan panas, keberadaan awan, pantulan cahaya, serta aktivitas bintang.
Dua planet yang menerima energi bintang dalam jumlah serupa tetap dapat memiliki lingkungan yang sangat berbeda. Atmosfer tertentu bisa menjaga permukaan tetap hangat, sedangkan atmosfer lain dapat membuat planet terlalu panas, terlalu dingin, atau kehilangan sebagian besar gasnya.
Sebutan “mirip Bumi” juga perlu dimaknai sebagai perbandingan terbatas. LHS 1140 b memiliki sejumlah ciri yang membuatnya menarik, termasuk sifat berbatu, orbit yang relatif sejuk, dan kemampuan mempertahankan atmosfer. Ciri-ciri tersebut belum menjadikannya salinan Bumi.
Pengamatan sebelumnya menggunakan Teleskop Antariksa James Webb telah mempersempit beberapa kemungkinan tentang atmosfer planet ini. Analisis tersebut tidak mendukung skenario atmosfer tebal yang kaya hidrogen dan membuka kemungkinan adanya atmosfer dengan molekul lebih berat atau kandungan air yang besar.
Namun, kemungkinan bukanlah kepastian. Komposisi atmosfer, keadaan permukaan, dan keberadaan lautan masih perlu diuji melalui pengamatan berikutnya.
Untuk bergerak dari temuan atmosfer menuju bukti kehidupan, astronom membutuhkan lebih dari satu jenis gas. Mereka perlu mengetahui komposisi atmosfer, tekanan, suhu, kemungkinan keberadaan air cair, dan kestabilan lingkungan planet dalam waktu panjang.
Tahap yang lebih sulit adalah mencari biosignature, yaitu pola kimia atau fisik yang mungkin berkaitan dengan aktivitas kehidupan. Masalahnya, gas yang berhubungan dengan kehidupan di Bumi juga dapat muncul melalui proses nonbiologis.
Oksigen, misalnya, tidak selalu dapat berdiri sendiri sebagai bukti kehidupan. Cahaya bintang dapat memecah molekul air, memungkinkan hidrogen terlepas ke ruang angkasa dan meninggalkan oksigen tanpa keterlibatan organisme. Reaksi kimia lain juga dapat menghasilkan gas yang menyerupai petunjuk biologis.
Karena itu, calon biosignature harus dibaca bersama kondisi planet dan karakter bintangnya. Para peneliti perlu mencari beberapa petunjuk yang saling mendukung sekaligus menyingkirkan penjelasan geologi atau kimia yang masuk akal.
Nilai utama temuan LHS 1140 b berada pada kesimpulan yang lebih terbatas: setidaknya satu planet berbatu di zona laik huni mampu mempertahankan atmosfer selama miliaran tahun. Sebelumnya, radiasi dari bintang katai merah dikhawatirkan dapat mengikis atmosfer planet yang mengorbit relatif dekat.
Atmosfer membuat LHS 1140 b menjadi sasaran yang lebih menjanjikan untuk penelitian lanjutan. Ia menyediakan sesuatu yang dapat dianalisis lebih jauh, tetapi belum memberikan jawaban mengenai kehidupan.
Penemuan ini bukan akhir pencarian. Ia memastikan bahwa pencarian yang jauh lebih sulit kini memiliki tempat untuk dimulai.