- 8.8/10 (12 Reviews)

- 20 hari lalu
Misi Artemis II kembali mencuri perhatian publik, bukan hanya karena berhasil membawa manusia kembali terbang jauh ke sekitar Bulan

Hedra.ID, California - Anthropic memperkenalkan Mythos, model kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk keamanan siber. Dalam tujuh minggu pengujian, sistem ini berhasil mendeteksi lebih dari 2.000 kerentanan perangkat lunak yang sebelumnya tidak pernah diidentifikasi. Angka itu jauh melampaui ekspektasi banyak pihak dan mengulang perdebatan lama tentang cara industri memandang pertahanan digital.
Secara tradisional, keamanan siber lebih banyak bergantung pada model keamanan perimeter, yakni membangun semacam tembok di sekitar sistem dengan harapan ancaman bisa diblokir sebelum masuk. Model ini sudah bertahan puluhan tahun, tapi semakin banyak pihak yang mempertanyakan efektivitasnya di era serangan siber yang sudah jauh lebih canggih dari sekadar malware biasa.
Yang membedakan pendekatan Mythos adalah kemampuannya menjalankan audit keamanan secara terus-menerus. Alih-alih menunggu ada yang masuk baru kemudian terdeteksi, sistem ini memeriksa hak akses dan aliran data secara real time. Intinya, ia tidak hanya melihat siapa yang berusaha masuk, tapi juga memonitor apakah orang yang sudah di dalam masih memiliki hak yang sesuai dan tidak menyalahgunakan akses mereka.
Para ahli keamanan siber yang dimintai pendapat oleh Fortune memperingatkan bahwa era asumsi perimeter sudah cukup untuk melindungi sistem seharusnya sudah ditinggalkan. Menurut mereka, kerentanan tidak hanya datang dari luar - justru seringkali yang paling berbahaya adalah akses dari dalam, entah karena kredensial yang bocor atau kesalahan konfigurasi yang tidak terdeteksi selama bertahun-tahun.
Temuan Mythos ini memicu kekhawatiran tersendiri kalau yang menjadi target adalah infrastruktur kritis, seperti listrik, jaringan telekomunikasi, sistem perbankan, dan fasilitas energi. Kerentanan di sektor-sektor ini tidak hanya berujung pada kebocoran data, tapi bisa mengganggu layanan yang bergantung pada sistem tersebut secara langsung.
Bagi Indonesia, relevansinya terasa cukup dekat. Negara ini termasuk salah satu target terbesar serangan siber di Asia Tenggara, dengan tercatat ratusan juta kebocoran data sejak 2020. Banyak infrastruktur digital nasional - baik di perbankan, pemerintahan, maupun energi, yang masih beroperasi dengan model keamanan perimeter tradisional.
Kalau sistem seperti Mythos bisa menemukan ribuan kerentanan di lingkungan percobaan dalam hitungan minggu, pertanyaan besarnya adalah seberapa banyak kerentanan yang sebenarnya masih menganga di sistem yang sudah lama tidak diaudit secara menyeluruh.
Namun ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan. Angka 2.000 lebih kerentanan yang disebut Fortune berasal dari pengujian dalam lingkungan terkontrol selama tujuh minggu. Sebaran dan tingkat keparahan kerentanan ini bervariasi, dan tidak semuanya berdampak sama terhadap sistem produksi yang nyata.
Fortune sendiri adalah media populer yang kadang menyederhanakan isu teknis yang kompleks, di mana angka 2.000 itu belum bisa diperlakukan sebagai hitungan final tanpa konfirmasi dari laporan teknis resmi Anthropic.
Selain itu, Wireguard pernah memperingatkan soal akses tidak sah ke Mythos melalui Discord yang menjadi sebuah ironi yang cukup mencolok bagi sebuah sistem yang seharusnya memperkuat keamanan.
Saat ini, belum ada konfirmasi apakah masalah itu sudah diperbaiki atau masih menjadi perhatian saat ini. Jadi meskipun kehadirannya menjanjikan, sebaiknya dunia tidak langsung terlena sebelum ada transparansi yang lebih lengkap tentang kemampuan dan keterbatasan Mythos.